Latif’s Notes

Values worth reflecting on IT canvas

Inovasi

Inovasi merupakan hal yang lumrah terjadi. Kita tidak dapat menyangkal kehadiran pelbagai wujud inovasi yang ada. Dengan Izin Allah semata, inovasi bisa datang dari arah mana pun dan sering kali dari hal-hal yang tidak disangka-sangkakan sebelumnya. Acap kali, inovasi yang ada malah berasal dari hal-hal sederhana, hanya sedikit modifikasi dari temuan-temuan sebelumnya, tetapi berhasil digarap dengan cantik dan dipoles sedemikian rupa cerdas sehingga lebih tampak lebih sukses dari produk sebelumnya.

Kita tidak dapat sembarang memodifikasi hal yang sudah ada dalam sebuah inovasi, apalagi bila terdapat lisensi yang memayungi hal tersebut. Respek pada hal-hal sebelumnya dengan memberi kredit yang sepantasnya. Hindari peniruan membabi buta. Ibarat Anda menulis sebuah artikel, tidak elok rasanya bila terdapat salah satu kalimat yang sama persis dengan kalimat yang dimiliki oleh penulis lain dengan tidak mencantumkan kredit bagi penulis yang diplagiasi tersebut.

Kita Dianugerahi oleh Allah dengan serbaneka bekal kreativitas yang tiada habisnya. Dengan demikian, diharapkan tidak mudah didapati lagi pelbagai kasus peniruan, pembajakan, plagiasi, atau istilah senada lainnya.

Ketika mendapati inovasi-inovasi dilahirkan, masih saja dengan mudah didapati pelbagai ujaran. “Oh iya, ya, seperti itu, ya.” “Kok simpel, ya, konsepnya.” “Kok tak terpikirkan olehku, ya.” Atau, barangkali kita pernah sempat bebersit memikirkan sebuah solusi inovatif dan tidak lekas (bersegera) mengeksekusinya, tetapi mendapati orang lain telah mengeksekusinya. Amat bijak bila tiada bersit iri atau dengki sedikit pun di hati kita, bahkan cenderung mendukung, termotivasi, atau terinpirasi untuk merealisasikan inovasi-inovasi yang lain.

Memang masih jamak didapati pola pikir dari peribahasa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, tetapi alangkah elok bila rumput tetangga yang lebih hijau tersebut dijadikan motivasi dan inspirasi kita untuk tetap bekarya. Barangkali, bukan bekarya dalam hal/bidang yang sama, melainkan hal lainnya, terlebih bila diniatkan agar berfaedah bagi siapa pun.

Inovasi dalam hal-hal duniawai tidak terelakkan dan kita perlu akui keniscayaannya. Namun, hanya sebatas duniawi, dalam rangka mengisi dan mempermudah/menunjang kehidupan kita, bukan untuk berinovasi dalam beragama. Ya, kita Dilarang Allah untuk berinovasi dalam beragama Islam. Alhamdulillah, Islam sudah Disempurnakan-Nya sedemikian rupa, semua kebenaran-Nya termaktub dengan elok. Ajaran-ajaran-Nya–dan melalui kabar-kabar yang disampaikan oleh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam)–masih sangat (akan senatiasa) relevan hingga Hari Akhir. Walhamdulillah.

Momentum

“Momentum adalah hal yang tidak kekal, ‘kan? Selalu naik dan turun. Dan, jika kamu tidak menangkap momentum itu pada saat terbaiknya, kamu akan kehilangan momentum itu. Dan, kehilangan momentum adalah sesuatu yang paling buruk.”–Nadiem Makarim, CEO dan founder Go-Jek

Fenomena Startup

Perusahaan rintisan (startup) makin menjamur kekinian. Tiap-tiap startup memiliki kekhasan layanan, rupa layanan mereka amat bervariatif. Ada yang melayani hal-hal yang bersifat sederhana dari aktivitas keseharian atau kerumahtanggaan hingga ada yang melayani kalangan korporasi, baik lokal maupun multinasional, dengan serbaneka solusi enterprise yang ditawarkan.

Kehadiran startup-startup tersebut menggelitik atau menarik perhatian banyak pengamat. Ada di antara beberapa pengamat, pemerhati, atau enthusiast tersebut yang mengkhususkan bidang telaah mereka pada perkembangan startup di Indonesia, selaik DailySocial, Tech in Asia, atau para narablog perseorangan (individual) independen lainnya–yang menggemari hal serupa (barangkali selaik pengisi konten blog ini).

Read More

Hari Kiamat

Setiba di  Kota Atlas, pagi tadi, secara random, memilih salah satu kanal di aplikasi Radio Islam Indonesia di ponsel bersistem Android. Secara tidak sengaja pula, ternyata ada kajian yang disampaikan oleh Ustaz Asykari bin Jamal al-Bugisi–hafizhahullah.

Tema kajian yang beliau sampaikan seputar hari kiamat. Menyimak secara perlahan rekaman streming tersebut, sambil bersiap ke kantor, memantik perenungan kami. Astagfirullah.

Read More

Keluarga

Beberapa hari terakhir, jamak hari bertanggal merah. Secara otomatis, hampir semua instansi, baik swasta maupun negeri, mengeluarkan putusan bagi segenap warganya (baca: pegawainya) untuk berlibur. Tidak sedikit orang memanfaatkan momen hari-hari nonaktif ini dengan serbaneka aktivitas bersama anggota keluarga, salah satunya dengan berkunjung ke sanak famili, terutama kerabat atau orang tua yang biasanya tinggal cukup jauh.

Tempat tujuan yang jauh terasa dekat, bukan sebab ketersediaan gawai ponsel cerdas yang memudahkan komunikasi kita, melainkan harmoni perjalanan menuju ke rumah orang tua atau saudara. Meskipun beribu kilometer harus ditempuh, meskipun berjam-jam terimbas macet di jalan, semua ini adalah hal-hal sudah dianggap wajar dan lumrah terjadi.

Read More

Tagut

Lema tagut jamak ditulis dalam konversasi sehari-hari di tengah masyarakat kita sebagai thagut. Hal ini terjadi sebab untuk memudahkan pengucapan/pelafalan, terutama pada sisi pelafalan huruf ط (yang diserap latin internasional sebagai t (atau huruf t dengan titik bawah).

Semakin menjadi tren kekinian sebab dengan mudah kita mendapatinya, terutama pada warta-warta terkini perihal radikalisme/terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang. Katakanlah mereka benar-benar sering menggunakan istilah tagut ini, tetapi sayang jamak tidak pada tempatnya. Bahkan, dengan bermudah-mudah mereka menyatakan bahwa negeri Islam ini, Indonesia, berhukum dengan hukum tagut. Dari mana dalil mereka untuk pernyataan ini?

Read More

Page 1 of 23

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén