Menikmati Hari tanpa Berupacara

Selama ini, hingga lulus sekolah menengah atas dulu, nyaris tidak melewatkan kegiatan berupacara di sekolah, entah ketika SLTP ataupun SMA, entah dapat jatah upacara pada pagi hari atau ketika penurunan bendera di sore hari. Akan tetapi, kali ini berbeda. Aku melewati hari hanya di rumah. Berlibur dalam sehari, tiada kuliah di kampus. Daripada bengong tidak berkegiatan, mending aku pulang saja, di rumah menemani ibu dan kakak. Cukup bersantai di dalam rumah menikmati hari dengan membaca-baca atau melihat orang lalu-lalang di luar rumah menuju tanah lapang yang dekat dengan rumah.

Ada juga teman-teman di kampus yang mengikuti upacara yang diselenggarakan oleh kampus, yaitu teman-teman yang memperoleh beasiswa atau masuk tanpa melalui tahap tes UMPTN. Atau, mungkin ada sebagian teman-teman yang ikut organisasi kampus, seperti BEM atau SKI (JN UKMI). Sementara aku, di rumah saja adalah pilihan tepat. Masih banyak buku-buku dan majalah yang belum kubaca. Buku-buku yang kusukai, seperti buku-buku yang berbau komputer. Banyak buku-buku komputer adalah pinjaman dari kakak sepupu. Kalau majalah, tidak terlalu banyak, mungkin tabloid Komputek yang membahas berbagai hal tentang komputer, kadang kubeli kadang kupinjam kakak sepupu (yang lain). Majalah-majalah yang kusuka pada beberapa waktu terakhir adalah majalah-majalah Islam. Terutama majalah Islam yang banyak membahas tentang sunnah-sunnah atau fiqih-fiqih. Selain komputer, belajar segala hal tentang agama mulia Islam adalah hal yang aku suka.

Kalau mengingat ketika sekolah dulu, banyak fitnah yang telah terjadi jika berhubungan dengan Islam. Kasus bom di Bali menyebabkan khalayak ramai cemas dengan keberadaan kajian-kajian Islam. Padahal, tidak semua kajian Islam mengajarkan kekerasan, mereka murni mengajarkan ajaran Islam yang sahih, bukan tentang kekerasan, bukan tentang memberontak kepada negara yang telah sah dan telah lama berdiri yang disebut Indonesia. Ngeri juga jika mendapati beberapa orang yang mengaku Islam, tetapi ia berjalan dengan apa yang disebut dengan organisasi N11. Aku tidak tahu apa bedanya dengan organisasi lainnya. Yang jelas organisasi ini membahas sedikit-sedikit thagut-thagut. Yang jelas mereka malah kelihatannya mendukung pemboman beberapa tahun lalu itu, ketika aku masih SMA (dan aku bersama beberapa teman Rohis memutuskan untuk tidak ikut berdarma wisata ke Bali setelah ada kejadian mengerikan itu). Aku tidak tahu mengapa melakukan pemboman itu, padahal melukai banyak orang yang tidak tahu-menahu, bahkan tidak tahu-menahu tentang Islam sama sekali dan tidak berdosa mungkin. Apa yang mereka lakukan itu malah membuat perpecahan semakin menjadi-jadi di tubuh ummat Islam.

Jangan sedikit-sedikit jihad-jihad, tetapi malah melanggar beberapa hal penting dari agama Islam tercinta. Bisa saja cara wudu saja tidak tahu sama sekali, tetapi malah ikut-ikutan jihad-jihad. Sangat mengerikan. Lebih baik memperbaiki diri terlebih dahulu.

Tanggal 17 Agustus lebih baik di rumah membaca buku-buku atau majalah-majalah Islam. Lebih baik kita lebih memperbanyak belajar Islam yang baik dan benar. Jangan sampai kita ikut-ikutan atau taqlid dan tidak tahu apa yang telah dilakukan atau diperbuat. Berbuat atau beribadah harus ada dalil yang menguatkan, bukan asal ikut-ikutan. Semoga Allah senantiasa Memberikan Ilmu-Nya kepada kita. Amin.