Bermedia Massa?

Saya cukup terkejut mendapati pertanyaan seperti judul post ini. Jamak orang berpinta agar menulis di media massa, dengan pelbagai keuntungan yang diperoleh bila mengirim tulisan ke media massa.

Menurut saya pribadi, menulis adalah kegiatan berbagi faedah. Berbagi faedah yang dimaksud adalah dalam bentuk tulis. Media yang digunakan pun dapat bermacam-macam. Tidak hanya media massa, seperti surat kabar atau majalah, sebuah blog pun dapat dimanfaatkan untuk menulis.

Ada beberapa manfaat jika kita mengirim tulisan ke media massa, ada tantangannya tersendiri. Tidak semua tulisan yang kita kirim ke media massa akan diterbitkan oleh media tersebut. Jika tulisan kita layak dan redaksi media massa tersebut berkenan menerbitkan/menayangkan tulisan kita. Sayangnya, tidak mudah. Manfaat menulis di media massa mungkin seperti di bawah ini.

  • Terbaca: tulisan kita benar-benar dibaca orang, ada pembaca sasaran dari media massa tersebut. Kalau sampai dimuat, tidak dimungkiri bahwa hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi sebagian kalangan, apalagi mahasiswa seperti kita.
  • Fee: bukan rahasia umum lagi, jika tulisan kita diterbitkan di media massa, kita akan peroleh apresiasi berupa uang, baik dikirim melalui wesel maupun dikirim melalui transfer bank, atau bahkan kita diminta langsung datang ke kantor media tersebut. Lumayan, bukan, jika peroleh fulus, bisa untuk jajan, he he he.
  • Bonus nilai: ada beberapa dosen biasanya akan mengapresiasi tulisan kita yang dimuat di media massa dengan tambahan nilai. Bukan jaminan kita akan peroleh nilai A, setidaknya, jika kita melaporkan atau menunjukkan tulisan kita di media massa kepada salah seorang dosen, apalagi dosen yang amat meminati bidang jurnalistik, beliau akan mengapresiasi dan mengetahui bahwa salah satu mahasiswa beliau pernah menulis di media massa.

Tidak harus tulisan esai atau opini yang dikirim, bisa juga tulisan bernada karangan narasi yang ringan-ringan seperti cerita pendek, bisa juga berkirim puisi. Saya pribadi tidak menyarankan untuk mengirimkan cerita khayalan (dibuat-buat). Lebih baik jika kita menuliskan cerita dari kisah-kisah nyata. Masih banyak kisah nyata yang patut untuk kita share-kan kepada yang lain, mungkin akan ada sebagian pembaca yang dapat pelajaran atau hikmahnya. Akan tetapi, di balik plus-plus di atas, ada beberapa hal yang patut kita cermati dari media massa.

  • Idealisme: kita tidak dengan mudah menyalurkan idealisme kita, apalagi jika media massa tersebut cenderung membahas permasalahan politik, yang tidak setiap kita paham betul. Tentu saja, masing-masing media massa juga memiliki idealisme, baik lokal maupun nasional. Istilah lain untuk mewakili idealisme mereka mungkin seperti visi dan misi, ya mereka juga memilikinya. Oleh karena itu, lebih baik kita tetap menyasar dengan baik media massa mana yang kita tuju, apakah sejalan dengan prinsip kita atau tidak. Jika tidak sejalan, jangan memaksa diri untuk mengirimkan tulisan kepada mereka, jangan hanya berharap yang penting dimuat. Jangan menjatuhkan harga diri. Saling menghargai idealisme masing-masing.
  • Belum tentu: banyak hal tentang belum tentu ini. Dari belum tentu diterima, belum tentu diterbitkan, belum tentu segala apa yang kita tulis telah beterima dengan code of conduct perusahaan media massa tersebut. Belum tentu pula diterbitkan sesuai dengan waktu yang kita inginkan.

Cukup sekian dari saya tentang perbincangan media massa ini. Sila menulis, dan tidak harus dimediamassakan, tidak mesti dimuat. Hakikat menulis adalah memulai perbincangan, lebih baik kita niatkan perbincangan tersebut dengan tujuan menulis yang paling utama, yaitu berbagi. Berbagi hal-hal yang berfaedah tentu lebih baik dan lebih dianjurkan.

Mari tetap menulis yang baik-baik, mari tetap berbagi yang baik-baik!