Latif Anshori Kurniawan

Arah Analisis Kesalahan Berbahasa

Diterbitkan pada dalam Blog. Tags: .

Beberapa mata kuliah yang membahas aspek kebahasaan atau analisis bahasa, terutama bahasa Indonesia, amat menyenangkan. Perlu kita tanamkan di dalam benak kita bahwa analisis yang dimaksud bukan berati kita sekadar menyalahkan atau menunjukkan penggunaan tuturan yang keliru atau bahkan salah kaprah, melainkan pula bagaimana kita dapat menjelaskan mengapa hal itu dapat terjadi.

Sebagai permisalan, kita mendapati banyak orang menggunakan kosakata sekedar, padahal yang dibakukan adalah sekadar. Sebagai peneliti bahasa, kita tidak dapat terburu-buru atau serta-merta mengkritik bahwa sekedar itu tidak benar dan yang benar adalah sekadar. Perlu dibidik dari banyak sisi.

Sisi yang dibidik pun bisa bermacam-macam. Hal ini bergantung pada kebutuhan kita. Mengapa kesalahan itu dapat terjadi? Apa saja yang melatarbelakanginya? Bagaimana konteks tuturan untuk diksi sekedar itu? Bahkan, bisa pula akan muncul pertanyaan: bagaimana batasannya sehingga kita tidak perlu mempermasalahkannya?

Seperti halnya kehidupan, semua hal memerlukan pertimbangan. Bisa jadi kesalahan yang ada adalah bukan kesalahan karena ini dan itu. Mungkin ada banyak temuan, baik dalam khazanah teoretis maupun praktik di lapangan, menyampaikan bermacam-macam, tidak selalu bernada menyalahkan.

Temuan dari para pengguna internet dapat digunakan. Data dari para ahli (di dalam buku mereka, bisa pula dari pendapat mereka di seminar atau lokakarya, dan lainnya), data dari media online tepercaya seperti Wikipedia atau sumber lainnya. Banyak sekali.

Apapun sudut pandang yang digunakan, apa saja yang akan dianalisis, mudah untuk dilakukan–insya Allah. Yang penting, kita berupaya mengumpulkan sebanyak mungkin kemungkinan mengapa itu dapat terjadi dan bagaimana tindak lanjutnya. Tidak kalah menarik adalah telaah-telaah dari pelbagai pihak. Selanjutnya, justru lebih banyak pertanyaan yang akan bermunculan.

Apakah perlu dibenarkan atau tidak, apakah perlu solusi agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali, apakah akan berdampak cukup signifikan bila hal ini terus terjadi. Menuangkan banyak hal dari orang lain tidak begitu sulit, bukan?

Jangan lupa dipelajari tentang teknik penukilan dan pengutipan yang tepat!  Hal ini tidak dapat diabaikan, mengingat penelitian adalah salah satu ranah ilmiah. Jangan asal comot! Tidak lupa untuk menyertakan sumbernya atau referensinya secara lengkap (yang merujuk pada temuan/data atau pendapat yang diperoleh).

Mungkin saja kita akan membenarkan penggunaan istilah bahasa Indonesia yang keliru dilafalkan atau dituliskan oleh siswa di sekolah ketika kita praktik mengajar pada semester berikutnya. Konteks kebutuhannya adalah memang berbeda, kita begitu cukup mendesak agar segera menyampaikan mana yang benar/baku ketika pembelajaran di dalam kelas. Akan tetapi, sebagai mahasiswa linguistik, para peneliti bahasa, sikap bijak mesti dikedepankan karena meneliti berbeda dengan mengajar.

Pada intinya, kita tidak sekadar menyalahkan ketika meneliti kekeliruan penggunaan bahasa ala kadarnya. Kalau membenarkan, kita mudah melakukannya, cukup dengan merujuk KBBI atau Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia, selesai sebagai dalil untuk memperkuat argumentasi. Kajian yang perlu diperdalam adalah mengapa selalu terjadi, mengapa perlu disalahkan (baca: disudutkan [?]), mengapa perlu arahan agar tidak terjadi lagi kesalahan yang sama.

Perlu bukti-bukti, perlu banyak telaah lainnya untuk mendukung atau bahkan dapat melemahkan argumentasi kita. Tidak masalah bila malah melemahkan. Dalam ranah ilmiah, semua hal dapat terjadi. Apalagi, penelitan bahasa yang cenderung menggunakan pendekatan kualitatif, yang sifatnya lebih dinamis dan fleksibel.

Semoga bermanfaat, teman-teman mahasiswa jurusan bahasa!