Azizah dan Ngeng-ngeng

Pagi, kira-kira, satu minggu kemarin (Kamis, 3 Rajab 1431, 15 Juli 2010 Masehi), saya jalan-jalan bersama kakak perempuan saya beserta putrinya. Putri kakak saya tersebut bernama lengkap Nur Azizah Qurrata A’yun, panggilannya Azizah. Azizah lucu, menggemaskan (*seperti Pak Lik [bahasa Jawa: om, paman]-nya, he he he). Kami bertiga ke Sragen. Sebenarnya, bukan sembarang jalan-jalan, melainkan ingin memeriksakan Azizah yang kata seorang dokter bahwa paru-parunya bermasalah; terdapat flek di paru-parunya. Kami meluncur dengan sepeda motor Ibu. “Ngeng-ngeng,” begitu istilah yang diberikan Azizah untuk menyebutkan sepeda motor kami.

Ketika berangkat, di awal perjalanan, dia berkata-kata lucu. Saya sendiri mengembangkan senyum saat menyimaknya, seolah-olah dia sudah dapat berbicara seperti layaknya orang dewasa, padahal umurnya baru genap 11 bulan. Akan tetapi, lama-kelamaan, Azizah menikmatinya. Karena saking (bahasa Jawa: terlalu, sangat) menikmatinya, dia terlelap dalam perjalanan.

Istilah “Ngeng-ngeng” diperkenalkan kepada Azizah oleh rewang (bahasa Jawa: pembantu) paman kami (adik ibu). Ya, sesekali, beberapa kali dalam seminggu, Azizah dititipkan di rumah paman karena Mbakyu (panggilan kakak perempuan saya) sibuk mengajar di sekolah menengah atas dekat rumah paman tersebut. Azizah senang sekali kendarai “Ngeng-ngeng”. Jika dia sedang menangis dan sulit untuk ditenangkan, dia pun ditawari untuk “naik Ngeng-ngeng”, dan luluh, dah.

Duh, Azizah, Pak Lik jarang pulang. Semoga kita masih diberi waktu untuk bertemu, dan Pak Lik akan ajak kamu naik Ngeng-ngeng; insya Allah.