Melamun

Bismillah

Saya adalah orang yang suka melamun. Tidak terlalu sering, tetapi bukan berarti tidak pernah sama sekali. Melamun merupakan aktivitas yang mengasyikkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam melamun, kita dapat menemukan ekspektasi tersendiri, yang tidak kita temuai di dunia nyata.

Melamun tidak selamanya berasosiasi dengan aktivitas yang sia-sia, membuang waktu, atau tidak berguna. Bahkan, di dalam aktivitas melamun, sejatinya tidak dapat dilepaskan dari kegiatan berpikir. Ya, melamun melibatkan aktivitas otak. Ketika melamun, sel-sel otak bergerak, melakukan kegiatan, atau bekerja.

Perlu disiasati ketika melamun agar melamun menjadi bagian aktivitas yang menyehatkan dan tidak sekadar mengisi kekosongan waktu. Lamuni beberapa hal “penting” dalam hidup. Karena melibatkan proses berpikir, mungkin dapat melamunkan beberapa hal kecil, tetapi penting, misalnya kegiatan apa yang akan dilakukan setelah melamun, menyusun skemata atau peta pemikiran rancangan rencana-rencana yang akan dilakukan (baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang), menyusun kata-kata yang akan diujarkan jika bertemu dengan mantan “kekasih gelap”, dan lain-lain.

Segala sesuatu yang mengandung unsur berlebihan adalah kurang baik. Begitu juga dengan melamun. Jika terlalu sering dan sangat lama melamun, bisa berdampak kurang baik. Hal-hal kurang baik itu bisa saja di waktu yang akan datang, pelamun itu sering melewatkan sesuatu yang penting, tidak memiliki respons yang cepat ketika menghadapi suatu permasalahan, dan lain-lain.

Mari melamun, tetapi jangan berlebihan. Melamunlah secara “sehat”. Jangan terlalu sering dilakukan, jangan lama-lama (*bisa-bisa kesambet, lhoh). Jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah melamun.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan