بسم الله الرحمن الرحيم

Sudah lama saya tidak menulis. Bagi saya, menulis seperti berolahraga. Olahraga jari tepatnya (bahkan juga otak — otak dan jari bersinergi). Tidak dapat dimungkiri bahwa menulis itu mengasyikkan. Saya bisa dengan ekspresif mengemukakan segala hal, seolah-olah sedang berbicara dengan satu atau banyak orang. Benar-benar sebuah aktualisasi diri yang menyenangkan. Dalam penuangannya pun, masing-masing orang memiliki wadah sendiri.

Hampir mendekati satu dekade terakhir ini, banyak orang yang memanfaatkan blog sebagai wadah menulis mereka. Sayangnya, sudah sekian banyak alamat blog, sekian ratus postingan setiap hari dari para pengguna internet di Indonesia, tetapi masih banyak yang enggan mencoba menulis, baik nge-blog maupun sekadar menulis catatan ringan pada secarik kertas. Memang, banyak orang menulis, tetapi tidak sedikit yang masih enggan menulis.

Menulis di Sela-sela Kesibukan
Menulis bisa dilakukan siapa saja, segala macam profesi, bahkan seorang pebisnis yang supersibuk sekalipun, asal berkenan meluangkan waktunya sekadar untuk menulis, meskipun satu, dua atau lebih paragraf. Rasanya kurang tepat jika memang tidak ada waktu untuk menulis, atau memang tidak mau. Facebook dan Twitter merupakan dua produk teknologi informasi dan komunikasi yang sudah sangat akrab bagi orang dewasa ini. Semestinya, dengan hadirnya dua layanan gratisan tersebut, tidak ada dalih lagi untuk tidak menulis.

Dua layanan tersebut di atas, biasanya, dijadikan ajang untuk berekspresi meskipun terbatas pada satu/ dua kalimat. Tidak masalah, yang penting menulis. Bahkah, bisa dijadikan ajang menulis dengan menggunakan kalimat efektif (sedikit kata dalam satu kalimat, tetapi memiliki makna).

Hanya saja, seringkali didapati tidak menggunakan bahasa yang baik dengan dalih haknya sebagai pemilik akun. Baik, tidak masalah karena memang hal tersebut hak empunya akun. Akan tetapi, bagaimana jika dimanfaatkan untuk berbahasa yang baik? Tidak salah juga, bukan? Bahkan, bisa dijadikan untuk melatih diri berbahasa yang baik.

Belum isinya berkait dengan keluhan-keluhan yang kurang sehat. Tentu, namanya manusia, tidak dapat dilepaskan dari label makhluk yang pengeluh. Mengeluh merupakan hak setiap manusia. Akan tetapi, bagaimana jika mengeluh dengan sehat? Mungkin saja, salah satu dari Anda, baru saja disakiti seseorang. Silakan berkeluh kesah, tetapi gunakan pilihan kata (diksi) yang sehat (menggunakan bahasa yang baik dan tidak ada unsur menyudutkan seseorang yang telah menyakiti Anda tersebut. Bahkan, bisa dijadikan ajang instropeksi diri, barangkali ada hikmah yang dapat diambil, atau memang ada kesalahan yang telah Anda perbuat sebelumnya, dan dengan Anda disakiti, bisa saja hal itu hukuman dari-Nya..!? Silakan tulis!

Karena terlalu ekspresifnya, seringkali orang menghadirkan emosi yang tidak terkendali. Menghina, menjelek-jelekkan, atau merendahkan pihak lain tampaknya bukan hal baru. Saya pun pernah melakukannya. Ada yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan karena memang berdasar pada beberapa kenyataan di lapangan, tetapi tidak sedikit yang sekadarnya, hanya emosi, tidak dengan akal sehat, bahkan ada maksud-maksud tertentu.

Sudah terlalu banyak orang yang menulis perihal menulis. Rasanya membosankan jika saya ungkat-ungkit lagi. Bukan masalah. Bisa jadi, tulisan-tulisan yang membicarakan topik senada, antara tulisan yang satu dan lainnya, saling menguatkan. He he he.

Selamat menulis.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan