Latif Anshori Kurniawan

Sebab Luar Negeri Bukanlah Segalanya

Diterbitkan pada dalam Blog. Tags: .

Sebagai warga dunia, tidak dapat dimungkiri bahwa aktivitas bepergian ke luar negeri adalah lumrah adanya. Rupa-rupa ekspresi orang meluapkan kegiatan mereka di luar negeri melalui pelbagai medium daring yang ada. Bak selebritis, mereka pun sempat berbagi foto-foto alih-alih kenang-kenangan. Lebih-lebih diniatkan sebagai sebuah pencapaian luar basa sehingga orang lain dirasa perlu tahu.

Tentu ada pula orang Indonesia yang terlalu terbiasa rihlah atau visitasi ke luar untuk pelbagai kepentingan dan kebutuhan, yang bisa jadi tidak akan pernah dipublikasikan, sekalipun kepada keluarganya sendiri. Sekalipun perjalanan bisnis ataupun sebenarnya hal yang tidak kalah elok untuk dikabarkan kepada yang lain, tetapi ia tetap memilih diam.

Tiap individu adalah pribadi yang berbeda, mereka memiliki keunikan tersendiri, tentu banyak alasan yang melatarbelakangi mengapa sebagian pihak begini dan sebagian yang lain begitu. Masing-masing memiliki niat dan tujuan yang beraneka rupa. Apapun itu, muaranya mengerucut pada dua kutub: pergi ke luar negeri adalah luar biasa menghebohkan atau sekadar hal biasa dan malah bersifat privatif sehingga tidak perlu berkoar-koar. Yang pasti, kehidupan di luar tentu tidak mudah ditebak, bisa jadi tidak seragam dengan keadaan di Indonesia.

Beberapa bulan terakhir tampak studi di luar negeri amat menjanjikan. Sebagai civitas academica, ancangan riset di luar negeri masih di luar jangkauan. Sekalipun universitas tempat bernaung sekarang mengakomodasi kebutuhan tersebut, elok tetap perlu menata banyak hal terlebih dahulu dan mengorganisasi skala prioritas yang teramat pokok.

Tidak hanya saya pribadi yang berparadigma demikian, terutama teman-teman yang jamak berstudi lanjut di ranah humaniora, agaknya memang menarik dan menantang bila riset dan double-degree di luar Indonesia. Sebagian orang malah membilang bahwa riset atau studi humaniora di luar seakan lebih dihargai, wah sudah berbeda niat jika demikian, saya enggan begitu.

Sayang sekali, saya masih kurang dapat berkhayal berlebih, terlebih bila harus meninggalkan ibu dan keluarga. Tentu Anda akan merasakan hal serupa bila Anda dibesarkan secara single-parent. Berkenankah Anda sampaikan apa alasan saya perlu atau harus ke luar negeri?

Siapa yang tidak suka hal-hal berbau luar negeri? Agaknya bukan hal asing lagi bagi masyarakat Indonesia, bahkan sejak sebelum era kemerdekaan, bahwa tidak sedikit para pendahulu kita yang ke luar negeri untuk pelbagai keperluan, baik dalam rangka menunaikan ibadah (haji), dagang atau bisnis, menimba ilmu, maupun aktivitas lainnya. Hal lumrah bila sebagian kalangan merasa bangga bila ada orang Indonesia yang didapati pernah ke luar negeri.

Apapun alasannya, perlu dipertimbangkan masak-masak bila ingin ke luar negeri. Luar negeri tidak selalu menarik menurut hemat saya, bergantung pada kebutuhan, kita perlu menimbang maslahat yang ada. Gentingkah ke sana? Apabila memang iya, disilakan. Apabila sekadar gengsi dan ingin dihormati, sila luruskan niat yang paling pokok dan meminimalisasi pikiran-pikiran negatif seperti itu, he he he.

Tidak gampang ke luar negeri janganlah dicampuri dengan prasangka-prasangka yang tidak-tidak, elok tidak diaduk dengan niat yang bukan-bukan. Sekadar untuk pamer, sekadar untuk ‘agar lebih dihargai’ (sebab merasa ‘rendah’ selama ini barangkali), atau sekadar untuk dikenal sebagai orang yang pernah ke negeri selain Indonesia–yang penting luar negeri (?). Sesekali jangan!

Siapapun dapat ke luar negeri. Para artis pun telah terbiasa ke sana. Para ilmuwan Indonesia, seperti Pak Habibie atau tokoh lainnya, sering bolak-balik Indonesia-luar negeri untuk banyak kepentingan. Saudara-saudara kita yang bekerja di sana, Anda pun dapat ke sana bila memang ingin.

Sekadar ingin atau memang berambisi adalah dua kutub yang berbeda. Apabila keinginan itu memang positif, tidak mengganggu pikiran dan hati (terutama berkait dengan hal-hal prinsipil), bersegeralah. Di samping hal itu memang tidak murah, ada banyak hal yang dikorbankan, tetapi setidaknya tidak lekas menunda.

Saya trenyuh dengan seorang teman. Ia bukanlah orang yang memimpikan ke luar negeri, ia pun tidak dilahirkan di luar negeri. Namun, ke mana pun Allah Mengizinkannya ke luar, ia berharap Diizinkan-Nya terlebih dahulu untuk menginjakkan kakinya di Mekah sebagai hamba-Nya yang beribadah haji.

Bukan umrah, cukup haji dahulu–kata teman tersebut. Apalagi bila ada kesempatan untuk menimba ilmu agama dan dapat bermajelis/ber-mulazamah bersama para ulama tepercaya di Saudi, hal ini salah satu yang amat diidamkannya pula selain haji. Jadi, kalau tidak berhaji, yang menimba ilmu agama di Saudi atau Yaman. Inti akhirnya, ia ke luar negeri malah untuk mempersiapkan akhiratnya. Subhanallah.

Bagaimana dengan Anda? Adakah rencana ke luar negeri dalam waktu dekat? Apa tujuan Anda ke sana? Jangan lupa luruskan niat, ya!