Bismillah.

Sudah lama merasa bahwa sosial media ‘menjenuhkan’. Di dalamnya, saya memang dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan eloknya bersama teman-teman, baik lama maupun baru. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, merasa ada yang salah dengan ‘saya’. Iya, tidak ada yang salah dengan sosial media, tetapi saya yang perlu dievaluasi. Barangkali, memang berkesan tiada masalah, tetapi sejujurnya ada rasa-rasa yang mengkhawatirkan ‘menerkam’ hati.

Beberapa kali, saya mendapati asatidz (para ustadz) memberi nasihat, baik ihwal: menjaga perkataan, menjaga laku perbuatan, berakhlak baik, menjaga hati, menghindari maksiat, maupun sebagainya. Walaupun berkesan sepintas lalu ketika mendapati wejangan-wejangan tersebut, selalu saja membekas meskipun setitik noktah. Serasa ada yang memang perlu diperbaiki lebih di sini (baca: hati).

Barangkali, karena terlalu berbiasa, kita merasa segala apa yang kita lakukan bukanlah hal yang perlu dirisaukan. Saya kurang dapat begitu. Sebaik laku, pasti perlu di-muhasabah (dievaluasi), sejak dari hal kecil berbetik di batin yang mengetuk pintu niat (apa, betapa, mengapa, dan untuk siapa dilakukan) hingga praktik yang… apa sungguh senapas dengan hati (?).

Rasanya, lebih nyaman berkoar di dunia maya di sini, di tempat pribadi, ya. Daripada mengutarakan hal-hal yang, sebenarnya, tidak saya ketahui, tetapi saya berlagak dan penuh gaya memahami, di sosial media. Mungkin, bukan itu juga masalahnya. Hal yang paling membuat saya dagdigdug adalah apakah hal-hal yang saya utarakan di sosial media itu malah akan memberatkan saya di Hari Nanti..!? Saya masih sangat khawatir.

Pernah, suatu ketika, saya menghapus dan/ atau berganti akun di salah satu sosial media. Akan tetapi, seakan tidak mengindahkan pelajaran sebelumnya, saya masih juga menenggelamkan diri dalam kubangan yang saya risaukan. Entah apa, masih membingungkan untuk diutarakan di sini, tetapi yang pasti, hidup begitu singkat untuk disia-siakan.

Makna sia-sia sebagaimana disebutkan di atas tentu berbeda pengertiannya dari sudut pandang antarmanusia. Setidaknya, apakah kita mengetahui hakikat kesia-siaan di mata-Nya..!? Inilah yang seharusnya pula dijadikan salah satu ‘pekerjaan rumah’ besar kita di dunia ini.

Menebar Manfaat melalui Sosial Media
Dipersilakan bagi yang dapat memanfaatkan sosial media sebagaimana mestinya untuk menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan. Akan tetapi, tidak elok pula jika kita tidak selaras dengan segala apa yang kita sebar itu. Memang, berbuat baik dengan yang demikian merupakan salah satu alternatif untuk menyemarakkan hal-hal bermanfaat.

Hanya, kita senantiasa diminta-Nya untuk terus berkaca (mengevaluasi) segalanya, apakah Dia menjadi Ridha kepada kita atau Dia enggan sehingga murka. Untuk itu, penting diperhatikan segala hal sebelum menebar ‘pesona’ di sosial media, yang semoga tidak mengoyak niat baik kita.

Membatasi Diri dengan Hal-hal Kurang Berguna
Nah, ini, yang masih sering saya lakukan. Sebagaimana manusia pada umumnya, kerap kita melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi raga dan jasmani kita. Maklum, prasangka-prasangka kita yang membentuk betapa dan bagaimana kita berlaku. Sayangnya, prasangka senantiasa senapas dengan petunjuk dan hidayah-Nya. Maka dari itu, jangan merasa sudah menjadi Muslim, kita merasa bebas lepas tidak masalah. Kita masih senantiasa dianjurkan untuk memohon petunjuk dan hidayah dari-Nya agar terhindari dari hal-hal yang sia-sia.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan