Muhasabah (dari/di) Media Sosial

2 min read

Seakan mulai merasa bahwa media sosial menjadi ‘menjenuhkan’. Di dalamnya, kita memang dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan eloknya bersama teman-teman, baik lama maupun baru. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, merasa ada yang salah dengan ‘saya’ (pribadi). Iya, tidak ada yang salah dengan layanan media sosial yang ada, tetapi saya yang perlu dievaluasi. Barangkali, memang berkesan tiada masalah, tetapi sejujurnya ada rasa-rasa yang mengkhawatirkan ‘menerkam’ hati.

Beberapa kali, saya mendapati asatiza (para ustaz) memberi nasihat, baik ihwal: menjaga perkataan, menjaga laku perbuatan, berakhlak baik, menjaga hati, menghindari maksiat, maupun hal lainnya. Walaupun berkesan sepintas lalu ketika mendapati wejangan-wejangan tersebut, selalu saja membekas meskipun setitik noktah. Serasa ada yang memang perlu diperbaiki lebih di sini (baca: hati).

Barangkali, karena terlalu berbiasa, kita merasa segala apa yang kita lakukan bukanlah hal yang perlu dirisaukan. Saya malah tidak tenang dengan hal ini. Sebaik laku, pasti perlu di-muhasabah (dievaluasi), sejak dari hal kecil berbetik di batin yang mengetuk pintu niat (apa, betapa, mengapa, dan untuk siapa dilakukan) hingga praktik yang … apa sungguh senapas dengan hati (?).

Rasanya, lebih nyaman berkoar di dunia maya melalui platform blog ini, di tempat yang dirasa agak mempribadi. Ya. Daripada mengutarakan hal-hal yang–sebenarnya–tidak saya ketahui, tetapi saya berlagak dan penuh gaya memahaminya di media sosial. Mungkin, bukan itu juga masalahnya. Hal yang paling membuat saya dagdigdug adalah apakah hal-hal yang saya utarakan di media maya itu malah akan memberatkan saya di Hari Nanti..!? Saya masih sangat khawatir.

Pernah, suatu ketika, saya menghapus dan/atau berganti akun di salah satu layanan jejaring sosial. Akan tetapi, seakan tidak mengindahkan pelajaran sebelumnya, saya masih juga menenggelamkan diri dalam kubangan yang saya risaukan. Entah apa, masih membimbangkan dan membingungkan untuk diutarakan di sini. Namun, yang pasti, hidup begitu singkat bila untuk disia-siakan (dihiasi dengan perkataan dan perbuatan sia-sia).

Makna sia-sia sebagaimana disebutkan di atas tentu berbeda pengertiannya dari sudut pandang antarkita. Setidaknya, apakah kita mengetahui hakikat kesia-siaan di Mata-Nya..!? Inilah yang seharusnya pula dijadikan salah satu ‘pekerjaan rumah’ besar kita di dunia ini.

Menebar Manfaat melalui Media Sosial
Dipersilakan bagi yang dapat memanfaatkan media sosial sebagaimana mestinya, barangkali untuk menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan. Rasanya, tidak elok pula jika kita tidak selaras dengan segala apa yang kita sebar itu.

Memang, berbuat baik bisa berupa apa saja, dengan menyebarkan banyak faedah misalnya, barangkali merupakan salah satu alternatif untuk menyemarakkan hal-hal bermanfaat sehingga akan ada pihak yang bisa memetik ibrahnya. Lalu, batasan faedah yang benar-benar berfaedah itu seperti apa? Apakah setiap hal yang dianggap berfaedah adalah benar-benar bermanfaat dan dibutuhkan khalayak?

Kita senantiasa diminta-Nya untuk terus berkaca (mengevaluasi) segalanya, apapun yang dilakukan. Apakah Dia menjadi Rida kepada kita atau Dia enggan sehingga murka–astagfirullah. Untuk itu, penting diperhatikan segala hal sebelum menebar ‘pesona’ di media sosial, yang semoga tidak mengoyak niat baik kita, yang semoga bukan sekadar pencitraan (pemenampakan citra diri kepada yang lain).

Membatasi Diri dengan Hal-hal Kurang Berguna
Nah, bisa jadi ini yang masih sering saya lakukan. Sebagaimana manusia pada umumnya, kerap kita melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi raga dan jasmani kita. Maklum, prasangka-prasangka kita yang membentuk betapa dan bagaimana kita berlaku.

Sayangnya, kita sering kurang dapat menakar, atau bahkan tidak bisa menakar sama sekali, sejauh mana prasangka kita senantiasa dapat senapas dengan petunjuk dan hidayah-Nya? Oleh karena itu, jangan merasa sudah menjadi Muslim membuat kita merasa bebas lepas bertutur dan berlaku, seolah tidak ada masalah apapun atas hal yang kita putuskan. Kita masih senantiasa dianjurkan untuk memohon petunjuk dan hidayah dari-Nya, juga memohon agar senantiasa Diampuni-Nya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.