Latif Anshori Kurniawan

Pilar yang Harus Senantiasa Tertegak

Diterbitkan pada dalam Kontemplasi. Tags: .

Bismillah.

Hidup yang terjalani serasa indah adanya. Yang menjadi masalah adalah apa hidup hanya berbatas pada keindahan duniawi..!?

Begitu mudah mendapatkan keindahannya. Akan tetapi, keindahan yang dibalut dengan rasa cinta berlebih kepada-Nya akan semakin mengarahkan dan menjagakan kita dari tenggelam dalam kubangan syahwat dunia.

Dunia memang harus dikejar, tetapi akhirat yang utama. Ketika akhirat didahulukan, dunia seolah datang dengan sendirinya tanpa disangkakan sebelumnya.

Bagaimana mau disangkakan sebab hati yang jika disibukkan dengan selalu mengingat-Nya. Ah, alangkah elok kesudahan bagi yang dapat sungguh-sungguh mewujudkannya dengan penuh rasa ketulusan kepada-Nya semata.

Indahnya dunia tidak lebih indah daripada indahnya akhirat. Dunia semakin mencekam jika akhirat pun tertinggal. Oleh karena itu, dunia harus disikapi dengan ‘legawa’. Dalam arti, apa dan mengapa kita ada di dunia harus bisa terjawab. Jika eksistensi jawaban itu terpatri tanpa harus didiktekan, niscaya kehidupan ini begitu mudah untuk dijalani.

Menjalani kehidupan di dunia tentu harus menyandingkannya dengan pilar-pilar yang baik. Pilar-pilar itu akan, sedikitnya, membantu menopang sendi-sendi yang bermunculan seiring perjalanan hidup yang ditempuh. Di antara pilar-pilar yang harus senantiasa dijaga adalah pilar tauhid.

Tidak dimungkiri bahwa kehidupan ini terbawakan nikmat yang luar biasa. Akan tetapi, nikmat yang ada tidaklah sebanding dengan nikmat iman dan Islam yang tertanam di hati. Bagaimana mau menjalani hidup ini dan mengapa harus dijalani, tauhid (mengesakan-Nya) adalah respons yang paling utama.

Wujud nyata tauhid yang baik akan tampak pada akhlak-akhlak yang elok pula. Kesesuaian itu merupakan hal yang pasti karena apa yang tersurat pada perbuatan dan laku kita adalah pengejawantahan dari ketauhidan yang tertancap di hati-hati kita.

Begitu pula dengan syukur. Syukur yang dapat dirasa merupakan hal yang muncul dengan sendirinya ketika tauhid telah tertegakkan di dalam dada. Tidak hanya dirasa, syukur itu pun akan senantiasa menyelimuti seorang hamba dan menjadikannya hiasan bagi kehidupan di sekitarnya.

Seperti halnya hidayah, kemantapan hati bertauhid kepada-Nya harus dijemput, bukan menunggu tanpa melakukan perbuatan apa pun. Salah satu pintu yang sangat dapat diandalkan dalam penjemputannya adalah ‘duduk-duduk’ bersama orang-orang shalih di majelis-majelis ilmu (ilmu itu hanya satu yang paling utama, yaitu ilmu agama).

Seiring berjalannya waktu, jamak majelis-majelis ilmu bisa didapati di mana pun kekinian. Sudah tidak ada alasan bagi siapa pun Muslim untuk ‘menghindar’ dari majelis-majelis penuh manfaat ini.

Hampir setiap hari, di setiap tempat di negeri-negeri Muslim, senantiasa bisa didapati majelis-majelis ilmu. Apalagi, ilmu yang disampaikan oleh para pengikut manhaj (jalan) para alim utama terdahulu yang shalih (salafush-shalih).

Tidak diragukan lagi, ilmu-ilmu yang dipijaki dari pemahaman para salafush-shalih adalah ilmu-ilmu yang terbaik. Pasalnya, ilmu-ilmu ini merupakan kemilau nasihat-nasihat dari generasi terbaik sehingga siapa pun yang menuainya dengan penuh ketulusan hanya mengharap ridha dan menatap wajah-Nya di Hari Kemudian Nanti.

Berdasar perolehan ilmu yang baik, insya Allah, jalan kita dalam menegakkan pilar tauhid hanya kepada-Nya akan terealisasikan dengan indah pula pada segenap seluruh sendi kehidupan. Pada akhirnya, tidak diragukan lagi, akan tertuai kehidupan yang menenangkan kalbu dan jasad kita: kalbu kita bersih dari noda-noda yang merusak zikir, jasad kita senantiasa terjaga untuk aktivitas ibadah kepada-Nya.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan