Pada Suatu Masa yang Lama

Bismillah

Sering, saya heran sendiri mengapa sebagai anak bahasa, saya kwalahan merangkai kata demi kata dan menjadikannya indah sehingga dapat dinikmati sesiapa yang membacanya. Baik itu cerita maupun seutas puisi, rasanya tangan saya kurang cakap mengkreasi dengan eloknya. Tak apalah, biar kata memang tidak dapat dinikmati, tetapi tetap saja saya mau ikutan bermain kata sebagaimana para pendahulu di antara pembaca. Here, I’ll try.

Pada Suatu Masa yang Lama

Aku duduk termenung di suatu bait waktu,
Yang tanpa kusadari,
Sejatinya terus menghantuiku.
Menjadikan aku untuk semakin tertahan mengeja matahari,
Duduk beralaskan alasan yang hampir sama setiap hari,
Untuk apa aku hidup.

Kali ini berbeda,
Bukan tentang hidup,
Bukan tentang mati.
Ia mencoba menganyam,
Dan aku pun terpikat.

Ia begitu pesona sebagaimana adanya.
Aku yang tak tahu harus berterima kasih,
Mencoba selaras demi selaras sungguh
Memperhatikannya.

Ternyata ia memang cantik,
Aku tak tahu bagaimana menilainya.

Waktu pun berpendar,
Seiring bekas jejak langkah terpencar,
Membelah lamunan yang begitu pekat mencekat.

Apakah masa ini masih masa yang sama?
Ataukah gerangan hanya masa pada sebuah penantian.
Memilukan dan usang.

Berantakan, ya..!? He he he. Sekian.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan