Mengeluhkan Masa

Bismillah.

Beberapa hari terakhir ini, saya merasa kurang produktif daripada minggu sebelumnya. Lagi-lagi, irama tubuh tidak begitu dapat diterjemahkan dengan baik. Seolah rasa diri tidak begitu banyak aktivitas yang memenatkan, justru masih terasa letihnya. Barangkali, energi dihabiskan dalam perjalanan, begitu gumam saya dalam hati ketika mendapati rasa ini.

Setelah ditelusur lebih dalam lagi, saya hanya masih kurang dapat mengelola beberapa hal yang tampak remeh. Saya terlalu berfokus pada hal-hal yang, sesungguhnya, terasa ringan untuk dikerjakan. Akan tetapi, karena terlalu mendalam hanya di dalam pikiran, seolah begitu terasa berat melaluinya. Seolah energi yang habis terurai untuk hal yang tak perlu. Namun, tersadar, bukankah semua ini diciptakan-Nya dengan tidak sia-sia..!?

Pada akhirnya, dengan sedikit motivasi paksa diri, saya mengubah sudut pandang untuk lebih memaknai hidup. Hidup bukan soal betapa dan bagaimana kita bergerak. Ia merupakan keterjalinan masa-masa yang mencekat erat, begitu, barangkali, temuan ujaran yang dapat saya filosofiskan di sini.

Hidup ini hanya soal masa. Betapa tidak? Ketika waktu shalat tiba, mau tidak mau kita menunaikan kewajiban kita kepada-Nya. Setelahnya, tentu masih ada yang dikerjakan. Jika kita mengagendakan sesuatu dan terlewat, mau bagaimana lagi, kita tidak dapat mengulanginya lagi. Yang ada hanyalah bagaimana melanjutkan masa yang sedang dijalani sekarang dan mendatang.

Masa sungguh merupakan pisau bermata dua. Ia bisa bermanfaat, ia juga bisa membahayakan, bergantung pada manusia yang menjalani masa itu. Mari memanfaatkan masa dengan baik karena ia begitu lekas bergegas seakan terburu tiada ampun.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan