Bismillah.

Pertama kali mengenal Kompasiana sekitar 2009, baru sekadar baca-baca. Cukup asyik mengisi waktu luang dengan bacaan daring yang menghibur ketika itu. Akhirnya, mencoba membuat akunnya dan diverifikasi.

Singkat kisah, termuatlah beberapa tulisan ringan. Dari sekadar pendapat pribadi hingga mengomentari beberapa kejadian teraktual (ahem, maklum, kita lebih banyak berkomentar). Sayang sekali, hal itu tidak bertahan lama. Lama kelamaan, ada rasa lain di sana. Bukan bosan, melainkan sekadar entah apa.

Akhirnya, tulisan-tulisan itu saya hapus satu demi satu hingga tidak berbekas. Di 2012 akhir, mencoba menampilkan dua tulisan lagi, ujung-ujungnya saya hapus lagi. Entahlah, saya hanya ingin menghapusnya. Namun, ini kali, ada minder menghinggapi, seakan tulisan saya itu kurang layak ditampilkan daripada tulisan-tulisan Kompasianer (julukan bagi para narablog di Kompasiana) lain yang bagus-bagus.

Jika ditilik lebih dalam, alasan saya bukan hanya sebagaimana disebutkan di atas. Kompasiana sekarang terasa lebih berat daripada sebelumnya. Dalam arti, berat untuk diakses. Saya duga hal ini disebabkan beban kunjungannya yang tiada bertepi setiap harinya.

Anggapan saya tersebut bukan satu-satunya tampaknya. Setelah diamat-amati, beratnya akses yang terjadi dikarenakan kebijakan KOMPAS daring (yang berimbas pula pada Kompasiana) secara umum memuatkan konten iklan. Semoga saja bukan AdSense dari Google. Kalau pun iya, aduh, sekelas KOMPAS tentu masih dapat berdikari tanpa suapan dari Google, bukan? Setidaknya, iklan-iklannya bukan AdSense (atau semacam yang memberikan keuntungan bagi si pemasang iklan di situs webnya seperti yang banyak dilakukan oleh para bloger).

Jujur, tidak dimungkiri, KOMPAS merupakan salah satu pemimpin media yang luar biasa hebat. Akan tetapi, rasanya perlu ditinjau kembali kebijakan pemasangan iklan yang dirasa berlebih pada layanan daringnya. Barangkali, hal ini tidak begitu mengganggu bagi pelanggan Speedy seperti Anda, tetapi tidak bagi kami yang tinggal di pelosok dengan akses internet sekadarnya.

Di samping itu, ada hal unik yang tidak sengaja saya temukan. Ternyata, para penulis daring favorit saya banyak yang tidak pula di Kompasiana. Atau, jika mereka berakun di sana, tiada tulisan tertampil. Sebut saja di antaranya: Bu Aulia Halimatussadiah, Pak Ivan Lanin, dan Pak Aloysius Heriyanto. Walaupun saya kurang tahu dalih artikel beliau-beliau tidak tampak di Kompasiana, semakin memantapkan saya untuk melanglang dari sana sejak 2011 lampau.

Terlepas dari beberapa hal tersebut, tentu kiranya kita perlu berefleksi bersama bahwa media mana pun di dunia ini pastilah memiliki visi dan misi yang beraneka ragam. Ketika kita menjatuhkan pada salah satu media untuk menayangkan atau menerbitkan tulisan kita, secara tidak langsung, kita pun tertarik dengan media tersebut, kita pun berselaras visi dan misi dengannya. Tidak mungkin, bukan, kita mengirim tulisan ke media secara asal: yang penting dimuat?

Barangkali, untuk media massa cetak, saya membatasi diri pada harian KOMPAS. Terlepas dari kefiguran nan baik yang disiratkan pendirinya, Pak P.K. Ojong, penggunaan bahasa Indonesia pada KOMPAS amat presisi dan hati-hati. Menulis di surat kabar lokal, seperti Solopos atau Joglosemar, tanpa mendiskriminasi, tidak dapat selaras ketika menulis “untuk” KOMPAS.

Yah, saya punya rumah sendiri di sini, pada blog ini. Alhamdulillah. Mencoba ditekuni saja di sini. Semoga masih aktif menulis, meskipun tidak harus di Kompasiana, meskipun tidak di layanan media sosial seperti Facebook Note, meskipun tidak dalam rupa kicauan di Twitter, meskipun tidak di media massa cetak, meskipun hanya goresan tidak begitu penting. Namun, semoga masih ada manfaatnya, meskipun sedikit, di sini.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan