Bismillah.

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit, saya bisa mengurangi beberapa hal yang kiranya tidak begitu penting, terkhusus apakah hal itu penting bagi kebaikan dunia atau kebaikan akhirat saya. Terlalu banyak di usia penghabisan seperempat abad ini telah banyak saya gunakan untuk hal-hal yang sia-sia. Sungguh sangat disayangkan.

“Tidak ada kata terlambat,” begitu barangkali ujaran untuk memompa diri agar segera menindaklanjuti jalan-jalan yang mana yang bakal ditempuh dalam sisa berkehidupan hingga beberapa masa ke depan.

Sebagaimana yang saya judulkan di tayangan tulisan ini, sejak kali ini, saya berupaya untuk menyajikan beberapa hal yang kiranya lebih bermanfaat bagi kehidupan akhirat kita bersama. Sejatinya, kehidupan di dunia ini adalah langkah-langkah penentu di kehidupan Selanjutnya. Betapa dan bagaimana kita memaslahatkan kehidupan ini sebagaimana baiknya akan sangat memengaruhi hasil Akhir nanti di Sana.

Alhamdulillah, saya masih suka saja dengan kata-kata pada tembang Macapat karya Ronggowarsito. Tembang yang penuh dengan wejangan (bahasa Jawa: nasihat) indah ihwal kehidupan. Tenang saja, tidak ada kalimat berbau kesyirikan di dalamnya, meskipun kesannya begitu Jawa. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan karunia-Nya yang begitu luas, telah dibukakan mata hati saya pada syair-syair Arab yang syarat atas nasihat-nasihat pula.

Perbedaan antara tembang Macapat dan syair-syair Arab adalah terletak pada pilihan kata (diksi). Diksi pada syair Arab acapkali memasukkan istilah-istilah pengingat tuntunan syariat. Subhaanallah, rasanya lebih indah daripada tembang Macapat karena nasihat-nasihatnya begitu Islami. Akan tetapi, bukan berarti tembang Macapat tidak indah. Sama eloknya, tetapi syair Arab lebih menyenangkah hati saya. Yah, hal itu memang soal selera, mengingat selera masing-masing orang berbeda-beda.

Jangan salah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai syair-syair Arab, apalagi yang berbau pengingat kepada-Nya dan/ atau mengesakan-Nya.

Selain syair Arab yang disukai, saya juga ada peralihan bacaan yang bersifat narasi dari cerita fiksi beralih ke kisah nyata. Sebagai salah seorang yang menggemari bahasa dan sastra Indonesia, seharusnya cukup bersahabat dengan karya sastra. Namun, pada kenyataannya berlainan, saya tidak terlalu menyelami kesusastraan Indonesia karena tidak setiap karya pernah dibaca. Hanya beberapa karya fiksi yang pernah mendapat perhatian tersendiri, di antaranya adalah roman Negeri Senja, novel-novel untuk tugas perkuliahan, dan sedikit lainnya. Jangan tanya ihwal novel-novel berbau Islami, saya belum memilikinya satu pun.

Karya narasi, sejatinya, tidak harus bersifat fiksi (khayal). Bisa saja itu diangkat dari kisah nyata, baik dari pengalaman orang terdahulu atau kekinian. Apalagi kisah-kisah nyata yang syarat akan hikmah dan pelajaran yang dapat dituai faidahnya.

Yah, apapun pergeserannya, semoga bergeser ke arah lebih baik.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan