Masihkah, Kita…?

Bismillah.

Salah besar jika ada yang beranggapan bahwa hari ini bisa saja sama dengan hari-hari sebelumnya atau hari-hari selanjutnya. Hari-hari tidaklah sama. Ia tetap berpendar dengan jatahnya sendiri.

Masing-masing hari memiliki wajah dan warnanya sendiri. Ia bukanlah hal yang sama dari masa-masa sebelumnya.

Tiap hari tidak pernah berputar pada poros yang sama. Karena ia memang memunyai kepribadian dan kekhasan masing-masing.

Seolah hari berganti hari berulang dengan hari-hari yang sama sebelum atau selanjutnya. Ahad berganti Ahad yang baru, Jumat berganti Jumat yang baru, seolah berulang. Akan tetapi, pada hakikatnya, nama-nama hari itu sekadar penamaan. Esensi sejati dari waktu-waktu yang berganti adalah pergantiannya. Seakan untuk memudahkan mengarungi bahtera kehidupan, manusia ditunjuki-Nya dengan penamaan waktu-waktu.

Bisa saja ini adalah masih hari Ahad dan bisa mungkin berulang hingga 3 (tiga) atau 4 (empat) kali. Jika Anda menginginkan demikian, bisa saja demikian. Karena kita adalah manusia dan tinggal dengan sesama manusia pada umumnya, selayaknya kita mengikuti jalinan waktu membersamai dengan sesama lainnya.

Jika hidup hanya dihabiskan untuk menghitung hari, sangat disayangkan karena manusia hanya akan menjadi penghabisan waktu yang tanpa makna dan tujuan. Ketika manusia dihidupkan-Nya di dunia ini, kita tidak pernah tahu apa yang selanjutnya akan dijalani pada waktu-waktu ke depan.

Bagaimana dan betapa, manusia hanya bisa menjalani waktu-waktu yang diberikan-Nya itu. Sekadar menjalani tanpa tahu hal apa saja yang akan terjadi. Barangkali, masih dapat merencanakan, mengagendakan, menginginkan, memimpikan, melamunkan, mengangankan, mengkhayalkan, dan memimpikan, tetapi tidak untuk memastikan (kecuali hal-hal yang telah Dipastikan-Nya melalui Tuntunan-tuntunan-Nya). Hal itulah mengapa manusia diilmui-Nya dengan penamaan waktu yang disepakati sejak semenjana pada awal-awal peradaban mereka. Walaupun, hingga pada akhirnya, keumuman mereka terlalu terbuai dan menjadi sombong karena merasa dapat memperkirakan dan mengisi masa-masa yang dicanangkan dengan elegannya.

Sekali-kali tidak, itu hanyalah prasangka-prasangka, baik terjadi maupun tidak adalah lantaran-Nya. Apa daya manusia berhasil menembus hari-hari yang telah dilalui dan yang belum akan dihadapi..!? Sungguh kedurjanaan manusia jika tidak menyadari-Nya. Akan tetapi, kurang apa Keluasan Kasih Sayang-Nya kepada manusia sehingga hingga hari ini kemurkaan-Nya tidak disampaikan-Nya lantaran Dia Yang Maha Pengampun..!? Masih, ‘kah, manusia bersemena-mena dengan-Nya, mengabaikan-Nya, sehingga mereka menjadi lalai sentausa..!?

Kurang berapa banyak teladan lagi, padahal Dia Yang Maha Penyayang telah Memberikan keteladanan-keteladanan dari sesama manusia terdahulu, yang dapat diteladani kesantunan dan penghambaan totalitas kepada-Nya, yang dapat diambil hikmah agar kita dapat beperilaku sebaik-baik para teladan yang baik-baik itu.

Para teladan yang baik itu tidak sebagaimana kekinian. Para teladan baik itu tidak pernah merasa tenang telah menyenangkan-Nya sehingga setiap malam mereka gelisah dan bermunajat kepada-Nya untuk kebaikan akhirat mereka. Para teladan yang baik itu tidak pernah merasa diri mereka telah terampuni-Nya sehingga hampir-hampir membuat mereka senantiasa menangis setiap hari kehidupan mereka. Padahal, pada kenyataannya, ibadah-ibadah mereka telah melampui bintang-bintang Tsurayya (jauh tidak berbekas menanggalkan kita di sini), doa-doa mereka diijabahi-Nya, persaksian mereka disaksikan-Nya, dan Tempat Kesudahan yang Paling Baik adalah tempat akhir mereka, dan mereka sangat jauh meninggalkan manusia kekinian lantaran kerendahan hati (ke-tawadhu’-an) mereka kepada-Nya. Berkenankah kita meneladani mereka?

Semoga menjadi bahan renungan.

Salam hangat,
Latif Anshori Kurniawan