Hamba yang Penuh Syukur

Syukur dan sabar adalah sikap yang harus dimiliki seorang muslim. Kedua sikap itu pula yang membuat perkara seorang muslim menjadi istimewa. Akan tetapi, kekinian, sangat jarang kita dapati orang yang mengamalkannya dengan kesungguhan. Sering berkeluh kesah dan mudah berputus asa lebih banyak kita dapati. Tampaknya, kita membutuhkan sesuatu yang dapat memacu kita untuk senantiasa bersyukur dan bersabar. Berikut ini kisah menakjubkan dari seorang tabi’in yang menggugah hati untuk diteladani.

Abu Qilabah Rahimahullah

Ibnu Hibban rahimahullah, dalam kitab beliau Ats-Tsiqat, menyebutkan bahwa, pada suatu hari, Abdullah bin Muhammad keluar untuk mengawasi daerah pantai. Dia melihat ada sebuah kemah, di dalamnya terdapat seseorang yang telah hilang kedua tangan dan kakinya. Mata dan telinganya pun telah melemah. Satu-satunya anggota badan yang masih bisa dimanfaatkan adalah lisannya. Orang itu berkata, “Ya Allah, Tunjukillah aku untuk memuji-Mu agar aku bisa mensyukuri nikmat yang telah Engkau Berikan kepadaku. Dan, karena Engaku telah Melebihkanku atas hamba-Mu yang lain.”

Mendengar perkataan itu, Abdullah merasa takjub dan berniat untuk datang mendekati orang itu. Sesampainya ia di hadapan orang itu, Abdullah bertanya kepadanya ihwal nikmat apa yang telah Allah Berikan kepadanya. Dan, apa yang membuatnya lebih utama daripada makhluk Allah yang lain.

Orang itu berkata, “Tidak, ‘kah, engkau melihat apa yang telah Rabb-ku perbuat? Demi Allah, jika Dia Mengirim api dari langit hingga membakarku, Memerintahkan gunung agar menindihku hingga hancur, Memerintahkan laut agar menenggelamkanku, atau Memerintahkan bumi agar menelanku, semua itu hanya akan menambah rasa syukurku kepada-Nya. Karena Dia telah Memberikan kenikmatan kepadaku berupa lisan ini.”

Ia melanjutkan, “Waha hamba Allah, karena engkau telah mendatangiku, aku memerlukan bantuanmu. Engkau telah melihat keadaanku. Aku tidak mampu untuk mencegah gangguan dan tidak mampu berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku. Saat tiba waktu shalat, dia mewudhukanku. Saat aku lapar, dia memberiku makan. Dan, saat aku haus, dia memberiku minum. Namun, sudah tiga hari inim aku kehilangan dia. Maka, tolong carikan kabar tentangnya. Semoga Allah Merahmatimu.”

Abdullah bin Muhammad pun pergi mencari putra orang itu. Belum jauh ia berjalan, ternyata ia mendapati di suatu gundukan pasir, putra orang itu telah diterkam binatang buas. Ia langsung ber-istirja’ (mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,”). Ia berpikir keras bagaimana cara mengabarkan hal ini kepada orang tua yang ditemui di kemah tadi. Kemudian, ketika dia kembali menemui orang tua tadi, muncul di dalam benaknya untuk menyebutkan kisah Nabi Ayyub alaihissalaam.

Setelah bersemuka, Abdullah mengucapkan salam kepada orang tua itu. Setelah menjawab salam, orang itu menanyakan kabar anaknya. Mulailah Abdullah berkata, “Apakah engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub alaihisslaam?” Ia menjawab, “Tentu Nabi Ayyub alaihissalaam.” Abdullah berkata, “Tahu, ‘kah, engkau, cobaan yang telah Allah Berikan kepada Nabi Ayyub alaihissalaam? Bukankah Allah Telah Menguji beliau dengan kehilangan harta, keluarga, dan putra-putra beliau?” Abdullah melanjutkan, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub alaihissalaam terhadap cobaan tersebut?” Orang tua itu menjawab, “Nabi Ayyub alaihissalaam bersabar, bersyukur, dan memuji Allah.”

Abdullah berkata lagi, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabat beserta para sahabatnya.” Orang tua itu menjawab, “Benar.” Abdullah melanjutkan, “Bagaimanakah sikapnya?” Orang tua itu menjawab, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah.”

Abdullah berkata, “Tidak hanya itu, Allah Menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan. Tahu, ‘kah, engkau akan hal itu?” Orang itu berkata, “Iya.” Abdulllah melanjutkan lagi, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub alaihissalaam?” Orang tua itu menimpali, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah. Langsung saja jelaskan maksudmu! Semoga Allah Merahmatimu!”

Abdullah pun menjelaskan, “Sesungguhnya, putramu aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Semoga Allah Melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkanmu!” Orang tua itu berkata, “Segala puji bagi Allah Yang Tidak Menciptakan untukku keturunan yang bermaksiat kepada-Nya, lalu Dia Menyiksanya dengan api Neraka.” Ia pun beristirja’, lalu menarik napas panjang, kemudian meninggal dunia.

Abdullah pun beristirja’, kemudian menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya. Ia duduk di dekat kepalanya seraya menangis. Tiba-tiba, datanglah 4 (empat) orang. Salah seorang dari mereka bertanya, “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?” Maka, Abdullah menceritakan peristiwa yang baru dialaminya.

Kemudian, mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalinya!” Lantas, Abdullah pun membuka wajah orang itu. Seketika, mereka pun bersungkur mencium kening dan kedua tangannya. Mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk, berpaling dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Demi Allah, tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang nyenyak dalam tidur mereka.”

Abdullah bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini? Semoga Allah Merahmati kalian!” Mereka berkata, “Abu Qilabah Al-Jarmi, murid Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Ia sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Kemudian, mereka memandikan dan mengafani Abu Qilabah dengan pakaian yang mereka pakai. Mereka menshalati jenazah mulia tersebut dan menguburkannya. Lalu, mereka pergi.

Pada malam harinya, ketika Abdullah tidur, ia bermimpi melihat orang tadi berada di taman surga. Ia mengenakan dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai berikut.

“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam Surga) karena kesabaran kalian. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 24)

Abdullah bertanya kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui tadi siang?”

Ia berkata, “Benar.”

Abdullah berkata, “Bagaimana engkau bisa memeroleh semua ini?”

Ia berkata, “Sesungguhnya, Allah Menyediakan derajat-derajat kemulian yang tinggi, yang tidak dapat diperoleh, kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa bencana, dan rasa syukur tatkala lapang, disertai rasa takut kepada Allah, baik dalam keadaan bersendirian maupun di depan khalayak ramai.”

Subhanallah.

Sumber: Majalah Qudwah, edisi 5, volume 01, 1434 H./ 2013, rubrik “Uswah”, artikel “Hamba yang Penuh Syukur” oleh Ummu Umar, halaman 9-11.