Membaca Buku

Seiring begitu cepatnya laju informasi yang didapat melalui medium internet, seakan membuat kita semakin malas untuk membaca rupa cetak, terutama buku. “Masalahnya adalah membaca buku menjadi semakin kurang digemari,” demikian ditandaskan Pak Budi Rahardjo, salah seorang dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), pada salah satu tayangan blog beliau.

Apalagi, dengan tersedianya layanan jejaring sosial yang menyajikan pelbagai banyak tulisan yang seakan dirasa dapat menjadi wadah membaca para pengguna internet, terkhusus dari kalangan muda-mudi. Padahal, tulisan-tulisan yang ditayangkan di dunia maya tidak selamanya dan semuanya tersaring dan terpilah dengan baik, belum soal keabsahan materinya. Apalagi jika materi yang ditayangkan media warta digital, tetap tidak dapat dijadikan pijakan akhir dari segalanya.

Berbeda halnya dengan buku. Sekaliber penerbit rintisan baru sekalipun tentu tidak sembarangan dalam menerbitkan buku. Terdapat proses selektif yang diupayakan. Hal itu belum mempertimbangkan sisi penulis yang, biasanya, tidak main-main. Juga, tidak boleh dilupakan pula pihak penyunting (editor) dan rekan-rekannya (seperti: penata layout, bagian pencetakan, dan lain-lain) yang menyaksamai hampir segala sesuatunya. Tidak lupa ihwal bagaimana dan betapa nama dan kredibelitas/ rekam jejak (track record) penerbitan tersebut. Seketat itu, ‘kah, dengan tulisan-tulisan dunia maya?

Saya pribadi sempat miris mendapati beberapa orang yang begitu saja mengonsumsi tulisan dari internet dan menjadikan temuannya tersebut sebagai sumber pijakan mendalam khazanah pengetahuannya. Tentu hal ini sangatlah berbahaya jika ia tidak mencoba meninjau kembali dengan kepustakaan dari tempat lain, terutama buku cetak. Sehingga ia pun menimba pelbagai banyak serbaneka disktraksi yang memengaruhi jalinan konsep berpikirnya jika ia sekadar bermaya ria.

Sungguh beruntung bila apa yang ia baca dari internet tersebut merupakan tulisan yang bermutu baik. Entah bagaimana jadinya bila tulisan yang didapat sekelas tulisan sebagaimana tersaji di blog ini. He he he.

Tidak dimungkiri bahwa membaca buku sangat-masih perlu untuk terus senantiasa digalakkan dan dibudayakan kembali. Kebiasaan ini telah lama luntur. Orang-orang kekinian lebih tertarik membaca berita, kicauan atau status di jejaring maya, dan sebagainya, daripada bahan-bahan pustaka semacam buku (dan/ atau buku elektronik—buku elektronik tetaplah buku, hanya rupanya dalam bentuk elektronik/ digital, jadi masih dapat dipertanggungjawabkan isinya).

Mari membaca buku-buku kembali! Pilah-pilah materi buku nan penuh manfaat! Manfaatkan waktu Anda dengan semanfaat mungkin!

Alangkah eloknya, sebagai muslim, kita hendaknya mengutamakan membaca Quran setiap harinya. Untuk apa kita menginginkan diri untuk membaca buku-buku cetak bermateri pengetahuan umum, tetapi mengabaikan Kalimat-kalimat-Nya? Tidak lupa pula membaca pustaka-pustaka Sunnah semacam kumpulan hadits sahih, penjelasan ihwal fikih kontemporer terkini dan disepakati para ulama ber-manhaj lurus, fatwa-fatwa para ulama tepercaya, serta sumber-sumber Islami lainnya yang autentik. Tentu, harap dicamkan pula untuk jangan belajar ihwal agama-Nya sendiri, yakni dengan manfaatkan pergaulan bersama teman-teman salih dan ber-mulazamah dengan para ustadz/ ustadzah terdekat.