Kerikil Masa

Hari-hari begitu lekas bergegas mendekat menghampiri ujungnya. Namun, kita masih terlalu santai mendapati mati, yang seakan memang hanya sebuah kata berakhirnya semua hal. Sesuatu yang tak dihiraukan. Atau, lupa cara menghiraukannya?

Kita manusia, masih seperti manusia biasanya. Jika memang ada yang luar biasa, itu hanya dibangun di atas prasangka manusia hidup. Sedangkan, manusia yang mati, bagaimana ia memprasangkakan manusia yang luar biasa itu?

Manusia, manusia. Apa yang kalian hasrati dari dunia? Semestinya dunia menjadi ketapel amal di Mata-Nya. Berkali Dia Mengingatkan dalam pelbagai banyak serbaneka ragam Karunia-Nikmat-Nya. Namun, kita sering abai, tak acuh, bahkan mematikan hati sendiri (sehingga tak merasa bersalah kepada-Nya sedikit pun).

Kita terlalu disibukkan dengan keindahan menikmati dan menjalani keduniawian, meletakkan keakhiratan berbatas pada niat semata, “Yang penting, niatnya baik.” Apakah, jika para pendahulu mengetahui keadaan kita sekarang, bakal bergumam, “Sungguh menyedihkan!”..!?

Sya’ban sudah terinjakkan beberapa hari. Ramadan yang terasa begitu dekat sepantasnyalah menjadi alarm mematikan sehingga membuat kita gelisah dan meratap kepada-Nya memohon untuk Diizinkan-Nya bersemuka dengan Bulan Penuh Kegembiraan. Atau, ianya masih dirasa hambar, tidak begitu istimewa karena memang, “Mau bagaimana lagi? Jika sudah waktunya puasa, ya puasa,”..!?