Komunikasi merupakan salah satu wadah aktivitas manusia dalam rangka berhubungan antarsesama mereka. Hal ini bukan sekadar soal saling berkebutuhan lantaran beban sosial yang harus mereka pikul, melainkan pula keadaan yang mau-tidak-mau mereka mau melakukannya.

Proses komunikasi yang terjadi melibatkan, sedikitnya, terdiri dari sepasang manusia yang bewicara. Entah mengapa selalu saja ada yang berinisiatif untuk mengawali komunikasi terlebih dahulu. Penggagas komunikasi mula-mula ini acap disebut sebagai komunikator atau penutur (karena yang mengawali tindak tutur), sedangkan partisipan (persona) dikenal dengan istilah komunikan atau mitra tutur (karena menjadi teman bicara penutur).

Awal Mula Bahasa?
Tuturan-tuturan yang bergema antarmanusia semula berupa tuturan lisan. Mereka dapat saling memahami karena saling berlisan-lisankan (memainkan lisan-lisan) mereka dalam bentuk bunyi-bunyi ujar. Bunyi-bunyi lisan-lisan mereka mainkan agar antarsesama mereka dapat saling memahami maksud dan tujuan didasarkan pada keadaan-keadaan yang menghiasi peristiwa tutur mereka (konteks), tidak begitu dipusingkan peranan mereka sebagai penutur atau mitra tutur. Pada akhirnya, mereka saling bersepakat atas bunyi-bunyi yang mereka ujarkan dan konteks tuturan mereka sebagai bahasa.

Masa berdentang sedemikian lekasnya, segelintir manusia menggelisahkan bahasa-bahasa. Tidak diketahui kegelisahan tersebut didasarkan hal apa. Barangkali, bahasa-bahasa yang tersebar di kalangan mereka yang berbeda-beda dikarenakan asal-muasal kondisi lokasi masing-masing mereka yang beraneka sehingga perlu adanya studi klinis pemetaan bahasa-bahasa tersebut. Bisa jadi pula hal ini terinspirasi hanya soal perlu adanya pengkajian bahasa. Akan tetapi, terlepas dari hal-hal itu, tidak dimungkiri bahwa itu semua dapat terjadi lantaran Izin Allah Semata.

Terpaksa atau bersenang hati, sebagian manusia memikirkan bahasa. Hal pertama yang mereka lakukan adalah mendata bahasa-bahasa lisan (bunyi-bunyi tutur) dengan cara metranskripsikannya. Transkripsi bahasa adalah kegiatan mengalihkan (memindahkan, mewujudkan) bahasa lisan ke dalam bentuk tulis. Hal ini dilakukan agar bahasa yang semula berbentuk bunyi ujaran tersebut dapat dilihat secara kasat mata. Tidak ada yang instan dalam kegiatan transkripsi bahasa ini sepanjang kehidupan manusia. Kegiatan ini selalu saja diwarnai dengan pelbagai suka-duka oleh para pemerhati bahasa, baik pemerhati tersebut mengatasnamakan lembaga tertentu maupun sekadar hasrat pribadi pecinta bahasa.

Sifat bahasa yang dinamis tidak serta-merta menyebabkan aktivitas transkripsi bahasa terhenti. Agenda kegiatan tersebut diiringi dengan sedikit demi sedikit dan serius untuk lebih mendalami bahasa. Kemudian, berkembanglah pelbagai banyak perkataan atau pendapat dari banyak orang pebelajar bahasa. Sebagaimana sifat bahasa, pendapat-pendapat tersebut juga tidak mengendap statis atau terpenjara pada aksioma-aksioma atau polutan-polutan tertentu. Hingga pada muara simpulan (akhir, tetapi bukan berarti berakhir: “Last, but not least.“) dari para pemerhati bahasa dengan pendapat-pendapat yang disertai argumentasi kuat dan disepakati kebenaran ilmunya sehingga melahirkan khazanah teoretik bahasa. Para pemerhati yang pendapatnya dipegang sering dijuluki ahli/ pakar bahasa atau bahasawan (munsyi).

Dapat disintesiskan bahwa bahasa-bahasa di dunia dikaji sedemikian rupa. Awal mula pengkajian bahasa didasarkan dari bahasa lisan yang diujarkan manusia yang ditranskripsikan. Setelah diperoleh data transkripsi ujaran-ujaran bahasa tersebut, kemudian ditelaah dari pelbagai sudut pandang. Sudut pandang yang bermunculan seiring berjalannya waktu melahirkan pula warna-warni yang semakin menambah khazanah teoretik studi bahasa secara spesifik. Tersepakatilah ilmu khusus yang mengkaji bahasa-bahasa dengan istilah linguistik.

Ilmu Bahasa: Linguistik
Linguistik merupakan ilmu yang mengkaji bahasa. Banyak munsyi menamakan linguistik sebagai linguistik umum (dengan menambah kata umum setelah kata linguistik) karena sifatnya yang masih universal (masih perlu dipilahkan/ diturunkan lagi). Linguistik dicabangkan menjadi 2 (dua), yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik.

Mikrolinguistik merupakan cabang linguistik yang mengkaji bahasa pada ranah teoretik struktur bahasa. Studi linguistik ini lebih ditekankan pada apa dan bagaimana bahasa lisan dan tulis dibidik dari sudut pandang bentuk dan fungsinya. Dengan kata lain, dalam kajian mikrolinguistik, bahasa dipandang sebagai objek yang fundamental teoretis. Ibaratnya, ia dikaji dari formulasi temuan-temuan munsyi mula-mula atau belakangan, selayaknya belajar matematika melalui rumus-rumusnya (hal ini sekadar pengibaratan secara garis besar, bukan kesejatiannya). Lain halnya dengan makrolinguistik yang mengkaji bahasa pada ranah terapan (praktik) ketika bahasa dituturkan dalam wujud nyata dengan melihat konteksnya.

Pada hakikatnya, baik mikrolinguistik maupun makrolinguistik, keduanya tidak dapat dipisahkan ketika proses pengkajiannya. Pemilahan kajian mikro-makro ini dilakukan sekadar untuk memudahkan pendalaman studinya, bukan sepenuhnya memisahkan dan membedakan kepentingan ilmunya. Kedua cabang linguistik ini sangat penting untuk didalami secara beriringan karena antara satu dan lainnya saling melengkapi.

Mikrolinguistik diklasifikasikan ke dalam banyak cabang, di antaranya: fonologi (studi ihwal bunyi ujar), morfologi (mengkaji proses pembentukan kata), sintaksis (memelajari struktur kalimat), semantik (menelaah ujaran secara maknawi), dan wacana (mendalami paragraf dan tulisan secara menyeluruh). Sementara itu, makrolinguistik dikaji dari tidak kalah banyak turunan studinya, seperti: pragmatik (telaah teks-koteks dan konteks, serta kesantunan berbahasa), psikolinguistik (pengkajian perilaku berbahasa manusia, lebih disukai pada pengkajian pemerolehan bahasa), sosiolinguistik (studi bahasa didasarkan pada aspek penggunaan bahasa pada ranah interaksi sosial), neurolinguistik (bahasa didalami dari sudut pandang medis: saraf otak), dan lain-lain.

Berdasar pada uraian di atas, pendek kata, dapat disampaikan bahwa bahasa bukan sekadar sarana penting dalam kehidupan manusia, ia bahkan dapat diselidiki dan diteliti lebih dalam lagi melalui ilmu bahasa (linguistik), terutama melalui cabang-cabang ilmunya. Salah besar jika masih ada sebagian kalangan yang memandang sebelah mata berkenaan dengan studi kebahasaan, apalagi studi bahasa Indonesia. Sebagai bagian dari bangsa besar Indonesia, hendaklah patut berbesar jiwa untuk tidak abai menyibukkan diri dengan memelajari bahasa Indonesia.

Selamat mendalami ilmu bahasa, dan tidak lupa bahasa Indonesia, dengan baik lebih lanjut!