Surel

“Kita sambung wicara lewat udara, ya Bung! Saya tunggu e-mail Anda.”

Barangkali, Anda pernah mendapati percakapan di atas, atau bahkan Anda sendiri pernah mengalaminya. Hal yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas keseharian kita, para pengguna jejaring maya, dalam berkomunikasi menggunakan surat elektronik (surel). Dalam bahasa Inggris, surel diistilahkan sebagai e-mail atau email. Keduanya, baikĀ e-mail maupunĀ email, dapat digunakan dalam bahasa asing tersebut. Perbedaannya hanya pada kebiasaan penggunaannya. Ketika ada orang yang bertutur dalam ranah bahasa Inggris ragam Kerajaan Inggris Britania Raya (United Kingdom, UK), mereka biasa menggunakan kosakata e-mail (ada tanda/garis pemisah: []). Lain halnya ketika di Amerika Serikat, orang-orang di sana cukup familiar dengan email atau hanya mail.

Masihkah Anda mengingat ketika memiliki alamat surel untuk pertama kali? Rasanya, bagi Anda yang berkelahiran `80-an atau `90-an, hal ini akan mengingatkan pada pengalaman menggunakan surel dari beberapa layanan yang mahsyur kala itu, seperti Yahoo! Mail, Hotmail oleh Microsoft, Mail.com, GMX.de dari Jerman, Lycos yang cukup populer di Inggris, dan lain-lain.

Kita tidak lupa bagaimana Tekom.net Mail, Plasa.com (kekinian telah berganti nama menjadi Plasa MSN), Indo.net.id, dan lain-lain, cukup banyak digunakan rakyat Indonesia pada masa itu–atau mungkin hingga sekarang. Gmail bukanlah pionir, tetapi cukup sukses dan mendominasi pada beberapa tahun terakhir—untuk layanan ini, saya masih sangat mengingat awal mula memiliki akun surel dari Google ini, yakni atas jasa baik Pak Aloysius Heriyanto; terima kasih, Bapak.

Kita tidak akan membahas perihal hakikat surel pada tulisan ini, sudah ada begitu banyak pustaka perihal layanan ini di internet. Fokus pembicaraan kita pada kosakata surel dalam bahasa Indonesia.

Lembaga yang menangani dan bertanggung jawab atas eksistensi bahasa Indonesia, Badan Bahasa, telah merumuskan padanan kata surel, yakni pos-el (kependekan dari pos elektronik). Namun, menurut saya, kosakata ini masih kurang dikenal oleh para pengguna internet di Indonesia.

Surel masih populer dan jamak digunakan. Barangkali, hal ini digara-garai—dengan Izin-Nya—oleh para penggemar bahasa Indonesia di media sosial dan para wartawan koran/majalah digital. Entah sejak kapan awal mulanya digaungkan hingga relatif menyebar luas pada dewasa ini sehingga surel lebih dapat mengakrab dan menjadi lazim daripada pos-el. Sebuah fenomena atau gejala yang tidak dapat disangkal. Barangkali, bisa jadi, kelak kosakata ini akan diusulkan kuat sehingga dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi mendatang. Mengapa tidak…?