Latif Anshori Kurniawan

Faedah Berbahasa Indonesia

Bertanya

Pernah, pada suatu ketika, saya melayangkan kesempatan untuk bertanya kepada teman-teman mahasiswa. Namun, ada hal yang mengganjal, seakan mereka sebenarnya ingin bertanya, tetapi kurang greget untuk mengutarakannya. Hal ini tampak dari perubahan respons mimik mereka. Tentu saya tidak dapat membaca isi hati mereka, hanya dapat melihat pergerakan wajah yang terjadi, menandakan suatu hal yang entah apa.

Kalaupun ada yang bertanya, yang mengajukan pertanyaan pun masih kurang variatif. Dengan kata lain, masih didominasi oleh yang itu-itu saja. Kalau mendapati sedikit mahasiswa yang bertanya atau bahkan tidak ada yang bertanya sama sekali, saya acap berasumsi pada beberapa kemungkinan, di antaranya: mereka memahami pokok pembicaraan atau mereka memang kebingungan (dan sungkan jujur untuk menyampaikannya—he he he).

Beberapa kali saya lecut mereka untuk ‘sedikit bersuara’, sekalipun itu sekadar bercoletah canda tidak begitu penting. Entahlah, saya lebih menyukai kelas yang ramai (penuh gairah). Untuk memuluskan hal ini, intonasi suara kerap saya tinggikan—kalau tidak boleh dikatakan berteriak-teriak. Jika ada suara lantang yang digemakan, cukup dapat menarik perhatian, bukan?

Aktivitas bertanya merupakan salah satu bagian aktivitas berdiskusi yang menuntut respons jawaban dari siapa pun yang menyimaknya. Kadang kala, banyak yang beranggapan sebagai berikut.

  • “Untuk apa bertanya jika hal itu malah membuat masalah?”
  • “Untuk apa bertanya terlalu banyak jika hal itu malah membuat malu (malu-maluin).”
  • “Untuk apa bertanya jika sudah tahu jawabannya?”
  • “Untuk apa bertanya jika kita dapat mencari jawabannya nanti?”
  • Lainnya?

Barangkali, di antara beberapa ujaran di atas, pernah terlintas dalam benak Anda. Apapun alasannya, rasanya, tidak ada salahnya bertanya. Dengan syarat, harus dapat mengendalikan diri.

Mengendalikan diri yang dimaksud adalah bagaimana kita dapat menempatkan diri ketika bertanya. Dengan kata lain, kita harus melihat konteksnya. Tidak mungkin, bukan, ketika berlangsung perkuliahan Apresiasi Prosa Fiksi misalnya, hal yang ditanyakan berkait dengan harga sembako di pasar? Kalaupun terpaksanya ada yang sedikit slenco seperti itu, bukan masalah bagi saya, sebagai selingan. Pendek kata, saya sudah cukup senang jika ada yang bersuara.

Kalau sekadar meperturutkan kesenangan saya, tentu hal ini sangat egois. Baik, kemungkinan saya yang akan berbanyak tanya kepada teman-teman mahasiswa dalam sesi diskusi di kelas atau di mana pun–insya Allah. He he he.

Bertanya merupakan salah satu aktivitas interaksi dalam pergaulan sosial antarsesama kita di mana pun tempat yang memungkinkan untuk berkomunikasi. Baik diprakarsai oleh penutur maupun ditanggapi oleh mitra tutur, kegiatan tanya-tanya selalu menghiasi. Mau tidak mau, atas Izin-Nya, akan senantiasa ada aktivitas tanya-jawab antarkita pada ruang apa pun dan media mana pun.

Minimal kepada diri sendiri, cobalah bertanya! Sudahkah Anda bertanya hari ini?

Previous

Surel

Next

Citra Profil L: Tiada Korelasi Ormas/Partai

1 Comment

  1. Saya minta maaf, Pak, sebelumnya. Saya ingin memberi tanggapan mengenai tulisan Bapak di atas.

    Ya memang benar, kadang seorang mahasiswa merasa bingung untuk mengungkapkan kata-kata yang baik dan sesuai tentang hal yang ingin ditanyakannya. Jika tidak demikian, pertanyaan yang ingin diajukan sedikit menyeleweng dari pembahasan, ia merasa takut jika pertanyaan itu akan membingungkan teman-temannya yang lain, atau jika seseorang sering bertanya akan timbul kesan “pintar” (dalam makna yang berbeda). Jika kesan “pintar”-nya tersebut tidak dapat disesuaikan dengan nilainya. Ia akan merasa tidak enak hati, “Sudah banyak tanya, kok tetep ga tau, nilainya juga biasa-biasa saja.” Mungkin seperti itulah kiranya.

    Menurut pendapat Bapak, bagaimana cara mengatasi perasaan-perasaan tersebut? Sebelumnya, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén