Privasi

Setiap orang memiliki privasi. Privasi antara orang yang satu dan orang yang lain teramat berbeda. Kita pun tidak dapat menggeneralisasikan paradigma privasi antarsesama kita.

Menyamakan persepsi pun adalah hal yang tidak mudah—atau boleh jadi mustahil. Barangkali, sulit untuk menyatukan paradigma/ konsep privasi yang sama. Setidaknya, kita tidak saling melanggar antara yang satu dan lainnya. Namun, tampaknya hal ini masih dirasa sulit untuk direalisasikan.

Acap kali, baik disengaja maupun tidak, kita masih dapat menjumpai pelbagai pelanggaran privasi. Ahem, pelanggaran yang entah benar-benar melanggar atau tidak. Seperti yang saya sebut sebelumnya, masing-masing kita memiliki sudut pandang perihal keprivasian yang beraneka ragam.

Sebagian orang, terutama yang masih lajang, masih merasa terganggu bila ditanya, “Kapan nikah?” Saya tandaskan: sebagian (tidak semua). Sangsi, deh, apabila tiada seorang pun yang menanyakan perihal ini, berbeda rasanya—he he he. Lain hal dengan pandangan sebagian jomlo yang lain, yang merasa memeroleh kesempatan didoakan untuk bersegera menikah—amin.

Ada juga sebagian pasangan, yang belum Allah Karuniai putra-putri, merasa risih saat dikonfirmasi. Atau, serbaneka lain-lainnya. Alangkah elok kita jaga privasi mereka.

Kadang, dengan dalih keakraban dalam berinteraksi sosial, banyak privasi dilanggar, bukan? Namun, tidak mengapa, alhamdulillah, Allah Menciptakan jamak manusia Indonesia sebagai manusia yang pemaaf—he he he.

Bukan hal nan bertaut nasi sudah menjadi bubur. Asal kita berhati-hati dan penuh saksama dalam bercakap dengan sesama, insya Allah, privasi antarkita dapat terjaga dengan semestinya.

Selamat menjaga privasi antarsesama!