Menahan Diri

Sungguh tidak mudah bersabar. Bersabar tidak sekadar untuk menahan diri dari pelbagai wujud emosi. Saat sedih, kesabaran diperlukan. Sekalipun dalam suasana hati bahagia, tidak ayal masih diperlukan kesabaran meskipun tidak mudah.

Sabar dalam berperilaku mengantarkan kita pada kebaikan nan berlipat-lipat, apalagi bila berhubungan dengan ranah sosial (bermuamalah antarsesama manusia). Bahagia yang terlalu berlebihan juga tidak baik, ia dapat menggoncang marwah batin yang ingin tetap stabil dalam kesabaran.

Bahagia yang terlalu berlebihan acap menjuruskan kita pada pelbagai canda nan menciderai, baik secara langsung maupun bertahap, baik secara sengaja maupun tidak disadari. Tentu saja, kesabaran tidak mengabaikan kesadaran. Kesadaran dalam beperilaku/ bertindak, kesadaran dalam bertutur/ berucap.

Mengelola bahagia agar tetap dalam kesadaran bukanlah hal yang sulit sebenarnya. Hal ini memerlukan (lagi-lagi) pembiasaan: membiasakan diri untuk selalu tenang. Ketenangan hati tidak melulu dipancarkan dari ketenangan gurat eskpresi tubuh. Kita pun masih dapat bertindak tegas dan mantap berhiaskan ketenangan.

Tenang tidak berarti lembut. Ini soal hati yang diejawantahkan dalam sikap yang tepat.

Barangkali, sesi menulis saya kali ini sedikit membingungkan dan berputar-putar. Saya harap Allah Tidak Murka atas hal yang saya tulis ini. Sshh….

Mari belajar menahan diri!