Anugerah Hujan Musim Ini

Alhamdulillah, tadi malam, Kota Semarang diguyur hujan. Meskipun saya kurang dapat merasakan-nya langsung, masih terdapat sisa-sisa bekas air hujan membasahi jalanan yang dapat dicium aromanya—aroma tanah setelah tersirami air hujan: sungguh aroma yang teramat khas. Sekali lagi, alhamdulillah. Semestinya pula terlantun doa—yang diajarkan dan dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—saat mendapati dan/atau mengiringi hujan yang turun tersebut.

Hujan yang datang bertepatan dengan pelbagai musibah—err, saya lebih suka diksi: cobaan—di Indonesia. Indonesia mendapati banyak cobaan dari Allah Ta’ala. Alhamdulillah. Cobaan demi cobaan di negeri ini berdatangan silih berganti. Salah satunya adalah cobaan dalam wujud musibah kekeringan yang melanda. Kekeringan yang terjadi semestinya dapat dijadikan cambuk amal ibadah rakyat Indonesia untuk semakin berbakti kepada Rabb mereka.

Musim kemarau yang luar biasa menyulut beberapa cobaan lainnya. Salah satunya adalah kebakaran (atau pembakaran?) hutan yang terjadi di sekitar Borneo. Hal ini juga terjadi lantaran atas Izin-Nya semata, tentu Dia Yang Punya solusinya. Subhanallah, Dia Yang Mengatasi berbagai cobaan tersebut, salah satunya dengan Menyiramkan air hujan-Nya.

Mayoritas wilayah di Indonesia, termasuk daerah yang teruji dengan musibah kebakaran hutan, memeroleh air hujan-Nya. Alhamdulillah,

Kekeringan berbulan-bulan Dienyahkan-Nya dalam hujan yang sebentar. Subhanallah.

Hujan yang Diguyurkan-Nya memang sebentar, tetapi sebentar menurut batasan sudut pandang batin kita yang teramat lemah. Kata sebentar yang faedahnya sungguh luar biasa. Inilah Mahakuasa Allah yang tidak dapat diukur dengan logika kita.

Hujan ini adalah jawaban dari-Nya, dari permintaan dan hasungan pemerintah Indonesia untuk mengadakan salat Istiqa (salat memohon hujan kepada-Nya) yang ditunaikan oleh sebagian Mukminin di Indonesia. Masya Allah, alhamdulillah.

Nikmat mana lagi yang akan kita dustakan?