Beberapa turunan (derivatives) Linux Slackware telah dirilis. Dari belahan Dunia Barat hingga Timur, dari popularitas Zenwalk hingga Salix, tiap distribusi Linux membawa kekhasan tersendiri. Pada kesempatan kali ini, kita akan mengetengahkan salah satu turunan Slackware, yaitu: Linux Plamo.

Plamo merupakan distribusi Linux berbasis (didasarkan pada) Slackware. Distribusi ini merupakan salah satu distribusi tertua dari Jepang. Plamo bertujuan membawa kesederhanaan fitur yang kaya dari Slackware bagi para pengguna Linux di Jepang. Namun, sedikit atau banyak, Linux ini dirancang untuk pengalaman elok dan mendalam para pengguna yang telah akrab dengan dunia Linux. Plamo menyajikan serbaneka lingkungan destop, di antaranya: Xfce, MATE, dan AfterStep.

Plamo versi terkini telah dirilis. Versi terbaru telah mencapai 6.0 (Oktober 2015). Penomoran versi yang telah ditingkatkan (upgraded) merefleksikan pergerakan distribusi ini ke kernel Linux seri 4.x. Paket-paket lainnya yang lebih menarik di antaranya sebagaimana disebutkan di bawah ini.

  • Kernel Linux 4.2.3—bagaimana dengan versi Long-term Service (LTS)—versi jangka panjang?
  • MATE 1.10—ah ya, versi terbaru dari kabar linimasa Pak Willy Sudiarto Raharjo tidak elok untuk dilewatkan.
  • Firefox 41.0.2—tergolong stabil, meskipun versi 43.x adalah tantangan tersendiri.
  • LibreOffice 5.0.2—5.x merupakan versi terkini dari suite perkantoran ini.
  • Banyak lainnya.

Program pemasang sistem (installer) Plamo dan beberapa peralatan yang berbasis grafis dan teks telah diperbarui dan telah didukung dalam bahasa Jepang. Ketika sebuah distribusi Linux dirilis di Jepang, tradisinya adalah Linux tersebut selalu memperoleh dukungan dalam bahasa Jepang secara penuh. Hal ini mengingatkan saya pada beberapa tahun lalu bahwa saya perlu mengubah antarmuka (interface) Slackware saya, baik pada rupa grafis maupun baris perintah (command line), ke dalam bahasa Indonesia. Actually, hal ini sangat mudah dilakukan, ketika kita ingin switch bahasa antarmuka di Slackware. Khususnya KDE, ketika Anda ingin menggunakan KDE dalam bahasa Indonesia, cukup dengan mengunduh lokalisasi KDE (KDE Localization) di lumbung KDE yang dapat diakses.

Coda
Plamo merupakan salah satu distribusi Linux yang bagus. Ia tidak akan perlu bersaing dengan turunan Slackware lainnya (Zenwalk, Salix, Vector), versi current Slackware, versi Live-nya, atau bahkan distribusi Linux Jepang lainnya (seperti Vine—keluarga RPM), bahkan non-Linux (FuguIta—berbasis OpenBSD). Maksudnya adalah masing-masing distribusi memiliki karakteristiknya sendiri. Untuk Plamo, mengapa tidak memberinya kesempatan?

Di luar Plamo, maksud saya adalah distribusi mayornya, yaitu Slackware, saya masih menanti Slackware versi berikutnya dirilis. Versi terkini Slackware selalu tersedia untuk diunduh setiap bulannya.

Versi beta terkini (current) dari Slackware telah dirilis pada bulan ini. Sayang sekali, saya masih menikmati menggunakan paket peranti (packages) dengan nomor-nomor lawas—he he he. Berencana—insya Allah—untuk memasang ulang atau do fresh installation setelah versi stabilnya (setelah nomor 14.1, barangkali bernomor 14.2) dirilis—sungguh, saya tidak dapat menunggu lama.

Saya berasa Slackware versi berikutnya akan dipoles dengan kecanggihan teknologi Qt 5.x dan Plasma KDE 5.x paling kini. Sebagaimana jamak diketahui tradisi Slackware yang masih mempertahankan peranti agak kuna guna menjaga stabilitas dan kebandelan sistem maka masih acap didapati peranti-peranti beversi belum kekinian.

Apakah ada di antara Anda yang masih setia menggunakan Slackware atau turunannya (selaik Plamo) hingga hari ini?

(*Tulisan ini tersedia pula dalam bahasa Inggris yang dapat diakses di Planet Slackware Indonesia.)