Cukup lama tidak menuangkan tulisan di blog. Entah belum ada waktu khusus untuk mengeblog atau memang malas saja. Barangkali, yang disebut terakhir merupakan kejujuran dari lubuk hati yang paling dalam.

Terasa jauh sekali dari semangat bapak/ibu narablog yang nyaris menulis setiap hari, seolah mereka beprinsip: satu tulisan untuk satu hari. Padahal, mereka bukanlah orang yang tidak sibuk dengan segudang aktivitas setiap harinya. Tengoklah selaik Pak Budi Rahardjo, Pak Aloysius Heriyanto, bahkan berpadat pekerjaan selaik Pak Ariya Hidayat pun masih sempat mengeblog (berbagi hal yang berfaedah).

Bisa jadi, beliau-beliau tidak hanya mengisi di satu blog, barangkali ada blog atau tempat berbagi daring dengan menulis lainnya. Menulis di beberapa blog sekaligus tentu membutuhkan energi dan perhatian tersendiri. Satu blog saja, jika rutin diisi, belum tentu dapat saya lakukan dengan baik.

Jika Anda meramban Google, didapati beberapa blog yang saya buat. Dari hari ke hari, blog-blog tersebut seakan tidak terawat dan semakin menyampah di dunia maya. Rasanya sudah waktunya semua blog saya disatukan ke dalam satu rumah (hosting) saja.

Sebelumnya, saya acap menulis di latifanshori.com. Banyak faedah yang sempat tersemat di blog ini, tetapi lenyap sebab kendala teknis. Saya kurang cekatan dan kurang tahu-menahu bagaimana mencadangkan pranala-pranala yang amat bermanfaat bagi teman-teman yang ingin belajar bahasa Indonesia dan agama Islam di sana.

Saya baru menyadari belakangan bahwa fungsi ekspor pada plug-in WordPress hanyak mencandangkan konten, bukan pranala-pranala yang terdapat di dalamnya. Konten yang dicadangkan pun tidak semua, hanya berbatas pada isi tulisan dan komentar, acap kurang berhasil mencandangkan media yang sudah terunggah, dan sebab keberbatasan pengetahuan saya perihal ini. Sesal tinggallah sesal, elok tetap bersyukur dan menatap ke depan–apalagi toh sekadar pernik duniawi.

Nama domain .COM tersebut saya rasa masih cukup panjang atau kurang simpel. Selain itu, tujuan web dengan domain ber-dotcom pun berbeda dengan penggunaan domain lainnya. Hal ini tidak mutlak, tetapi disepakati bersama .COM acap bertujuan komersial. Karena jamak konten dalam bahasa Indonesia (meskipun beberapa masih dalam bahasa Inggris, saya ingin menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia), saya ingin menggunakan doman .ID dan melanggan peladen yang tersedia di dalam negeri.

Seluruh konten dari blog sebelumnya, yaitu latifanshori.com, dimigrasikan ke sini (latif.id). Ada beberapa masih di kampus UNS (latif.blog.uns.ac.id) dan UPGRIS (dosen.upgris.ac.id), keduanya pun saya hijrahkan ke sini. Sebenarnya, ada blog lain yang mengatasnamakan saya pada layanan blogging gratisan, tetapi saya terlupa apakah benar blog-blog tersebut adalah milik saya dulu. Bukan maksud beramnesia, melainkan memang sudah jamak tidak merawat dan menyaksamai blog atau media sosial lainnya selain yang saya sebut pada laman Sosial.

Tulisan ini merupakan tayangan/pos perdana, terutama dengan domain .ID ini. Mengapa tidak .NET, .ORG, .ME, atau selainnya, toh blog ini masuk dalam kategori blog pribadi (personal blog)? Domain .ID terbilang baru dengan pengelolaannya di bawah payung PANDI, pemerintah, dan beberapa pihak lainnya.

Memang, .ID tidak sepopuler .COM atau dotdot lainnya. Patut kita apresiasi segenap upaya pengadaan domain .ID ini dari putra-putri terbaik bangsa yang telah mengusahakannya. Terlepas dari cinta tanah air atau selainnya, saya sejatinya hanya ingin menggunakannya. Asa sejak lama. Nama domainnya tampak simpel, singset (sehingga mudah diingat), dan mantap.

Sempat khawatir tidak peroleh latif.id lantaran begitu banyak nama depan orang di seluruh penjuru dunia bertajuk latif. Apalagi, perkembangan internet dewasa ini menyebabkan jamak orang mudah mengupayakan pengamanan/pengavlingan nama domain sedini mungkin. Belum bila mengingat bulan-bulan domain .ID masih dalam tahap awal dogodok (belum dilepas ke publik) sehingga biayanya pun amat memar. Alhamdulillah, Allah Mengizinkan dan Menitipkan latif.id ini kepada kami melalui salah satu jasa hosting yang basis lokasi utamanya di Yogyakarta.

Di samping itu, kami memasang protokol secure HTTPS. Hal ini dimaksudkan agar pengunjung peroleh jaminan keamanan saat mengunjungi blog ini. Elok memang tertulis pada peramban Anda sebagai https://latif.id sehingga dapat dipastikan bahwa HTTPS-nya telah tertanam dengan semestinya.

Sementara ini, kami masih menggunakan WordPress. Namun, tidak disegerakan disinkronisasikan dengan peranti Jetpack. Memasang Jetpack memang akan didapat serbaneka faedah dan fitur-fitur ciamik dari perusahaan produsen WordPress, yaitu Automattic. Sekadar belum memfungsikannya sebab bagi kami, belum begitu urgen dan signifikan sekarang. Malah, ada wacana untuk menstatiskan blog ini. Apabila menjadi statis, salah satu manfaatnya, blog ini akan terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Sejauh ini, menggunakan mesin kode WordPress masih menjadi pilihan mantap dan final—insya Allah.

Terlepas dari tatanan layout atau tampilan yang masih berantakan, mesti ditata ulang beberapa hal, bukan masalah signifikan. Semoga, dengan kehadiran rumah baru ini, dengan Izin Allah, menjadikannya sebagai wasilah kebaikan dan kebermanfaat bagi khalayak—amin. Semoga saya Diizinkan-Nya untuk dapat mengeblog secara rutin lagi—amin.

Selamat membaca kembali tulisan-tulisan di sini! Semoga berfaedah!