Dari hari ke hari, penderitaan rakyat muslim di Halab (Aleppo, Suriah) makin menjadi. Tidak sedikit korban jiwa berjatuhan dan bergelimpangan. Tidak sedikit kaum muslimin di sana berhijrah (mengungsi) ke wilayah yang dirasa lebih aman dan lebih baik.

Bantuan berdatangan silih berganti bagi para pengungsi Aleppo. Tidak terkecuali pemerintah Arab Saudi, yang memperlakukan segenap para pengungsi dengan baik dan menganggap mereka sebagai tamu, bukan sebagai pengungsi. Hal ini direalisasikan pemerintah Negeri Tauhid ini dengan membuat beberapa tempat yang lebih layak daripada negara lainnya untuk muslim Aleppo.

Pemerintah Suriah sendiri melakukan pembunuhan masal terhadap kaum muslimin di Aleppo dengan dalih membasmi pemberontak. Sungguh mengherankan antara realita yang ada dan pernyataan mereka di forum-forum internasional. Yang justru dibunuh oleh pemerintah (beragama Syiah) Suriah adalah kaum muslimin yang tidak berdosa, mereka tidak membasmi apa yang mereka istilahkan sebagai pemberontak atau teroris. Mereka tidak membasmi terorisme dengan baik, yang semestinya dilakukan dengan cermat dan hati-hati, tetapi malah membabi-buta membunuh kaum muslimin tanpa pandang ampun.

Tidak dapat dimungkiri bahwa pemerintah Suriah merupakan pemerintahan beragama Syiah (hakikat Syiah adalah bukan Islam, meskipun mereka selalu mengatakan sebagai penganut atau atas nama Islam). Sementara itu, rakyat mereka tidak sedikit yang beragama Islam. Oleh karena itu, pemerintahannya pun dengan leluasa melegalkan pembunuhan masal terhadap kaum muslimin karena perbedaan akidah ini.

Awal mula pemberontakan di Suriah terjadi karena provokasi sebagian orang di luar Suriah untuk memberontak kepada pemerintah Syiah Suriah. Mereka menghasung kaum muslimin Suriah untuk memberontak kepada pemerintah Basyar al-Assad. Ringkas kisah, terjadilah pemberontakan, dan inilah yang menjadi dalih pemerintahan Al-Assad untuk membunuh kaum muslimin.

Sungguh miris mendapati bencana kemanusiaan ini. Kaum muslimin di Aleppo terimpit antara dua keaadaan dari dua kekuatan, yakni radikalis nonmuslim Al-Assad (dibekengi pemerintah Syiah Iran–dengan kelompok Syiah Hizbullah–plus dukungan pemerintah Rusia) dan kelompok radikal Khawarij yang terprovokasi untuk melakukan pemberontakan.

Makin mengherankan jika mendapati para provokator pemberontakan dapat dengan mudah menikmati dunia mereka, bercengkerama bersama anak-anak dan keluarga mereka, tanpa memberikan empati sama sekali kepada rakyat muslim Suriah yang tidak berdaya, yang telah menjadi korban sehingga terpaksa mengungsi. Apakah mereka tutup mata dan telinga dengan tragedi ini? Apakah mereka tidak pernah mendengar atau mendapati seruan para alim ulama agar tidak menyerukan pemberontakan, sekalipun kepada pemerintahan kufar? Apakah mereka akan kembali menyalahkan Arab Saudi dan negara Islam lainnya karena tidak peduli dan tidak menentang pemerintahan Basyar al-Assad, atau kemudian memprovokasi kaum muslimin lainnya untuk beraksi dengan demontrasi di negaranya masing-masing? Sementara itu, di sisi lain, mereka dapat tertawa lepas di rumah-rumah nyaman mereka, seolah tidak terjadi apa-apa.

Pertempuran pun tidak terelakkan antara pemerintah Suriah dan radikalis Khawarij yang terprovokasi. Namun, yang menjadi korban adalah warga-warga sipil muslim yang tidak berdosa, anak-anak yang tidak tahu-menahu perihal fitnah yang berkobar di negerinya, serta para orang tua dan para wanita yang lemah tidak berdaya atas apa yang terjadi di wilayahnya.

Jika menilik latar belakang kejadian, tragedi yang terjadi di Suriah berbeda dengan tragedi yang terjadi di Yaman. Di Yaman, pemerintah Islam Yaman diberontak oleh segerombolan Syiah Hutsi. Alhamdulillah, pemerintah Yaman, yang dibantu Arab Saudi dan koalisi negara Islam lainnya telah membantu Yaman dengan maksimal hingga tertumpaslah para pemberontak tersebut. Harap dicatat: Iran, Suriah, dan beberapa negara berpemerintah Syiah lainnya tidak turut bergabung dengan koalisi tersebut, bahkan pemerintah Iranlah yang mendukung dan menyuplai persenjataan dan perbekalan para pemberontak Hutsi.

Perlu ditekankan bahwa Arab Saudi beserta negara Islam yang berkoalisi tidak membunuhi rakyat Yaman, mereka hanya menumpas pemberontak Syiah Hutsi. Penumpasan ini pun didasarkan atas permintaan presiden Yaman sendiri kepada pemerintah Arab Saudi (langsung menghadap dan bersemuka Raja Salman) untuk membantu dalam penumpasan para pemberontak tersebut. Namun, sangat disayangkan, mendapati beberapa media malah menyudutkan Arab Saudi, menganggap tragedi di Yaman adalah perihal perebutan wilayah karena tanah di Yaman masih sangat berpotensi untuk meraup pundi-pundi duniawi. Lebih menyedihkan lagi, media-media tersebut menggemborkan tagline yang menggiring pada sesat pikir (mislead): ‘Saudi memborbardir Yaman’. Wallahul Musta’an.

Dari mana media-media tersebut memperoleh perkataan-perkataan tersebut kalau tidak dari segenap pihak yang membenci Arab Saudi, seperti: orang-orang beragama Syiah, pemerintah Syiah Iran dan sekutunya, para teroris Khawarij, para liberalis, para radikalis kiri, bahkan para radikalis nonmuslim dari negeri-negeri kufar.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Iran adalah negara yang sangat membenci Arab Saudi, menyulut peperangan di jazirah Timur Tengah (acap bekerja sama dengan pasukan Syiah kebanggan mereka dari Libanon, yakni Hizbullah), bekerja sama dengan negeri-negeri kufar ketika memerangi kaum muslimin di beberapa negara Islam, tidak pernah menyerang Negeri Yahudi yang bernama Israel (yang ada hanyalah sandiwara, banyak keserupaan antara Syiah dan Yahudi), menebarkan kebencian yang menyudutkan pemerintah Saudi. Pemerintah Syiah Iran adalah dalang dominan dari pelbagai kekacauan di jazirah arab. Sekali lagi, peperangan yang jamak terjadi di Timur Tengah bukanlah peperangan yang memperebutkan tanah (baca: berebut minyak), bukan perihal perebutan wilayah atau kekuasaan, bukan pula perang antarsuku atau antarkabilah selaik masa jahiliah lampau, melainkan peperangan yang jamak disulut oleh orang-orang Syiah (dan tidak lupa beserta Khawarij).

Telah jamak diketahui masyarakat dunia hakikat pemerintah Iran dan sekutu Syiah mereka. Jamak didapati fakta-fakta bahwa mereka sejatinya membantu para teroris Khawarij, semacam Al-Qaeda, ISIS, dan nama-nama organisasi radikal lainnya, ketika para Khawarij tersebut memerangi negeri Islam, seperti Negeri Tauhid Arab Saudi, Yaman, Mesir, dan lainnya. Dengan Khawarij, Iran bermesraan karena–lagi-lagi–kepentingan mereka sama, yang disebabkan mereka tidak sejalan dengan negeri-negeri Islam.

Tidak heran jika mereka acap berdusta (berbohong tingkat mengerikan, menyebarkan berita palsu dan khianat) lantaran berdusta dan memfitnah merupakan hal yang dibolehkan dalam agama mereka. Janganlah bermudah-mudahan untuk langsung percaya bahwa Syiah Iran juga memerangi terorisme! Salah satu contoh berkonteks dengan pembahasan pada tulisan ini: mereka seolah membantu pemerintah Syiah Suriah untuk membasmi Khawarij, tetapi pada kenyataannya yang dibasmi adalah kaum muslimin yang lemah dan awam atas apa yang terjadi.

Orang-orang Syiah, sejatinya, ber-manhaj (bermetodologi dakwah) yang serupa dengan Khawarij, yakni: mereka menghalalkan darah kaum muslimin, mereka membolehkan mengkritik pemerintah Islam di mimbar-mimbar, mereka memprovokasi umat untuk berdemonstrasi di jalanan, mereka suka berkelompok-kelompok (berhizbi–entah dengan membuat ormas/partai a.n. Islam atau lainnya, yang meniru konsep pemikiran Barat), mereka memantik api makar untuk berbuat radikal hingga memberontak (sehingga tertumpahlah darah-darah kaum muslimin yang tidak sejalan dengan mereka).

Mari kita perbanyak doa bagi saudara-saudara muslim kita di Halab (Aleppo) agar mereka Dikuatkan Allah untuk bersabar atas musibah yang menimpa mereka, agar mereka Dimampukan-Nya menghadapi ujian ini. Semoga rezim pemerintah Syiah Basyar al-Assad Dimusnahkan Allah, semoga Allah Menghancurkan pemerintah Syiah Iran dan sekutunya, semoga Allah Memberi hidayah kepada para provokator pemberontakan, semoga Allah Membasmi para teroris Khawarij di mana pun mereka berada. Amin.

Semoga tragedi yang terjadi tidak berlarut-larut. Semoga Allah Menguatkan dan Merahmati pemerintah Arab Saudi beserta negeri-negeri Islam lainnya, termasuk Indonesia. Amin, ya Rabb!

Nas-‘alullah: as-salaamah wal-‘aafiyah (hanya kepada Allah: kita memohon keselamatan dan perlindungan).