Perusahaan rintisan (startup) makin menjamur kekinian. Tiap-tiap startup memiliki kekhasan layanan, rupa layanan mereka amat bervariatif. Ada yang melayani hal-hal yang bersifat sederhana dari aktivitas keseharian atau kerumahtanggaan hingga ada yang melayani kalangan korporasi, baik lokal maupun multinasional, dengan serbaneka solusi enterprise yang ditawarkan.

Kehadiran startup-startup tersebut menggelitik atau menarik perhatian banyak pengamat. Ada di antara beberapa pengamat, pemerhati, atau enthusiast tersebut yang mengkhususkan bidang telaah mereka pada perkembangan startup di Indonesia, selaik DailySocial, Tech in Asia, atau para narablog perseorangan (individual) independen lainnya–yang menggemari hal serupa (barangkali selaik pengisi konten blog ini).

Para narablog tersebut fokus pada kabar dan ulasan (review) perkembangan startup yang telah menjamur tersebut. Tidak terkecuali salah seorang ahli/pakar ekonomi (dan seorang guru besar pada salah satu perguruan tinggi ternama), yang beberapa kali tidak lepas membahas perkembangan startup yang telah menggurita di Indonesia. Beliau adalah Prof. Rhenald Kasali.

Saya dapati tulisan beliau dalam rupa opini (pendapat) dari salah satu media warta daring. Beliau menyoroti geliat kemunculan startupstartup pada beberapa tahun terakhir. Sangat menarik untuk dicermati bahwa paradigma dinamika perekonomian sudah beralih. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga nyaris sebagian besar bangsa-bangsa di dunia turut menyemarakkan dinamika ini.

Kisah lain pernah disampaikan oleh DailySocial–salah satu portal/media daring yang spesifik berkecimpung dengan serba-serbi dunia startup di Indonesia–yang mencermati dunia digital/internet yang identik dengan jamak startup yang menjamur kekinian. Dinarasikan bagaimana beberapa unit bisnis berbanting stir pada ranah digitalisasi pelbagai produk yang mereka kembangkan.

Mau tidak mau, perusahaan-perusahaan (yang sebelumnya) konvensional (tersebut) mesti mengikuti perubahan yang terjadi. Barangkali, bisnis mereka sebelumnya amat perkasa, tetapi seiring waktu berjalan mereka pun cukup terusik dengan kemunculan startupstartup kecil yang ternyata semakin naik dan bagus valuasinya, bahkan hingga mendatangkan pemodal ventura dari luar negeri. Akibatnya, jamak raksasa besar old-school pun turut ‘mengaliri arus’ serupa dalam upaya mengejar perkembangan kemajuan pola bisnis yang ada.

Mudah-mudahan, tidak lagi ditemui perseteruan antara instansi swasta yang telah mapan laman dan perusahaan rintisan yang berkebetulan mengayuh roda bisnis yang nyaris serupa, tetapi dengan konsep, metode, inovasi, atau solusi yang berbeda. Hal ini mengingatkan pada beberapa kasus saat Go-Jek dirintis oleh Pak Nadiem Makarim pada beberapa waktu lalu–semoga tidak terjadi lagi.

Alangkah elok bila semua pihak berupaya open-minded dan berlapang dada saat mendapati ada pihak lain, selain kita, yang telah mengeksekusi sebuah inovasi dan lebih mendatangkan profit (tidak hanya materi) daripada yang telah lebih dulu kita upayakan. Ide-ide atau inovasi bisnis bisa datang dari siapa saja, kapan pun dan di mana pun, tetapi hanya segelintir orang yang benar-benar sanggup mengeksekusinya.

Ide atau gagasan yang sama bisa saja dilahirkan dari pemikiran beberapa orang yang berlainan, yang tidak saling kenal-mengenal sama sekali, dan hal ini kerap kali terjadi. Yang sepantasanya dipupuk adalah tidak perlu mengklaim ide-ide bila kita sejatinya belum berbuat apa-apa. Jamak startup berangkat dari ide-ide yang telah umum diketahui oleh banyak orang. Mereka hanya sedikit memodifikasi ide-ide yang beterbangan tersebut, memoles sedemikian rupa sesuai visi dan values yang dipegang, dan berlekas-lekas mengambil momen yang ada.

“Momentum adalah hal yang tidak kekal, ‘kan? Selalu naik dan turun. Dan, jika kamu tidak menangkap momentum itu pada saat terbaiknya, kamu akan kehilangan momentum itu. Dan, kehilangan momentum adalah sesuatu yang paling buruk.”–Nadiem Makarim, CEO dan founder Go-Jek. Dinukil dari buku Startup Lessons: Kupas Tuntas Bisnis Startup, Bonus Tips Founder Menjalankan Startup karya Hendry E. Ramdhan.

Harapan banyak pihak, masing-masing startup lokal yang bermunculan di Indonesia dapat bekerja sama dan berkolaborasi dengan banyak perusahaan yang terlebih dulu ada. Dengan demikian, atas Izin-Nya, mereka diharapkan pula menjadi wasilah/penanda pertumbuhan perekonomian negeri ini ke arah lebih baik.

Makin banyak startup didirikan untuk menyelesaikan serbaneka permasalahan yang ada, makin bejibun para perintis usaha dan makin tersebar semangat entrepreneurship di seluruh belahan penjuru nusantara. Dengan demikian, mudah-mudahan makin kuat pula perekonomian tanah air–insyaallah.