Inovasi merupakan hal yang lumrah terjadi. Kita tidak dapat menyangkal kehadiran pelbagai wujud inovasi yang ada. Dengan Izin Allah semata, inovasi bisa datang dari arah mana pun dan sering kali dari hal-hal yang tidak disangka-sangkakan sebelumnya. Acap kali, inovasi yang ada malah berasal dari hal-hal sederhana, hanya sedikit modifikasi dari temuan-temuan sebelumnya, tetapi berhasil digarap dengan cantik dan dipoles sedemikian rupa cerdas sehingga lebih tampak lebih sukses dari produk sebelumnya.

Kita tidak dapat sembarang memodifikasi hal yang sudah ada dalam sebuah inovasi, apalagi bila terdapat lisensi yang memayungi hal tersebut. Respek pada hal-hal sebelumnya dengan memberi kredit yang sepantasnya. Hindari peniruan membabi buta. Ibarat Anda menulis sebuah artikel, tidak elok rasanya bila terdapat salah satu kalimat yang sama persis dengan kalimat yang dimiliki oleh penulis lain dengan tidak mencantumkan kredit bagi penulis yang diplagiasi tersebut.

Kita Dianugerahi oleh Allah dengan serbaneka bekal kreativitas yang tiada habisnya. Dengan demikian, diharapkan tidak mudah didapati lagi pelbagai kasus peniruan, pembajakan, plagiasi, atau istilah senada lainnya.

Ketika mendapati inovasi-inovasi dilahirkan, masih saja dengan mudah didapati pelbagai ujaran. “Oh iya, ya, seperti itu, ya.” “Kok simpel, ya, konsepnya.” “Kok tak terpikirkan olehku, ya.” Atau, barangkali kita pernah sempat bebersit memikirkan sebuah solusi inovatif dan tidak lekas (bersegera) mengeksekusinya, tetapi mendapati orang lain telah mengeksekusinya. Amat bijak bila tiada bersit iri atau dengki sedikit pun di hati kita, bahkan cenderung mendukung, termotivasi, atau terinpirasi untuk merealisasikan inovasi-inovasi yang lain.

Memang masih jamak didapati pola pikir dari peribahasa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, tetapi alangkah elok bila rumput tetangga yang lebih hijau tersebut dijadikan motivasi dan inspirasi kita untuk tetap bekarya. Barangkali, bukan bekarya dalam hal/bidang yang sama, melainkan hal lainnya, terlebih bila diniatkan agar berfaedah bagi siapa pun.

Inovasi dalam hal-hal duniawai tidak terelakkan dan kita perlu akui keniscayaannya. Namun, hanya sebatas duniawi, dalam rangka mengisi dan mempermudah/menunjang kehidupan kita, bukan untuk berinovasi dalam beragama. Ya, kita Dilarang Allah untuk berinovasi dalam beragama Islam. Alhamdulillah, Islam sudah Disempurnakan-Nya sedemikian rupa, semua kebenaran-Nya termaktub dengan elok. Ajaran-ajaran-Nya–dan melalui kabar-kabar yang disampaikan oleh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam)–masih sangat (akan senatiasa) relevan hingga Hari Akhir. Walhamdulillah.