Samsung, salah satu perusahaan elektronik besar dan cukup lama di Indonesia, tidak tertinggal dengan pengembangan perangkat lunak (software) secara mandiri. Dalam arti, mereka sudah mencoba memungkinkan diri untuk tidak bergantung pada perangkat lunak atau sistem operasi (operating system) yang dibuat oleh pihak ketiga (third party), selaik Android (pada jamak produk ponsel dan gawai mereka), Windows (pada sebagian laptop mereka), serta lainnya.

Barangkali, rona bisnis Samsung diawali bukan dari pengembangan perangkat lunak. Mereka lebih dahulu mengkreasi serbaneka bahan dan perangkat keras elektronik. Namun, tampak mereka telah berpacu untuk membuat perangkat lunak dan/atau sistem operasi yang dikembangkan sendiri. Seiring waktu bergulir, mereka pun masih konsisten dengan kemandirian ini, terlebih diiringi dengan penjualan ponsel pintar dan gawai mereka yang cukup laris di pasaran, bahkan mampu bersaing ketat dan mengungguli dominasi perusahaan dengan jenama masyhur lain.

Salah satu perangkat lunak, tepatnya sistem operasi, yang digadang-gadang memiliki proses cerah untuk serbaneka perangkat Samsung adalah Tizen. Tizen bersifat sumber-terbuka (open-source). Dengan kata lain, siapa pun diizinkan untuk melihat kode-sumber (source-code) Tizen dan dimungkinkan untuk dapat dikembangkan secara sukarela. Tizen dirancang agar dapat disematkan secara penuh pada serbaneka perangkat elektronik Samsung, dari ponsel, televisi pintar (smart-tv), kulkas, mesin cuci, dan banyak lainnya.

Tampak bahwa Samsung ingin membuat ekosistem mereka sendiri. Hal ini mengingatkan kita pada beberapa produk Apple perihal sistem operasi (beserta perangkat lunak pendukungnya) yang terintegrasi dan terkoneksi baik dengan perangkat kerasnya (yang diproduksi di bawah perusahaan induk yang sama) sehingga pengguna tidak disibukkan dengan ketiadaan dukungan karena sistem yang berlainan.

Untuk mengakomodasi pengembangan Tizen secara masif, mereka pun mengadakan beberapa kegiatan guna menampung para pengembang aplikasi yang kiranya dapat mendukung ekosistem Tizen. Salah satu agenda mereka adalah Indonesia Next Apps (acap disingkat INA) yang telah memasuki perhelatan ke-4 (INA 4.0). Event ini diselenggarakan bekerja sama dengan Dicoding, DailySocial, serta beberapa partner korporasi lainnya. Barangkali, tidak hanya Tizen yang akan dikembangkan, tetapi juga produk Samsung lainnya.

INA 4.0 pun dihelat di beberapa kota besar di Indonesia. Acara-acaranya pun diselenggarakan secara bertahap, dimulai dari pelatihan (workshop) terlebih dahulu, baru difinalkan dengan pengembangan aplikasi secara nonstop (selaik hackathon, dilaksanakan dalam waktu lebih dari sehari).

Berbicara perihal hackathon, sudah cukup lama dan jamak dilaksanakan oleh beberapa perusahaan atau komunitas pengembang yang terdapat di luar Indonesia. Dalam waktu yang terbilang singkat (well, bagi kita yang sudah tidak muda lagi, dua hari nonstop itu termasuk sebentar, lo), para pengembang harus dapat memecahkan suatu masalah dengan membuat aplikasinya. Karena nonstop, ihwal waktu istirahat pun harus dikelola secara mandiri masing-masing individu pengembang (di mana pun dan jam berapa pun mereka bebas untuk memutuskan beristirahat atau tidur) asal aplikasi sudah selesai dikreasi saat kesempatan waktu untuk mengode yang diberikan telah paripurna. Aplikasi-aplikasi kerena di blantika perangkat lunak dunia bahkan jamak dilahirkan dari acara semacam hackathon ini.

Samsung bakal menghelat salah satu INA 4.0 di Semarang. Kesempatan ini pun saya manfaatkan dengan baik. Melalui Dicoding, perolehlah kesempatan bagi saya untuk menghadiri perhelatan INA 4.0 di Novotel Semarang besok.

Sebagai partisipan yang tidak memiliki latar belakang atau riwayat belajar berbasis teknologi informasi (TI), tentu membuat saya harap-harap cemas, apakah saya akan dapat mengikuti setiap termin acara secara penuh, atau sudah menyerah saat event belum berakhir. Hanya Allah Yang Mahatahu.

Saya hanyalah seorang antusias pada TI dan perkembangannya, paling pol sekadar pengguna operasional desktop harian. Saya familiar menggunakan sistem ber-kernel Linux, tetapi bukan berarti paham dengan pemrograman dan pelbagai bahasanya. Walaupun demikian, masih tertanam api semangat ingin berkontribusi pada pengembangan perangkat lunak, terutama pengembangan berbasis sumber-terbuka, apalagi bila guna menunjang pembelajaran di kelas.

Tidak sabar untuk mengikuti perhelatan besok. Berangkat sepagi-paginya untuk memperoleh banyak hal, di antaranya aktivitas berjejaring (bersemuka dengan orang-orang baru) dan mencermati banyak hal tidak terduga lainnya. Insyaallah.