Latif Anshori Kurniawan

Faedah Berbahasa Indonesia

Month: September 2017

KDE

I use KDE software since a couple years ago. Even, I had been started with Linux-based system at the beginning, played on my cousin’s old computer, when I was kid (actually, when I have had my first year at junior high school). I have ever tried KDE on any various Linux distributions (distro), and it was run smoothly. I could say that KDE more suitable and fit on Linux distros that polished very well with KDE, like SUSE/openSUSE & KDE neon (Ubuntu-based), though everything works fine on other distros. Actually, I only use Linux of non-DEB family.

KDE is based on Qt framework. I following Qt progress and history time after time, from Troltech (in Oslo, Norway) then the Qt company stand still in Finland. Yes, better you understand Qt first, then develop or deploy a tiny patch of a KDE app.

KDE is an open-source software community project. Everyone can contribute in KDE. Not only as developer, no need to be able to code or having skill in programming. Whatever your main jobs and hobbies, whatever you are, you can join the game. KDE is great, is about the people, the patrons, the passions, the community.

The Powerful of Qt
Qt is C++, one of the the strongest programming languages. All codes of Qt based on C++, but added so many rich features, libraries, modules, and some more. Even if you familiar with other programming languages, you still could play with Qt. Whatever your other lovely languages and scripts, like Python, Java, HTML5, XML, etc. Indeed, you can develop several apps on several platforms, such as: Linux-based kernel, macOS, Windows, even Android.

For mobile apps development, you can touch your BlackBerry, Sailfish (by Jolla) with Qt. It is fantastic framework because you can code easily on cross-platform, any infrastructure. No need to change your codes more between platforms, you “just” compile them then play.

If you care about open-source, try KDE, and welcome to the freedom of software development!

Beli iPhone atau Bangun Startup?

Tidak mengherankan bila jamak remaja sekarang adalah para penggila perangkat gawai. Betapa heboh mereka bila ada di antara temannya yang membawa peranti produk elektronik berkelas, sekelas iPhone dari Apple. Apalagi, kehadiran versi terbaru iPhone, dengan iOS terkini, seperti iPhone X, cukup membuat beberapa versi iPhone sebelumnya seolah mendadak turun harga sehingga menjadi lebih terjangkau.

Read More

Catatlah!

Artikel Emily Price di Lifehacker mengingatkan saya pada pengalaman pribadi. Ketika presentasi sesuatu, tiba-tiba ada orang yang mengambil gambar/foto. Alhamdulillah, tampaknya bukan mengambil wajah atau bagian tubuh saya, malah mendokumentasikan salindia (slides) yang saya tampilkan. Niat awal membuat slides memang agar dapat dibagikan kepada yang lain, bukan masalah bila ada yang memfotonya melalui kamera ponsel kekinian, barangkali ia ingin mempelajarinya lebih dalam dan/atau menjadi lebih bermanfaat bagi yang lain di kemudian hari.

Read More

Bermula dari Canda

Fitrah manusia dapat merasakan kegembiraan, kebahagiaan, dengan pelbagai luapannya yang beraneka rupa. Ada yang meluapkan dengan seringai simpul senyum kecil tanpa menampakkan gigi, ada pula yang lepas kendali terbahak hingga tidak sadar ia telah memamerkan gerahamnya.

Para Salaf telah mengingatkan agar kita bersabar dengan ujian kenikmatan yang Dianugerahkan-Nya, agar kita dapat mengendalikan diri kita saat bergembira, agar kita tidak meluapkan kegembiraan ke dalam canda yang berlebihan. Mereka pun mengingatkan agar kita tidak banyak bercanda dan tertawa lantaran dikhawatirkan dapat mematikan sanubari kita, hati kita pun mati sehingga mudarat yang ditimbulkan pun lebih berbahaya daripada yang kita duga.

Teringat kalam nasihat Ibnu Rajab—rahimahullah. Beliau berkata, “Berapa banyak perpecahan di antara dua orang yang bersaudara dan saling memboikot di antara dua orang yang saling mencintai itu berawal dari candaan (senda gurau),” yang dinukil dari Raudathul Uqalai (1/78).

Mari kelola canda-tawa dengan bijak (tidak melampaui batas). Semoga kita dapat menempatkan segala sesuatunya sesuai porsinya, dengan tepat dan bernilai kebaikan/kemaslahatan/kebermanfaatan, baik bagi diri sendiri maupun lebih-lebih bagi sesama/umat.

Darmasiswa in UPGRIS

Darmasiswa is a scholarship program organized by the Ministry of Education and Culture (MoEC) in cooperation with the Ministry of Foreign Affairs (MoFA). This program is offered to all foreign students across the Globe, especially several countries that have diplomatic engagement with Indonesia. In this program, the students will learn and study about Indonesian (language, Bahasa Indonesia), art and culture in Indonesia.

Read More

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén