Artikel Emily Price di Lifehacker mengingatkan saya pada pengalaman pribadi. Ketika presentasi sesuatu, tiba-tiba ada orang yang mengambil gambar/foto. Alhamdulillah, tampaknya bukan mengambil wajah atau bagian tubuh saya, malah mendokumentasikan salindia (slides) yang saya tampilkan. Niat awal membuat slides memang agar dapat dibagikan kepada yang lain, bukan masalah bila ada yang memfotonya melalui kamera ponsel kekinian, barangkali ia ingin mempelajarinya lebih dalam dan/atau menjadi lebih bermanfaat bagi yang lain di kemudian hari.

Hal itu mengingatkan pada kebiasaan jamak orang sekarang, yang tidak dapat lepas dari ponselnya, terutama fitur kamera. Yang sedikit-sedikit foto, sedikit-sedikit jepret sana-sini. Itu pun masih terbilang “aman” bila ia tidak bermudah-mudah untuk mengunggahnya melalui layanan media sosial yang ada. Belum bila mereka pun membuat memenya, tanpa seizin yang difoto, sekalipun dengan niat lucu-lucuan saja. Namun, yang namanya privasi tetap elok dijunjung tinggi, bukan?

Terlepas dari hak mereka tersebut, kita coba berefleksi pada fenomena di kelas pembelajaran umum kekinian yang tidak jauh dari pengalaman Emily dan saya di atas: jamak siswa/mahasiswa malas mencatat dan lebih mengandalkan kamera ponsel mereka untuk mendokumentasikan materi guru/dosen.

Sungguh disayangkan memang bila gaya “mencatat” para peserta didik sekarang malah makin memalaskan mereka untuk menggerakkan jemari mereka agar menari di atas layar sentuh gawai atau kibor laptop, syukur bila mereka masih berkenan mencorat-coret membuat tulisan tangan secara langsung.

Entah mengapa saya pribadi masih menggemari cara tradisional tersebut, yaitu dengan “memegang sesuatu” untuk digoreskan. Meskipun terdapat app kibor Google yang amat canggih dan didesain nyaman untuk ibu jari, stylus untuk menulis manual di layar sentuh gawai pun masih dirasa lebih nyaman—kalau terpaksanya memang harus mencatat tanpa berpancang pada keberadaan kertas.

Ada sense tersendiri ketika masih Diizinkan-Nya mencatat. Bahkan, menukil dari hal yang pernah disampaikan oleh Ustaz Abu Karima Askari bin Jamal al-Bugisi bahwa mencatat atau menulis merupakan hal yang sudah amat terbiasa dilakukan oleh para Salaf. Bahkan, amat dianjurkan. Banyak manfaat bila kita rajin mencatat/menulis, di antaranya adalah seolah kita melakukan aktivitas belajar yang kompleks, seolah otak kita bekerja lebih giat bekerja. Hal ini lebih berfaedah daripada sekadar memotret suatu tulisan untuk kemudian sekadar dibaca. Ya kalau memang dibaca nantinya, siapa yang dapat menjamin file foto tersebut akan kita baca kelak.

Hal lumrah terjadi beberapa tahun terakhir, kita amat khawatir bila kehilangan sesuatu, tidak terkecuali momen, apapun momennya. Seolah semua hal dalam semua momen harus difoto, dengan asumsi didokumentasikan sedemikian rupa. Harapannya barangkali saja kelak berguna.

Baru berbatas pada barangkali, entah apakah memang benar-benar dibutuhkan atau tidak. Saking emannya, semua berkas di dalam kartu memori ponsel, tidak hanya berkas citra/gambar/foto, nyaris tidak pernah disaring, barangkali ada berkas yang malah menyampah hingga memenuhi kapasitas ruang penyimpanan. Atau, apabila diperlukan, semua berkas yang ada pun dicadangkan pada diska-keras eksternal. Entah berapa banyak berkas yang terduplikasi.
Mencatatlah dengan tangan! Maslahatnya lebih besar, sungguh—insyaallah.