Tidak mengherankan bila jamak remaja sekarang adalah para penggila perangkat gawai. Betapa heboh mereka bila ada di antara temannya yang membawa peranti produk elektronik berkelas, sekelas iPhone dari Apple. Apalagi, kehadiran versi terbaru iPhone, dengan iOS terkini, seperti iPhone X, cukup membuat beberapa versi iPhone sebelumnya seolah mendadak turun harga sehingga menjadi lebih terjangkau.

Sayang sekali, temuan saya pribadi cukup membuat dahi mengernyit. Betapa pun ponsel iPhone telah dimiliki, tetapi jamak app yang dipasang dan digunakan pun terbilang standar, kurang memaksimalkan aktivitas berkehidupan, lebih berorientasi pada hiburan, bukan untuk menunjang serbaneka aktivitas, apalagi pengembangan diri. Barangkali, layanan media sosial memang merupakan app wajib, Instagram menjadi lebih menarik lantaran dirasa lebih mengayomi “aspek visual”. Namun, terlepas dari itu, rasanya belum ada indikasi yang mengarah pada kebutuhan untuk “belajar”.

Tentu saja, belajar yang saya maksud adalah bagaimana kita selaku user juga tidak abai ingin mengetahui bagaimana sistem iOS dan perangkat lunak di dalam iPhone bekerja. Rasa antusias jamak pengguna remaja masih berbatas pada aktivitas bersenang-senang sehingga mereka pun nyaris tidak peduli fungsionalitas fitur, antarmuka, bagaimana sense saat menggunakannya, bahkan hingga, “Boleh tahu, dong, source-code-nya. Barangkali, dapat diinpirasi untuk develop, nih.” No offense, faktanya nihil dan ditutup dengan kemirisan, “Terserah aku, dong, bila aku cuma menggunakannya. Ngapain pusing-pusing harus mendalaminya.”

Fenomena di atas bukanlah generalisasi bahwa semua orang begitu. Hanya jamak, sebagian besar, terutama remaja terkhusus mahasiswa, masih seperti itu. Kita juga tidak menafikan antusiasme sebagian yang lain, yang amat peduli pada software development & deployment, tidak peduli atas kemewahan produk, justru penasaran atas kecanggihan produk yang ada dan ingin mempelajarinya.

Sebagaimana yang diketahui, produk berkelas dari Apple pun diawali oleh para antusias elektronika dan pemrograman. Mereka, para geek tersebut, “memulai” banyak hal yang dikreasi sehingga membuat komputer Apple model-model awal langsung menarik perhatian. Tidak dapat dimungkiri bahwa kharisma Stephen Paul Jobs (Steve Jobs) juga berpengaruh, tetapi tetap tidak dapat mengesampingkan peran serta yang lain, terutama para software engineer-nya. Entah bagaimana produk Apple dapat bernilai amat tinggi daripada yang lain, tidak dapat dielakkan bahwa produk mereka memang benar-benar berkualitas.

Dana yang dibutuhkan untuk membeli iPhone, sebagai salah satu produk Apple populer, tentu tidak sedikit. Kalau mau menuruti gaya hidup, harus memiliki produk-produk terkini tanpa mempertimbangkan masak banyak hal lainnya, entah apa yang terjadi. Ada sebagian orang memang sengaja membelanjakan uang yang dimiliki untuk iPhone, entah apa niat dasarnya, ada pula sebagian yang lain perlu berpikir banyak kali apakah kebutuhan dengan iPhone adalah sangat mendesak dan darurat. Sebagian lagi dari kelompok yang disebut terakhir, bahkan kuantitasnya masih amat jarang dan terbatas, lebih memilih mengalokasikan uang yang ada untuk dijadikan modal awal mendirikan bisnis rintisan atau startup. Hal ini yang sedang marak kekinian.

Makin hari ke hari, makin banyak startup bermunculan. Startup gres yang ada pun jamak diisi oleh anak-anak muda yang memiliki passion yang tidak terbendung. Darah mereka mengalir deras untuk berinovasi dalam pemanfaatan teknologi yang kiranya dapat menunjang serbaneka aktivitas keseharian.

Barangkali, ada di antara mereka merupakan pencinta produk Apple dan telah ber-iPhone atau ber-macOS ria, tetapi semangat mereka tidak sebatas terpukau pada produk Apple yang wah atau mengagumi saja, malah menjadi terinspirasi untuk membuat karya baik dengan dan/atau tanpa memanfaatkan platform tertutup Apple. Tidak jarang mereka rela mengulik dan meretas iPhone dan macOS mereka agar ide-ide liar mereka dapat dieksekusi dengan baik. Lebih-lebih mereka pun mendirikan startup dengan visi agar dapat bermanfaat bagi yang lain.

Ekosistem iOS
Apple dikenal dengan produk perangkat atau peranti yang saling terintegrasi dengan baik. Antarsistem yang ada dipoles sedemikian rupa agar dapat mendukung antara satu dan lainnya.

Sistem iOS, sebagai sistem operasi penunjang utama dalam perangkat iPhone, didesain dengan amat presisi sehingga, apabila ia terkoneksi dengan sistem Apple lain, selaik WatchOS dan macOS, akan muncul dinamika alur ekosistem yang saling menguatkan, terutama antarfitur-fiturnya.

Pengembangan iOS cukup tertutup, kode sumbernya (source-code) tidak didistribusikan secara bebas—bukan open-source. Namun, dari framework dan bahasa pemrograman dasarnya, yakni Swift, yang dapat digunakan secara meluas, dimungkinkan para pengembang aplikasi (software developers) terasa dimudahkan dengan ekosistem yang ada.

Tidak terlalu lama bagi para pendiri startup untuk merancang (mendesain) aplikasi mobile native iOS yang terintegrasi dengan laptop MacBook Pro, atau bahkan peranti smartwatch Apple sekaligus. Para founder usaha rintisan lebih jamak tidak mengabaikan potensi mobile apps berbasis iOS mereka. Ada kalanya, ketika versi iOS untuk produk mereka dibuat, tidak lupa pula dirilis aplikasi serupa untuk versi platform lain, yang paling sering adalah Android.

Sudah bukan rahasia lagi bila banyak startup jamak akan menyediakan layanan via aplikasi mereka dan dirilis dalam versi iOS dan Android sekaligus. Atau, barangkali beriringan: apabila telah lahir versi iOS sebuah app, dapat dimungkinkan akan muncul pula versi Android-nya, atau vice versa.

Pangsa pasar untuk toko aplikasi App Store milik Apple masih amat seksi. Bahkan, jamak pengembang atau rintisan hanya menyajikan aplikasi dalam versi iOS, tidak dirilis versi untuk platform lain.

Salah satu pondasi keseksian market-size ini adalah lantaran aplikasi premium dan/atau freemium lebih mudah “dijual” daripada bila dipajang di Play Store dari Google. Walaupun demikian, bukan berarti pasar aplikasi berbasis Android tidak lebih baik daripada iOS, melainkan bila dibidik dari sudut pandang kecenderungan keumuman developers kekinian ketika merilis aplikasi. Faktanya, kedua platform tersebut terus bersaing ketat dan kerap berganti posisi kedigdayaan.

Well, Nyaris Jamak Startup “Ber-iPhone” dan “Ber-MacBook”
Tidak dapat dimungkiri bahwa perangkat/peranti karya Apple adalah idola. Banyak aplikasi di App Store dan Mac App Store selalu menawarkan fitur dan fungsionalitas yang amat menarik dan menunjang serbaneka pekerjaan para pendiri startup pemula beserta tim.

Hal tersebut bukan lantaran “gengsi”, selaik yang diuraikan pada awal tulisan ini, melainkan lebih pada ketangguhan dan keandalan produk yang memang fantastis berdaya (powerful), tidak ada yang mengelak. Betapa banyak, para bos perusahaan teknologi ternama, yang tidak pernah menggunakan pelbagai perangkat Apple sebelumnya, mendadak menggunakannya, sekalipun dengan dalih untuk mengetahui progresivitas layanan produk yang ditawarkan dalam aplikasi a la perusahaannya sendiri.

Barangkali, baru Bill Gates yang acap diketahui belum pernah menggunakan produk Apple, apapun perangkatnya/perantinya. Bill Gates terlalu setia dan senantiasa percaya diri dengan produk-produk asli dan masih didukung dengan baik dari Microsoft. Tidak heran bila ia pernah didapati “melarang” putrinya untuk menggunakan iPad. Bukan mustahil semua produk teknologi yang melekat pada aktivitas kesehariannya selalu berhubungan dengan keunggulan nilai-nilai visi-misi yang dibawa oleh perusahaannya yang masih terletak dengan amat perkasa di Redmond, Amerika Serikat.

Apakah Anda memiliki iPhone dan ingin (atau telah) mendirikan sebuah usaha rintisan (startup)? Mari mengobrol pada bilah komentar!