Potensi Wisata Kerjo

Fajar belum menyingsing, jam belum genap menunjukkan pukul 2.00 pagi. Anak-anak belum terbangun dari tidurnya. Namun, sebagian masyarakat Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, telah berkemas untuk berangkat ke pasar terdekat.

Jamak ke Pasar Batu Jamus) atau bahkan ke Pasar Jambangan, lebih jauh sekitar beberapa kilometer ke barat dari Batu Jamus. Masyaallah, tidak menjadi masalah, seberapa jauh perjalanan, seakan roda bisnis (betransaksi jual-beli) di pasar tradisional masih menjadi aktivitas pokok sebagian besar masyarakat di sana. Lantaran lebih meminati pasar tradisional dan toko atau swalayan lokal setempat, belum ada swalayan frachise populer yang nyaris mudah didapati di kota-kota besar, selaik Indomaret dan semacamnya.

Kerjo, memang cukup jauh dari Kota Karanganyar, sekitar lebih-kurang 30 menit perjalanan, merupakan wilayah perbatasan dengan Sragen. Bahkan, kalau direka nalar didasarkan jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mengunjungi tempat satu dan tempat lainnya, antara Kerjo dan Sragen terasa lebih dekat daripada bila dari Kerjo ke Karanganyar. Cukup mengarungi waktu sekitar 15 menit dan atas Izin-Nya, warga Kerjo sudah tiba di alun-alun Kota Sragen.

Potensi Wisata
Daerah Kerjo cukup asri. Ia terbentang luas dengan beberapa kelurahan yang mengitarinya. Udara dingin menyeruak dan cukup menggigit di sana, apalagi selepas petang dan perlahan menjemput malam. Sekalipun bukan termasuk bagian dari lereng Gunung Lawu, udara dinginnya tidak kalah sejuk.

Masyarakat di sana sudah terbiasa dengan kondisi udara yang ada. Ketika siang, tidak terlalu panas. Namun, saat malam datang menjelang, warga baru Kerjo belum tentu telah terbiasa dengan air-air yang mengalir dingin sehingga amat menyegarkan untuk bebersih badan.

Tidak mengherankan bila Anda mendapati sebagian orang tua tidak mengenakan pakaian hangat dan tebal guna melawan hawa dingin. Tidak kalah dingin dan sejuk bila dibandingkan dengan beberapa daerah di luar Jawa Tengah, seperti di sekitar Bandung atau Malang.

Lanskap wilayah Kerjo cukup cantik, Anda akan mendapati beberapa tempat yang elok pandang dan tidak jemu untuk dinikmati. Apalagi bila mengunjungi pematang sawah dan perkebunan yang ada—subhanallah. Tidak hanya pemandangan alamnya yang menarik dan indah, beberapa tempat bercengkerama di sekitarnya pun dapat dijangkau dari Kerjo.

Masyarakatnya pun masih jamak memegang tradisi guyub (kebersamaan). Nilai-nilai gotong royong atau kerja sama masih terasa amat kental. Tidak mengherankan bila para pendatang dapat merasakan kearifan lokal berupa keramahtamahan dan kehangatan para penduduknya. Rupanya, hal ini juga dilandasi atas pemahaman masyarakat Kerjo pada umumnya perihal ajaran/syariat agama Islam yang amat kuat diajarkan di dalam keluarga. Kajian-kajian Islam cukup semarak di beberapa tempat, bahkan sebagian warga pun acap mengupayakan untuk mengikuti kajian di luar wilayah Kerjo, salah satunya di Gotanon (Ma’had Al-Ausath), Karanganyar.

Luar biasa Kerjo, amat layak untuk dijadikan destinasi wisata. Barangkali, ranah layanan wisata lebih mengarah pada ketersediaan tempat beristirahat yang memadai, semacam home-stay, tinggal bersama masyarakat setempat. Jadi, wisatawan tidak hanya menikmati kenyamanan tempat, tetapi nuansa kehangatan sosial yang menjadi ciri khas penduduk asli.

Wisatawan pun dapat menikmati rona aktivitas berkehidupan dan berpencaharian tradisional. Dari menanam padi di sawah, berladang, berkebun, berbelanja di pasar tradisional, atau bahkan sekadar jalan-jalan dengan bersepeda mengitari sudut-sudut kecil desa dengan jalanan naik-turun yang tidak elok bila dilewatkan.

Sekalipun acap menerima mahasiswa praktikan magang atau KKN di beberapa kelurahan di Kerjo, potensi wisata yang ada masih belum begitu dimaksimalkan. Hal ini justru menjadi tantangan bagi semua pihak, bukan hanya warganya, untuk mengoptimalkan segala ranah yang kiranya dapat lebih memajukan daerah Kerjo dan sekitarnya.

Berdasar pada potensi tersebut, barangkali akan memantik para pendiri (founders) startup untuk membantu atau menopang pemanfaatan sumber daya, baik kekayaan alam maupun manusianya, yang terdapat di Kerjo. Lantaran terbilang cukup jauh dari keramaian kota, startup lokal beken semacam Go-Jek belum menjangkau Kerjo sebagai salah satu market-shared-nya.

Startup asing selaik Airbnb (layanan serupa, kalau lokal, dikenal seperti Airy Rooms dan lainnya), belum menempatkan kliennya di daerah Kerjo. Barangkali, startup lokal yang berkecimpung pada bidang pertanian atau perikanan/pertambakan (ada TaniHub, iFishery, dan lain-lain), perlu mengunjungi salah satu kecamatan favorit di Karanganyar ini. Hal ini perlu kita fasilitasi dan berdayakan bersama.

Semoga, ke depan, lahir upaya-upaya untuk mewujudkan Kerjo ke arah lebih baik lagi sehingga potensi wisata dari sumber daya yang ada dapat dioptimalkan dengan semestinya. Mari berkunjung ke Kerjo!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.