​Menepis Kabar Bohong

Internet begitu lekat dengan aktivitas berkeseharian kita. Informasi apa pun mudah masuk ke dalam rumah kita hanya melalui peranti ponsel/gawai. Tidak hanya berbatas pada ponsel/gawai kita, tetapi juga anak-anak dan keluarga. Salah satu yang masih marak di tengah-tengah keluarga kita hingga sekarang adalah kegelisahan atas berita hoax.

Siapa yang tidak mengetahui istilah hoax dewasa ini? Dari anak-anak hingga orang dewasa pun mengenal istilah yang amat populer di internet pada beberapa tahun terakhir. Kepopuleran istilah, rasanya, bukan makin mengkritiskan bila kita merujuk temuan-temuan fakta di lapangan.

Saya masih agak risih dengan istilah hoax alih-alih kabar bohong, dusta, atau tidak sebenarnya. Lantaran ingin melafalkannya hanya dari tarikan satu suku-kata, saya memilih padanan pelafalannya yang lebih ringkas, yaitu hoks, he he he. Kalau dalam percakapan lisan, saya lafal hoks sekalipun, mitra wicara mungkin tidak akan protes, lain hal bila dituliskan. Sekalipun belum dibakukan oleh Badang Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, rasanya pelafalan kata ini lebih ringkas. Teringat ujaran meme atau netizen yang diserap sedemikian rupa dan sudah distandarkan dalam KBBI daring.

Hoax yang terus menggejala justru malah menjadi santapan lezat sehari-hari. Barangkali, jamak orang tahu hal itu adalah hoax, tetapi masih saja ‘terlena’. Entah itu dengan menyebarkan ulang atau sekadar menanggapi, baik secara langsung pada media yang menyebarkan kabar fitan tersebut maupun sekadar menjadi obrolan lisan ringan kala bersemuka dengan teman atau tetangga. Intinya, kita tahu itu hoax, tetapi masih saja ‘dilihat’.

Ibarat kala mendapati hal-hal yang kurang pantas dan tidak sengaja terlihat saat bertamasya misalnya, tetapi yang namanya manusia, rasa penasarannya amat begitu tinggi, hal-hal itu pun tidak terlewat begitu saja, tersapu bersih oleh pandangan mata. Sejatinya tahu bahwa apa yang dilihat adalah sesuatu yang kurang baik, tetapi apa daya, rasa ingin tahu kita amat hebat. Lumrah adanya lantaran sifat kita yang ingin terus belajar, bukan? He he he.

Tidak mudah menepis hoax memang, tetapi sejumlah kalangan telah menginisiasi beberapa hal untuk menanggulangi penyebaran hoax yang tiada henti dari hari ke hari. Ada sekelompok orang yang secara independen dan bergotong-royong melakukan klarifikasi kabar hoax temuan masyarakat, mereka pun memanfaatkan media sosial seperti grup di Facebook sebagai wadahnya.

Grup-grup anti-hoax pun bermunculan dari hari ke hari. Mereka menampung pelbagai rupa hoax yang didapati para anggota. Tidak sedikit hoax temuan merupakan kabar remeh hanya untuk berlucu-lucuan. Namun, tidak kalah banyak pula kabar bohong yang beredar menyinggung nama baik beberapa pihak, baik perseorangan maupun hingga lembaga atau korporasi ternama.

Saringan yang diterapkan grup-grup barangkali masih bervariatif antargrup dan bisa jadi belum standar. Paling tidak, apabila dilakukan secara bergoyong royong, banyak ‘kepala’ yang memberi masukan, banyak pihak saling mengklarifikasi dan memverifikasi, sehingga putusan sebuah kabar adalah benar-benar hoax atau bukan adalah bukan dari individu atau kelompok, terlebih dengan kepentingan tertentu.

Elok, ketika mendapati suatu konten, biasanya tulisan, yang dibagikan (shared), kita pastikan keabsahannya (kevalidannya). Kita tidak perlu melakukan uji validitas seperti dalam sebuah penelitian, cukup dengan melihat beberapa hal sebagai indikator sederhana untuk memastikan bahwa substansi konten tersebut adalah valid atau tidak. Biasanya, penggunaan bahasanya agak kurang nalar (logis).

Penalaran yang terdapat pada konten dapat ditelusur dari beberapa hal, seperti kohesi dan koherensi antarwacana yang seolah tampak indah, tetapi esensi sejatinya adalah kurang pas. Ada kalanya isi konten yang tampak lain daripada yang lain, yang seolah memantik kontroversi di tengah kepanikan beberapa kasus yang baru saja terjadi. Selain itu, yang jamak menjadi ciri, ada anjuran yang berlebih untuk menyebarkan konten sehingga jamak dibumbui dengan iming-iming balasan pahala dan pernak-pernik yang menghiasinya. Pada muara akhirnya, sumber konten tidak dikenal atau tidak dapat dilacak.

Apa pun konten yang melayang masuk ke dalam kotak pesan kita, elok kita tidak terburu-buru menyebarkannya. Kalau perlu, kita klarifikasikan kepada orang yang menyampaikannya kepada kita: dari siapa/mana konten itu diperoleh, dalam rangka apa, dan apa maksud konten tersebut dibagikan kepada kita. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak tabu untuk disampaikan, sekadar sikap antisipatif bila memang ada indikasi ketidakvalidan dari konten tersebut.

Lalu, bagaimana sikap kita terhadap teman atau saudara yang, entah disengaja atau tidak, menyebarkan hoax di dalam sebuah grup? Banyak cara dapat dilakukan, salah satunya adalah melalui jalur pribadi (dengan menjapri) teman atau keluarga tersebut dan menyampaikan beberapa hal (tidak to the point) secara (dengan diksi yang) santun.

Elok memang tidak di dalam grup tersebut, apalagi disampaikan saat itu juga. Lebih indah melalui pesan personal sebab hal ini lebih menyamankan dan lebih menjaga privasi teman atau keluarga tersebut. Semoga Allah Menghindarkan teman dan keluarga kita dari serbaneka konten hoax.

Alhamdulillah, pemerintah, melalui Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), telah berupaya sedemikian rupa untuk menanggulangi penyebaran hoax. Sejatinya, fokus pekerjaan BSSN tidak hanya seputar pemberantasan hoax, juga banyak lainnya, tetapi memang sangat dirasa fenomena hoax yang bertebaran di mana-mana ini amat memprihatinkan.

Perlu kiranya kita turut membantu BSSN untuk membasmi segala macam hoax yang tersebar di tengah-tengah masyarakat, terutama melalui medium internet. Adakah solusi Anda untuk menepis hoax kekinian?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *