​Enggan Berbagi di Media Sosial?

Saya ingin mengonfirmasi terlebih dahulu. Apakah blog merupakan bagian dari media sosial? Lalu, apa saja batasan suatu layanan disebut media sosial, sedangkan yang lain dinamakan blog? Bukankah penggunaan istilah lini masa terdapat pada keduanya?

Kita perlu membutuhkan banyak amunisi untuk menerangkan esensi blog dan media sosial. Terlebih, sudut pandang apa yang digunakan. Ringkasnya, keduanya ‘serupa, tapi tak sama’.

Kalau kita melihat Twitter, kronologisasi lini masanya tidak jauh berbeda daripada blog, dan ia dikenal sebagai ‘jejaring’ micro-blogging. Begitu pula dengan Facebook, juga jejaring sosial lainnya.

Kalau melihat layanan blog yang menyediakan fitur mengikuti (following), ada Tumblr, bahkan di WordPress.com pun menyediakan fitur serupa. Lantas, bagaimana batasan antara blog yang lebih dahulu senior dan media sosial yang baru datang sekitar awal 2000-an lalu?

Kalau melihat sejarah, blog memang terlebih dahulu lahir. Ia—sebelumnya disebut weblog sebelum pada akhirnya menjadi blog (saja)—digunakan seorang jurnalis untuk mewartakan sesuatu secara independen sekitar sebelum akhir ‘90-an.

Kemudian, berkembanglah blog dari waktu ke waktu. Banyak agregator gratis sekaligus penyedia layanan ruang blog freemium bermunculan, hingga diiringi kelahiran sedikit demi sedikit layanan sosial.

Jejaring sosial mengikuti konsep lini masa blog. Ada penanda/stempel waktu (timestamp), ada fitur bubuh feedback, hingga dikembangkan ala-ala kreasi tiap-tiap layanan. Dengan demikian, sedikit teranglah bahwa blog berbeda dengan media sosial, he he he.

Disilakan bagi Anda yang menyerupakan blog sebagai jejaring/media sosial. Namun, saya pribadi tidak menganggap demikian. Blog memang dapat difungsikan sebagai medium sosial, logika ini selaras dengan anggapan bahwa surel dan layanan pesan instan (instant messaging) dapat menunjang aktivitas bersosialisasi.

Apakah Anda tetap akan menyamakan antara Gmail, WhatsApp, Instagram, dan blog? Apabila tidak, sila lanjutkan membaca tulisan ini. Oleh karena itulah, saya membuat judul pos kali ini seperti tersebut di atas, he he he.

Begitulah, alih-alih menuangkan jamak hal dalam media sosial populer kekinian, saya masih amat suka menulis di blog ini. Khusus blog ini, bukan layanan blog lain.

Alih-alih ikut kegemaran jamak pihak yanh berekspresi di Instagram, saya tetap memilih blog. Sayang sekali, blog ini tidak semenarik Instagram, Anda belum akan mendapati atau menemukan banyak citra.

Di Instagram pun, saya belum pernah banyak berkata-kata selaik di sini. Jamak citra yang terunggah masih sekadarnya dan tidak serius untuk jenama diri, ehhh.

Tentu saja, bukan berarti saya antipati media sosial lainnya. Masih aktif juga mengakses Twitter dan Facebook, sekalipun belum tentu perbarui kicauan dan status.

Ah, sudahlah, saya hanya lebih nyaman di sini, berbagi di sini. Kiranya ada yang saya bagikan di media sosial, saya share ala kadarnya, tiada tendensi apa pun. Kalau di sini, lebih tidak bertendensi lagi, dan lebih manasuka sunting sana-sini.

Bukankah boleh bila tidak berbagi melalui media sosial?,Mohon dimaafkan bila wadah berbagi saya sebatas di sini—atas Izin-Nya. Semoga masih Diizinkan-Nya dapat berbagi dan berbagi di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *