Berangkat Pagi

2 min read

“Berangkat awal lebih baik,” begitu nasihat ibu sejak kecil. Bukan tanpa alasan beliau acap mengingatkan dan memberlakukan putri-putra beliau demikian. Nyaris pada setiap kesempatan mendatangi undangan atau suatu acara, beliau membersamai kami pada awal waktu. Tidak mengherankan bila beliau agak kurang berkenan bila terlambat barang beberapa menit saja.

Dampak positif dari berdisiplin tersebut adalah kami (kakak dan saya) mulai terbiasa dengan aktivitas berangkat lebih dini. Entah ada teman atau tidak, berangkat lebih gasik (bahasa Jawa–ragam Ngoko normal: awal, dini) lebih membuat hati dan pikiran tenang.

Kita dapat lebih tenang sebab tidak terburu-buru sehingga perjalanan menuju ke tempat tujuan perhelatan pun dapat dinikmati dengan pelan-pelan dan amat santai. Terlebih bila rentang waktu yang masih ada dapat dimanfaatkan untuk melakukan beberapa repih hal lainnya.

Kala tiba di tempat acara pun, belum terlalu banyak orang datang. Keadaan sunyi tersebut dapat kita manfaatkan untuk bersantai sejenak melepas sedikit penat perjalanan sebelumnya. Kita juga tidak disibukkan dengan menyalami dan menyapa satu demi satu orang, malah kita yang seakan sebagai ‘penerima tamu’. Tentu saja, dapat memilih tempat duduk sesuai yang diinginkan merupakan salah satu faedah tambahannya.

Begitu pula dengan berangkat pagi. Apa susahnya berangkat pagi atau lebih pagi? Tentu tidak mudah. Hanya perlu waktu untuk membiasakannya. Bukankah sejak kecil kita acap berangkat ke sekolah pagi-pagi, bahkan pagi-pagi buta sebelum fajar menyingsing?

Paling tidak, bukankah kita acap mudah terbangun lebih dini sehingga tinggal melanjutkan beberapa jam kemudian sambil menunggu waktu subuh datang menghampiri? Rasanya luar biasa bila pascasubuh pun masih dapat mengabaikan kasur yang melambai-lambai, apalagi digunakan untuk sekadar membaca buku, dan hal ini akan melahirkan pertanyaan: sudahkah Anda membaca buku pagi ini?

Ibarat burung-burung yang terbang mencari makanan kala mentari pagi menyapa, lalu ia pun pulang dalam keadaan kenyang atau membawa makanan bagi anak-anaknya. Begitu pula dengan kita. Terkecuali sebagian saudara-saudari kita yang memang aktivitas bekerjanya bukan dari pagi hingga senja atau petang, melainkan sebaliknya, tetapi esensinya serupa.

Mari berangkat pagi!

#