Latif Anshori Kurniawan

Klien Surel untuk Mac (1)

Diterbitkan pada dalam Blog. Tags: .

Bagi Anda yang telah sempat menggunakan internet pada era ’90-an, tentu masih mengingat kedigdayaan Yahoo! Mail beserta layanan pesan instan Yahoo! Messenger yang amat melegenda. Kala itu, penggunaan surat elektronik (surel) baru mulai tumbuh, diiringi bermunculan milis-milis yang mengakomodasi kebutuhan komunitas untuk berkomunikasi. Tidak hanya dimeriahkan oleh layanan berkirim pesan dan surat Yahoo!, saluran-saluran internet relay chat (IRC) juga sedang ramai-ramainya waktu itu, barangkali sebelum layanan jejaring sosial Friendster mulai banyak penggunanya di Tanah Air.

Apabila dikomparasikan dengan Yahoo! Messenger, menurut hemat pribadi, layanan IRC lebih digandrungi para warganet pada masanya. Hal ini mengingatkan pula perihal pelayanan komunitas sumber-terbuka (open-source) global yang lebih cepat dan mudah memperoleh respons melalui IRC, terutama melalui saluran #Freenode. Namun demikian, milis-milis (yang jamak menggunakan layanan surel) yang telah ‘menua’, beberapa di antaranya masih aktif dengan kontributor dan pengelola yang sudah jamak berganti. Tidak sebanyak dahulu, tetapi milis masih memperoleh ruang di hati para penggunanya

Berbeda dengan satu dekade terakhir, kebutuhan berkirim pesan melalui surel adalah sudah biasa. Barangkali, jamak orang masa kini acap memanfaatkan aplikasi pesan instan yang praktis digunakan, tetapi bukan berarti orang sudah berhenti berkirim surel.

Surel tetap konsisten menjadi kebutuhan yang tidak kalah pokok. Individu maupun organisasi masih memanfaatkan surel untuk berkomunikasi antarpihak. Barangkali, fitur-fiturnya nyaris masih serupa dengan layanan surel pada pertengahan 2000-an, dengan fitur yang paling pokok adalah tubuh surel yang dapat memuat berpanjang-panjang paragraf dan fitur lampiran (attachments) yang masih jamak digunakan. Layanan pesan instan pun dapat digunakan untuk berkirim berkas, tetapi tidak sedikit orang yang masih memanfaatkan surel untuk berkirim berkas besar, banyak, serta lebih sangkil dan mangkus.

Ada kala, pengguna merasa masih tidak mudah mengakses kotak masuk (Inbox) surel. Kalau tidak mengakses melalui peramban, biasanya pengguna memasang klien surel (e-mail client) pada peranti gawai yang digunakan. Lantaran beberapa waktu terakhir menggunakan peranti Mac, tepatnya laptop MacBook Pro, tentu saya memerlukan klien surel yang mumpuni yang kiranya cukup robust di atas Mac.

Kala masih eman dengan Mail pada macOS
Kalau menilik aplikasi klien surel yang dibawa secara standar di macOS, Mail macOS cukup mewadahi. Mail ringan digunakan, amat terintegrasi dengan macOS. Visual appeal-nya yang sederhana, tetapi tetap memanjakan mata, acap membuat jamak pengguna tidak lekas-lekas memasang klien surel yang lain.

Saya pun demikian, masih eman rasanya bila mesti memasang klien surel pihak ketiga kala Mail pada macOS masih amat solid untuk kebutuhan berkirim surel dan pesan. Sayangnya, belum lekas-lekas pula menggunakan Mail, masih cukup nyaman dengan klien surel berbasis aplikasi web (web-app) yang masih dapat ter-handle oleh peramban Safari.

Bagaimanan dengan Thunderbird dari Mozilla?
Thunderbird bersifat sumber-terbuka (open-source). Klien surel dari penerbit peramban web Firefox ini cukup populer digunakan, terutama oleh kalangan pengguna sistem ber-kernel Linux dan Unix BSD, para pencinta free software. Hal ini tidak dapat dinafikan sebab rata-rata sistem-operasi terbuka yang ada menyertakan Thunderbird secara default.

Tidak sedikit yang memanfaatkan Thunderbird pada ponsel pula, tetapi memang masih jamak didapati ia digunakan untuk keperluan komputasional desktop. Tentu saja, ia tersedia untuk Mac, tetapi entah mengapa saya masih belum dapat mencoba di Mac sendiri.

Malah, ada rasa ingin menggunakan KMail, salah satu klien surel yang jamak telah tersedia standar di desktop KDE. Mohon dimaklumi, ‘terlahir’ dari komunitas KDE dan masih acap menggunakan basis lingkungan desktop terbuka yang berasal dari Jerman ini. Oh ya, tentu saja, ada KDE untuk Mac.

Hingga saat ini, peramban Firefox pun belum terpasang di atas macOS, apalagi Thunderbird. Saya masih gemar membiasakan diri menggunakan ‘satu aplikasi untuk satu tugas’, Safari sudah ada, untuk apa memasang Firefox. Begitu pula dengan klien surel, apabila Mail macOS sudah mencukupi, untuk apa perlu menginstal Thunderbird. Kalaupun akan menggunakan KMail, siap-siap ‘melepas’ Mail macOS dengan segera. Barangkali, memang baru dapat dijadikan pertimbangan alternatif.

Kepada teman-teman di tempat kerja, saya acap merekomendasikan Thunderbird lantaran sistem-operasi mereka jamak masih ber-Windows. Lantaran pengembangan Thunderbird bersifat open-source, ia tersedia secara cross-platform. Di samping itu, tersedia pula dalam beberapa bahasa populer di dunia, termasuk dalam bahasa Indonesia.

Thunderbird yang saya pasangkan di beberapa laptop para senior di tempat kerja masih berjalan cukup stabil di atas Windows mereka. Mengapa tetap Thunderbird dan tidak memaksimalkan Outlook?

Well, saya kurang tahu-menahu soal Outlook, belum pernah menggunakannya. Dikhawatirkan akan memunculkan komplain dalam hal penggunaan Outlook di kemudian hari. Paling tidak, kalau Thunderbird, saya masih dapat mengerti dan memberikan bantuan teknis lantaran masih mengingat beberapa fitur di Thunderbird—insyaallah. Hanya sebab kurang terbiasa dengan Outlook.

Ah ya, tidak mencoba Outlook untuk Mac?
Lagi-lagi, bagaimana dapat menggunakan dengan baik perangkat yang kurang kita familiari? Sungguh, saya tidak antipati dengan produk-produk Microsoft, saya menggunakan Dropbox, saya masih berjejaring di Linkedin, berkas perkantoran yang kurang didukung LibreOffice pun masih saya akses melalui Office suite. Jadi, dengan kata lain, “Maaf, Outlook.”

Tulisan pos ini masih versi satu. Bagaimana dengan Anda?