Mengapa Masih Mengeblog?

5 min read

Seloroh seorang teman: apabila seluruh konten di dalam blog ini disatukan dalam sebuah karya, jadilah buku-buku. Namun, agaknya belum ada lintasan pikiran selaik itu, saya masih menyamankan diri dengan berbagi di blog. Belum, entah kelak. Who knowsAllahu A’lam.

Taruhlah bila memang buku, baik cetak maupun elektronik, lebih bermanfaat dan dapat menjangkau pembaca yang lebih luas, barangkali lebih dapat terjalin engagement dengan pembaca. Sayang sekali, bukan itu tujuan saya mengeblog.

Mengeblog adalah selaik terapi berpikir. Barangkali, secara harfiah kasat mata, ia memang wadah daring untuk menulis (dari kadar sekadar iseng berlatih hingga memang dijadikan ladang profesionalisme). Namun, dari waktu ke waktu, sense-nya selalu berubah. Dari perubahan sense itu, muara akhirnya pun sama: berbagi.

Tentu ada yang kita bagikan melalui blog. Berbagi isi/konten, berbagi substansi, berbagi pesan, atau bahkan berbagi rasa. Blog merupakan sekadar mediumnya, medium yang dapat sengaja didaringkan, sehingga ranah berbagi pun–barangkali–dirasa lebih sesuai bagi saya pribadi. Apalagi, jangkauan ekosistem daring jauh lebih masif daripada buku cetak yang belum tentu setiap individu dapat menikmatinya.

Saya pun tidak luput dari banyak kesalahan ketika mengepos sebuah tulisan di blog ini. Kesalahannya pun bervariatif, tidak berbatas pada substansi, ada kala pula terjadi pada hal remeh tampilan. Beberapa kesalahan yang ada tentu ada yang disadari dan tentu–lumrah manusiawi–ada yang tidak. Apabila sempat dan mau, ada kekeliruan yang lekas direvisi meskipun tidak sedikit yang dibiarkan apa adanya. Hal ini merupakan salah satu keunggulan fitur yang jamak tersedia pada serbaneka layanan blog. Kita dapat mengubah dan merevisi dengan segera bila terjadi kesalahan dalam konten yang tersaji, baik disengaja maupun tidak.

Anda dapat membandingkan dengan produk cetak. Revisi memang dapat dilakukan, tetapi tidak dapat langsung dirilis oleh penerbit. Perlu melalui beberapa alur dan membutuhkan proses yang tidak sebentar. Walaupun demikian, tidak dapat dinafikan bahwa medium cetak masih memperoleh tempat tersendiri, tetapi dominasinya telah luar biasa diungguli oleh medium daring.

Spirit menulis di blog ini semestinya dapat diselaraskan dengan semangat menulis karya yang lebih bernilai, demikian kata seorang teman yang lain. Ia menandaskan betapa banyak buku atau artikel ilmiah (dari hasil penelitian atau pengabdian kepada masyarakat) sekalipun dikaryakan, tetapi tidak dengan spirit serupa. Lagi-lagi, kembali pada hati, kembali pada niat yang mendominasi kalbu kita. Tidak sedikit, lo, para peneliti yang masih rajin mengeblog dan tetap rajin pula meneliti.

Semua orang punya hati dan prasangka yang beraneka rupa, bukan? Prasangka dan paradigma yang seolah sama pun belum tentu sama persis, pasti ada beberapa titik-titik ketimpangan dengan kadar yang kecil hingga cukup signifikan. Tidak dapat merespons lebih hal ini, cukup: just be youHe he he.

Apakah aktivitas mengeblog masih cukup populer? Well, selama orang perlu membaca suatu informasi, medium tulisan semacam blog atau warta digital daring yang jamak mengontenkan tulisan masih eksis, insyaallah, dunia blogging masih menarik untuk ditekuni.

Tidak sedikit orang menekuni blogging secara profesional, ia benar-benar berprofesi, skilled, dan dapat mengupayakan profit bagi dirinya. Jangan salah, kreator konten untuk blog tidak melulu akan jatuh sebagai copywriter. Well, bentuk profesinya bisa macam-macam, entah apa pun itu.

Cukup banyak narablog profesional berkolaborasi dengan media-media besar, mungkin statusnya masih freelancer di sana untuk beberapa proyek ataupun sudah menjalin ikatan kontrak berjangka panjang. Hal ini pun bukan masalah, itu pilihan dan setiap orang berhak memilih, tetapi bukan saya, he he he. Sekali lagi, berkali-ulang-kali, saya selalu menekankan: mengeblog untuk suka-suka, he he he.

Saya tidak dapat menampik bahwa dari mengeblog, atas Izin-Nya, dapat mendatangkan profit. Barangkali memang bukan dari serbaneka iklan daring yang saya pasang di sini, melainkan dari endorsement beberapa pihak untuk mengajari yang lain menulis di blog. Tepatnya semestinya tujuan utamanya adalah hanya menulis, bukan mengeblog.

Blog hanya medium. Namanya medium tentu bisa berupa apa saja. Ia hanya platform, yang di dalamnya terdapat banyak fitur sesuai fungsionalitasnya. Sebab berbatas pada sifatnya sebagai medium, tentu tidak salah bila ada yang masih mengeblog dengan platform luring. Ada?

Di kelas menulis, saya memang memotivasi peserta untuk berlatih atau membiasakan diri menulis (tepatnya adalah mengetik tulisan) melalui blog. Namun, sekali lagi, kita acu nilai-nilai esensialnya, tiada paksaan untuk mengeblog. Tidak ada.

Ramai orang mulai beralih dari mengeblog ke membuat vlog, baik di platform berbagi video populer semacam YouTube maupun media sosial selaik Instagram. Seolah antara blog dan vlog adalah dua entitas yang serupa-tapi-tak-sama, tetapi menurut pendek akal saya, keduanya berbeda. Mau tidak mau, kekinian, vlog, baik singkat/pendek maupun panjang (durasi berjam-jam), lebih digandrungi daripada blog. Manusiawi bila lebih jamak orang menyukai hal-hal berbau visual, selaik citra/gambar atau video, daripada lambang tulisan. Dengan demikian, apakah saya akan ke arah sana? Demikian sentilan seorang teman yang lainnya lagi, yang tidak kalah acap ke sini.

Allahu A’lam, saya tidak tahu. Barangkali, lebih condong pada tidak bila kita mesti mengevlog diri dengan menampilkan perangai fisik (ekspresi wajah, gesture anggota tubuh, dan lainnya). Tidak. Ada banyak pilihan cara untuk membuat konten vlog yang aman sebenarnya, tetapi kami memang belum ke arah sana.

Sekalian curcol. Saya cukup sedih bila mendapati konten vlog di YouTube dan Instagram, tetapi sebagian konten tersebut adalah paduan dari konten pengkreasi satu dan lainnya, lalu dipoles sedikit. Alhamdulillah, masih sebagian, bukan semua. Lebih memiriskan hati adalah bila mendapati sebagian content creator tidak menitikberatkan pada pesan baik dan berfaedah yang ingin disampaikan kepada para Subscriber-nya atau penonton videonya, tetapi sekadar memburu kuantitas klik, tayangn, penge-like, atau pelanggan.

Iklan pun ditampilkan berkali-kali untuk menambah pundi-pundi. Hak setiap orang, itu pilihan mereka. Saya hanya bersedih. Boleh bersedih, bukan Alhamdulillah, vlog atau konten yang bertebaran pada layanan yang ada masih lebih banyak (lebih didominasi) oleh konten-konten orisinal atau murni (pure) kreasi mandiri, bahkan tidak mengedepankan popularitas klik. Masih ada. Alhamdulillah. Sungguh tidak sabar menunggu kehadiran fitur YouTube Premium di Indonesia, he he he.

Ada atau tidak yang membaca, selama masih Diizinkan-Nya, saya masih mengeblog hingga entah kapan berakhir. Hanya memang tidak dapat menjanjikan untuk rilis pos/tulisan baru berikut-berikutnya. Ada ujaran istilah tiada orang yang supersibuk, berkeselarasan pula dengan tiada orang yang super-menganggur. Jadi, ada tulisan atau tidak adalah tidak tentu selalu berkorelasi dengan aktivitas di dunia nyata, he he he.

Omong-omong, tata letak penayangan terkini saya ubah/poles sedikit. Memindahkan laman Ihwal menjadi laman pokok-utama-depan agaknya boleh juga, pengunjung tidak perlu mengeklik laman alih-alih About ini. Di samping itu, pembaca tidak langsung mendapati senarai kumpulan pos-pos yang ada. Selaik banyak hal di dunia ini yang diawali dengan basa-basi, prakata atau pendahuluan ternyata tidak kalah dikesampingkan, ya.

Bagaimana dengan Tema Tampilan? Tentu saja, tema tampilan tidak jarang berubah. Apabila Anda telah lama mengikuti perkembangan blog ini, tidak jarang tema yang terpilih berujung pada karya pengembang yang itu-itu saja, salah satunya adalah karya Anders Norén.

Teringat tema-tema kawakan untuk platform sumber terbuka WordPress karya Michael Soriano lebih dari 5 tahun yang lalu. Kala masih mendompreng hosting pada salah seorang ikhwan, kala masih suka .COM-an, kala domain .ID belum didengungkan besar-besaran oleh PANDI selaik kekinian–glory days. Elok patut bersyukur kepada-Nya masih dapat mengeblog hingga bertranformasi sejauh ini.

Saya pun salut dengan jamak senior IT dalam negeri juga masih mengeblog. Salah satunya siapa lagi kalau bukan Pak Budi Rahardjo? Pak Ariya Hidayat pun masih aktif, begitu pula tokoh-tokoh lainnya. Bagaimana dengan Anda?

Melalui tulisan/pos yang ada, kita dapat berbagi. Bukan sekadar luapan emos, ekspresi, dan elok menihilkan ekspektasi. Berharap untuk dikunjungi dan dibaca-baca narablog lain minimalnya? Siapa kata mesti demikian. Tulis saja, diblogkan saja. Mari pupuk spirit mengeblog setiap hari (lagi)!

Tidak lupa terima kasih kepada para pembaca/pengunjung setia blog ini, dari teman-teman di dunia nyata hingga siapa pun Anda. Mohon dimaafkan bila pos-pos atau tulisan-tulisan yang ada terkategori kurang penting atau bahkan membuang waktu Anda. Walaupun demikian, semoga tetap berfaedah, sedikit apa pun faedah itu dipetik.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.