Dicari: Metode Pemelajaran Keren dan Kekinian

4 min read

Saya sedih bila mendapati adik-adik masih memperjuangkan hal-hal yang telah lalu. Salah satunya adalah metode atau strategi (saya berdiksi ‘atau’ dalam kalimat ini, dapat dimaknai sebagai pilihan, bukan menggantikan). Tidak dapat dimungkiri memang bahwa metode-strategi tersebut adalah masih berlaku efektif ‘sejak dahulu hingga sekarang’. Namun, ada rasa jenuh menggelayuti saya, saya ingin sesuatu yang baru, sesuatu yang lain.

Hal tersebut memang tidak mudah sebab perlu efforts tidak kecil untuk merealisasikannya. Perlu lebih memperbanyak bahan dan ragam bacaan sehingga banyak hal dapat dijadikan pertimbangan. Tidak kalah pokok pula adalah perlu banyak-banyak berdiskusi positif atas ide ini. Adakah Anda resah pula atas hal ini?

Sekali lagi, saya tidak mempermasalahkan hal yang ada. Yang saya ingin konfirmasi ulang adalah barangkali ada temuan lain, tidak mesti bersifat lebih baik, sehingga kita tidak dihadapkan dengan nama-nama atau peristilahan yang itu-itu saja. Tidak masalah bila ada strategi belajar baru yang didasarkan dari permainan mobile yang populer di kalangan remaja kekinian.

Istilah Savage adalah hal yang sudah akrab di telinga. Konsep pemenangan dari salah satu game populer ini pun telah terpatri bagi sebagian besar muda-mudi yang gemar memainkannya. Nah, mengapa tidak bila kita pinjam istilah dari permainan ini? Lahirlah metode pemelajaran SavageYay!

Masih ingatkah Anda dengan game bergenre perang tembak-menembak dari sudut pandang orang pertama (first person shooter, FPS), selaik Counter Strike (CS)? Ada istilah yang tidak kalah populer dan kemudian moda mainnya diinspirasi pula untuk permainan ranah serupa berbasis multiplayer, yaitu Capture the Flag.

Capture the Flag mensyaratkan siapa pun pihak, baik teroris maupun polisi (counter terrorism) untuk berlomba-lomba atas target yang telah ditentukan di awal. Istilah yang nyaris serupa adalah siapa cepat, dia dapatNice, tambah satu lagi strategi atau metode pemelajaran: metode Capture the Flag.

Mengapa tidak? Sekali lagi, mengapa masih dipermasalahkan? Semua perlu dicoba. Salah satu upaya untuk mendukung hal ini adalah melalui ranah ilmiah penelitian. Hal ini tidaklah mudah. Kita perlu waktu, energi pikiran, dan bisa jadi dukungan finansial yang tidak sedikit bila memperjuangkan hal ini.

Tidak hanya dosen, siapa pun sangat perlu turut andil merealisasikannya. Betapa tidak, ranah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat adalah di antara kewajiban dosen untuk berkontribusi bagi dunia. Sayangnya, penelitian-penelitian yang ada beberapa tahun terakhir, terutama pada bidang penelitian pendidikan, tidak sedikit yang masih mengetengahkan hal-hal yang telah lalu pula.

Penelitian tindakan kelas yang dapat dilakukan secara kolaboratif dengan guru pun masih memaslahatkan metode atau strategi pemelajaran (yang dijadikan treatment-nya) yang sudah pernah digunakan. Agaknya hal ini memang pekerjaan rumah besar bagi para pakar dunia pendidikan untuk mencuatkan hal baru.

Ranah Digital yang Mendisrupsi
Sebab kekinian adalah era disrupsi digital, tidak selalu hal-hal baru mesti dikaitkan dengan teknologi informasi. Agaknya juga sudah mulai membosankan bila ranah-ranah pemelajaran sekadar dimigrasikan dari papan tulis ke laptop, gawai, atau ponsel. E-learning sudah kurang begitu giat dikembangkan lagi, paling kalau tidak dari platform Moodle, biasanya dari pelbagai aplikasi cross-platform (yang dapat diakses melalui pelbagai peranti dan sistem-operasi) yang sejatinya konsepnya tidak kalah serupa.

RuangGuru dan sejenisnya (selaik startup teknologi yang berfokus pada dunia pendidikan lainnya, terutama kursus dan pelatihan) sudah menggejala, baik dari lokal maupun dari luar. Lagi-lagi, agaknya sudah cukup ramai. Namun, setiap insan berhak untuk berikhtiar, apa pun wujudnya. Anda ingin buat satu?

Berbicara perihal platform, tentu tidak berbatas pada ruang desktop, mobile, wearable, atau peranti (devices) apa pun. Platform dapat berupa apa pun dan ditempatkan di mana pun. Bisa jada ranah-ranahnya nanti makin dikembangkan lebih baik lagi hingga berupa peranti chip mini yang ditanam di dalam bagian tubuh tertentu dan terjangkau bagi masyarakat. Yang menjadi intinya adalah teknologi yang seperti apa yang dikembangkan dan disematkan ke dalamnya.

Pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras untuk memenuhi kebutuhan di dunia digital daring kekinian masih terus berlanjut. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, semua pihak mesti mengikutinya. Paling tidak, dapat mengoperasikannya. Kebutuhan jamak khalayak adalah masih berbatas sebagai pengguna–tiada yang dapat memungkiri hal ini. Sebagai manusia, sebagai makhluk yang tidak berhenti belajar, tidak keliru dapat memanfaatkannya dengan optimal.

Di antara mimpi besar pada nyaris semua pihak kekinian adalah tiap kita dapat mengembangkan hal-hal berbau teknologi secara mandiri. Mengapa tidak? Setiap orang, bahkan seorang balita sekalipun, dapat memprogram sebuah perangkat lunak, apa pun bentuknya (appsgames, dan lain-lain). Siapa tahu, Anda pun dapat merangkai atau merakit beberapa peranti guna menunjang kebutuhan secara mandiri, sekalipun tapa buku manual.

AI pun Bakal Merasuk
Yang menjadi perbincangan hangat beberapa bulan terakhir–sih, sudah lama–adalah pengembangan teknologo kecerdasan buatan (bolehkah intelijensi artifisial [IA] alih-alih artificial intelligence [AI]?). Jamak hal bakal diarahkan ke sana. Tentu pengembangannya tidak berbatas pada platform, tetapi pada pada ranah apa saja ia akan diimplementasikan. Sebagai bukan hal baru, telah pengembangan AI pada banyak bidang, tetapi belum cukup banyak untuk dunia pendidikan.

Tidak menutup kemungkinan metode pemelajaran inovatif ke depan berbasis AI. Hal yang paling realistis, yang sudah ada penerapannya sekarang, adalah pemanfaatan teknologi realitasi teraugmentasi (AR) dan realitas virtual (VR). Biasanya, kecenderungan penerapan AR-VR adalah seputar konsep borderless. Namun, hal ini bukan batasan, bisa saja tetap membutuhkan keberadaan fisik antara pendidik dan peserta didik, serta masih interaktif dan kolaboratif selaik proses pemelajaran nirteknologi sebelumnya.

Apa pun bisa terjadi, seakan kita perlu turut ambil bagian dari perkembangan yang ada. Tidak ada yang memaksa kita untuk mengikuti hal-hal terkini, tetapi tidak ada salahnya, bukan, bila kita bersiap sedia atas fenomena yang akan terjadi mendatang. Sangat diidamkan bila Anda menjadi salah satu para pionir dari serbaneka hal terbaru ke depan. Mengapa tidak?

Perlu cara dan kesempatan untuk bereksperimen metode pemelajaran yang baru, yang sejatinya tidak mesti berbau teknologi. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa ranah tersebut masih terbuka lebar mengingat gejala disrupsinya yang menggetarkan dunia–atas Izin-Nya. Perlu penelitian atau bahkan penyelidikan lebih lanjut, dan tentu memakan waktu yang tidak sebentar, untuk mewujudkan bagaimana dunia pendidikan dapat bersenandung mesra bersama perkembangan yang ada.

Saya tunggu metode pemelajaran inovatif paling kini dari Anda! Mau dinamakan Capture the FlagUlfinesia, ataupun lainnya. Perihal nama, bisa beraneka rupa, nan pokok adalah esensinya. Mau berbasis daring ataupun luring, tidak jadi soal. Yang utama, lebih dapat menyangkil dan memangkuskan proses dan evaluasi pemelajaran yang diimplementasikan pendidik bersama peserta didiknya. Mari mengobrol!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.