Bersabarlah, Sahabat!

3 min read

Musibah datang tidak terduga. Ia bisa datang kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun–masyaallah. Ia datang atas Izin-Nya. Siapa pun dapat tertimpa musibah, siapa pun dapat peroleh kesempatan untuk diuji apakah insan tersebut dapat bertahan, dapat bersabar, lebih-lebih dapat bersyukur.

Musibah yang datang pun tidak selalu sama. Ia menghampiri dengan pelbagai rupa, dengan sekejap atau entah tiada yang tahu kapan akan berakhir. Kadar musibah yang ada pun menguji kadar iman setiap hamba-Nya. Percayalah kepada-Nya bahwa musibah yang datang pasti berlalu dan hamba-Nya mampu untuk menghadapi-Nya. Dia, Yang Mahakuasa, Menguji seorang hamba sesuai kadar kesanggupannya, bukan?

Tiada larangan untuk bersedih sebab itulah fitrah kita sebagai manusia. Ketika musibah atau ujian datang, lalu kita pun bersedih, adalah hal yang lumrah adanya. Namun, tidak perlu bersedih terlalu lama sebab musibah pun akan berganti dengan hal lain. Musibah yang sedang dihadapi pun akan segera terlewati, dengan Izin-Nya. Ia akan berlalu beriring waktu berlalu.

Musibah adalah ujiannya dalam wujud yang seperti adanya. Musibah menjadi petaka yang lebih memilukan bila kita malah makin menjauhi-Nya. Mengapa kita malah menjauhi-Nya, bukankah ia menimpa dalam keadaan Diketahui-Nya?

Sedih tiada bertepi, hingga kadang amarah pun meluap tiada henti. Apa yang selanjutnya akan terus disedihkan bila semua memang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya? Mengapa marah, dan marah kepada siapa? Sabar. Sabarlah, Sahabat!

Tiap Hal, Ada Kadarnya
Semua itu tidak lepas dari kadar-kadar yang menyelimuti kehidupan. Kadar musibah, tidak selalu tampak berat, pun sebaliknya. Kadar kesabaran, siapa yang dapat menakar, kecuali Allah Ta’ala. Hingga pada akhirnya, kadar iman, inilah yang akan terus kita bawa, baik ketika sebelum Diuji-Nya, beproses ketika berkehidupan, maupun hingga nanti kala bersemuka dengan-Nya. Beruntunglah bagi orang-orang yang Mengimani-Nya sebab mereka akan mendapati Wajah-Nya di Firdaus-Nya kelak–insyaallah.

Apakah kita akan menjalani sisa-sisa waktu yang ada dengan a la kadarnya (sekadarnya) saja? Apakah kita akan terus terpuruk, terus tidak berdaya, dan melambaikan tangan? Sekali-kali jangan pernah meminta disegerakan untuk dijemput oleh Malaikal-Maut.

Kamu jangan menyerah! Menyerah itu lebih rendah daripada lemah. Menyerah itu membinasakanmu secara perlahan-lahan. Kamu menyerah tidak sebanding dengan merah darah di dalam urat nadimu yang terus mengalir deras. Kamu lumpuh sekalipun, bukankah darahmu masih mengalir hebat dari-Nya? Lalu, kamu masih tetap mau menyerah, padahal Ia masih Mengizinkanmu menghirup udara kehidupan yang penuh kenikmatan ini? Logikamu di mana, kamu ingin menyerah, sedangkan kamu masih menghirup udara-Nya.

Kamu masih Diizinkan-Nya bernapas itu salah satu tanda bahwa Ia masih Sayang kamu. Ia masih Memberimu kesempatan untuk menjadi lebih baik daripada dirimu sebelumnya. Namun, sifat dasar manusia memang kurang cakap bersyukur. Kalau pun mudah berkata bersyukur, betik hati insan, siapa yang tahu, kecuali Ia Semata.

Terlepas bila kamu menyerah sama halnya dengan kamu enggan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya yang tiada terkira, kamu menyerah bisa jadi bermakna kamu tidak menghendaki Kuasa-Nya. Kamu mau bilang apa lagi, kamu sudah Dihidupkan-Nya, kamu dapat menikmati semua hal di dunia ini sesuka-suka kamu.

Fitrah manusia tidak lepas dari pelbagai variasi ujian dan musibah, serta kamu sudah sampai sejauh ini, kamu enggan bersabar, dan akan menyerah begitu saja? Mau apa lagi, kamu, dengan dunia ini?

Apabila rasa bosan menggelayuti hatimu kala mendapati ujaran bahwa Ia akan Menggantikan dengan yang lebih baik, dapat dikata kamu masih perlu waktu untuk menata hatimu. Tidak sebentar memang, tetapi bukan mustahil kamu dapat menata kepingan-kepingannya yang telah terurai menjadi satu kembali.

Ujaran hanya akan menjadi ujaran bila kamu tidak dapat meresapi esensi tersirat di balik yang tersiratnya, hingga muara akhirnya kamu merasakan kehadiran-Nya. Ketahuilah, duniamu hanyalah akan menjadi beban bila kamu tidak dapat mempertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Duniamu hanya akan menjadi musibah berikutnya, ke sekian kali, bila kamu mengupayakannya tanpa mengingat bahwa Ia masih Mengawasimu, bahkan dari segala sisi. Dan, kamu masih sombong bahwa itu semua adalah sebab ikhtiarmu?

Kamu pun masih bisa sombong bahwa kamu telah berikhtiar sehingga peroleh apa yang melekat pada dirimu sekarang? Kamu masih bisa sombong sebab kamu merasa hebat, kamu merasa luar biasa, kamu merasa sebagai sosok yang istimewa, tiada orang lain seperti kamu karena kamu berusaha dengan optimal? Benar-benar kamu sombong!

Tidakkah kamu ingat mengapa kamu masih bisa membaca ini? Kamu sehebat motivator itu untuk menjadi diri sendiri, ya? Memangnya, dirimu sendiri itu seperti apa, hah?

Kamu tidak perlu menengok ke belakang kembali bila tiada ibrah yang dapat kamu tuai sehingga memelajarkanmu menjadi lebih baik. Tentu saja, kamu masih boleh berasa lebih baik lagi, terus menjadi baik, lebih baik, dan lebih baik. Tidak perlu membandingkan dengan orang lain, kamu adalah kamu, dan kamu tidak perlu merasa istimewa bila Ia (Allah) bukan satu-satunya yang kamu harap.

Bersabarlah menjalani semua ini! Sekali lagi, semua ini terjadi atas Izin-izin-Nya semata. Bersemangatlah menjalani waktu-waktumu yang tersisa! Bahkan, kala Kiamat sudah di pelupuk mata akan datang menghampiri, sekalipun kamu sedang beraktivitas duniawi, tetaplah tersenyum, dan lanjutkanlah dengan penuh semangat membara berapi-api sembari senantiasa berharap Kebaikan-kebaikan-Nya!

Bersabarlah, Sahabat! Semoga Allah senantiasa Menguatkan kamu, kalian, mereka, dan kami; semoga Allah senantiasa Menganugerahkan hidayah-Nya kepada kita–amin.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.