Mahasiswa Sumber-Terbuka

Saya masih belum letih menghasung adik-adik mahasiswa (di UPGRIS, UNS, dan di mana pun) untuk menggunakan serbaneka perangkat lunak yang dikembangkan (berbasis) sumber terbuka (open-source), salah satunya adalah menggunakan distribusi Linux. Apalagi kalau Linux yang digunakan adalah kreasi para pengembang lokal, selaik Linux BlankOn, Linux IGOS Nusantara, dan lain-lain. Api semangat ini masih belum meredup, kadang saya perlu meyakinkan dengan mempraktikkannya secara langsung di depan mereka—betapa mudah pengoperasian Linux.

Awal-awal memahamkan open-source, biasanya diawali dengan mengenalkan Linux sebagai bukan alternatif sistem operasi komputer populer seperti Windows, melainkan sebagai sistem terbuka yang diharapkan dapat lebih membelajarkan mahasiswa, selaku pengguna. Tentu tidak lupa mengintroduksikan perihal hak karya (cipta), atau hak-hak yang lain—berkait dengan persoalan legalitas, yang perlu dikenalkan.

Bukan rahasia umum lagi, tidak sedikit yang abai bahwa sistem operasi Windows yang tersemat di dalam laptop jamak orang menerapkan lisensi tertutup dan sangat komersial. Beberapa di antaranya tidak sadar, atau bahkan tidak peduli, bahwa Windows mereka tidak terdaftar sebagai pelanggan resmi Microsoft.

Mungkin saja kegiatan sweeping perangkat lunak ‘bajakan’ kekinian kurang sesanter lima tahun terakhir. Hal ini lumrah adanya sebab jamak perusahaan produsen perangkat lunak (tidak hanya Microsoft) menurunkan biaya lisensi yang mesti dibayarkan pengguna. Amat mudah kekinian Anda membeli Windows asli di pasar daring (online marketplace) dengan tidak merogoh kocek begitu dalam, apalagi penggunaan Windows terbilang ringan, seperti untuk keperluan perkantoran/keadministrasian dan memainkan games populer, cukup membeli versi Home Students. Namun, bukan sekadar perihal kesadaran penggunaan perangkat lunak komputer yang bukan bajakan dari ‘kampanye’ Linux ini, melainkan lebih dari itu.

Linux dan jamak produk terbuka (atau free software, bebas didistribusikan) lainnya adalah memang ‘hemat di ongkos’, atau bahkan gratis. Ada pula distro (istilah lain dari distribusi, bukan distro tekstil) Linux berbayar (sebab menyertakan beberapa ketentuan pada lisensinya dan terutama dukungan tambahan layanan purnajual). Bukan gratis dalam hal hanya uang, kosakata ‘gratis’ atau ‘free‘ yang digunakan adalah sejatinya merujuk pada pendistribusian produk open-source tersebut.

Lisensi yang melekat pada produk pun mendukung ‘penggratisan’ tersebut lantaran bersifat terbuka dan konsep win-win solution. Dalam arti, pengguna dan komunitas peroleh benefit dari penggunaan software tersebut dengan harga yang tidak ‘mencekik leher’, sedangkan pengembang tetap memperoleh kredit (apresiasi, salah satunya dengan tetap disebut sebagai pengembang atau kontributor) atas karyanya—garis besarnya demikian. Bahkan, sekalipun berkas citra (image files) ISO distro Linux yang dapat diunduh dari internet dapat sepenuhnya tidak ‘gratis lagi’ sebab barangkali Anda perlu cakram lepas (flashdisk) untuk menyimpannya, dan apakaha pendrive berisi ISO Linux dapat diperoleh gratis di toko-toko komputer terdekat? Sekali lagi, spirit open-source ini adalah bukan semata-mata soal uang.

Kalau bukan uang, lalu apa? Nan pokok adalah kebutuhan untuk belajar. Konsep open-source, mudahnya, siapa pun dapat melihat dan mempelajari kode sumber (source codes), bahkan memodifikasi atau berkontribusi untuk kemajuan pengembangannya. Siapa pun ‘bebas’ (free) menggunakan, siapa pun pula berhak untuk menyumbang sesuatu. Sumbangsih yang diberikan dapat beraneka rupa, tidak melulu berkait dengan software-nya, dapat pula berupa memberikan umpan balik, menulis atau menyunting dokumentasi atau panduan perangkat lunak tersebut, atau sekadar sedikit dana yang dapat dialokasikan untuk mendukung ‘bahan bakar’ pengembangan.

Bahkan, sekadar menggunakan saja, di mata developers, Anda secara tidak langsung sudah termasuk dalam kategori ‘berkontribusi’—paling tidak pengembang apresiatif bila Anda setia menggunakan produk mereka. Lalu, apa yang mereka (pengembang) dapatkan? Bukankah banyak waktu ‘terbuang’ untuk membelalakkan mata di depan komputer/laptop, mengetikkan beberapa baris bahasa pemrograman, lalu melepasnya ke publik dengan ‘gratis’?

Berbagi itu indah, bukan? Begitulah cara software developers berbagi. Lalu, dari mana mereka makan? Lagi-lagi pemikiran sempit, bukankah rezeki Didatangkan-Nya dari pelbagai muara yang tidak dapat diduga-duga? Jamak pengembang, dominasi tujuan mereka mengembangkan perangkat lunak, adalah agar berfaedah/bermaslahat bagi sesama. Jamak mereka tidak menafikan eksistensi uang, uang tetap diperlukan, tetapi bagaimana hati tidak berpancang padanya adalah bukan hal yang mudah untuk dibiasakan.

Pelbagai proyek sumber terbuka yang lahir di dunia ini bukanlah milik perseorangan, bukanlah milik Bapak Linux—Linus B. Torvalds, bukanlah milik organisasi atau perusahaan yang bergerak pada bidang serupa, melainkan milik ‘bersama’. Tepatnya adalah komunitas. Dari komunitas pengembang dan pengguna yang ada—dan tentu atas Izin-Nya, serbaneka produk berbasis terbuka dapat Anda nikmati hingga sekarang.

Android Anda sejatinya adalah sistem berbasis kernel Linux yang dikembangkan mandiri oleh Google dan komunitas Android. Bahkan, iOS pada iPad Anda, atau macOS pada MacBook Pro Anda, pun bersifat open-source. Tidak mengherankan bila beberapa tahun lalu Microsoft, yang dikenal sebagai produsen Windows dan Office suite-nya, benar-benar terjun di dunia open-source. Salah satu hal keren dari Microsoft adalah mereka menyediakan beberapa distro Linux populer di toko aplikasi mereka, salah satunya di Azure Marketplace (FreeBSD pun telah tersedia di sana). Selain itu, akuisisi mereka atas platform penyedia lumbung kode sumber terbuka GitHub merupakan torehan manis tersendiri sehingga tidak sedikit para aktivis open-source tersenyum atas putusan mereka tersebut.

Perusahaan-perusahaan besar, apalagi berbasis teknologi—seperti Google dan Facebook, pun memanfaatkan serbaneka perangkat lunak dan peranti berbasis open-source. Komputer dekstop mereka, peladen/server mereka, nyaris tidak ada yang tidak open-source. Hal ini pun diikuti oleh para pendiri perusahaan rintisan (start-up founders) yang mengembangkan produk mereka di atas produk-produk open-source.

Masalahnya adalah mengapa tidak sedikit mahasiswa, masih enggan menggunakan Linux? Apa susahnya Linux? Anda pun masih dapat mengakses berkas dokumen berbasis Office Anda, tidak sedikit pula games yang didukung (sila tengok platform Steam). Kalau tidak Linux, bolehlah menggunakan macOS—berbasis BSD Darwin.

Pakai Windows pun tidak masalah sepanjang genuine (berkenan membayar lisensinya). Sekalipun menggunakan Windows asli, saya tetap masih menghasung: mesti ada produk open-source yang tersemat di dalam laptop. Saya masih ‘menghasung’, belum ‘mewajibkan’. Naga-naganya akan saya ‘wajibkan’ kelak—insyaallah, wajib menggunakan Linux ketika bersemuka dengan saya (?).

Paling tidak, dengan peramban web apakah Anda membaca tulisan ini? Sayang sekali, rasa-rasanya nyaris tidak salah tebak bahwa Anda sedang meramban dengan peramban yang didukung dari pengembangan open-source. Serius.