Merasuk ke dalam Mosaik Jingga

2 min read

Hari ini, tanggal 29 April 2019 (Masehi), ditandaskan sebagai “Pekan Puisi Nasional” oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Hari ini pula, salah satu senior di Universitas PGRI Semarang, Dr. Asrofah, M.Pd., meluncurkan buku antologi puisi bertajuk Mozaik Jingga.

Mozaik Jingga adalah buku antologi kedua Bu As—demikian sapaan akrab beliau di kampus. Pada hari ini pula, buku ini dikupas oleh dua orang ahli sastra di Semarang. Kumpulan puisi ini merupakan hasil perenungan dan peramuan beliau selama beberapa waktu lamanya. Ada waktu yang tidak sebentar, tentu ada lelah yang berkepanjangan hingga semuanya terkumpul pada sebuah karya.

Dunia sastra adalah dunia yang penuh karya. Selaik dalam dunia seni, siapa pun dapat berkarya apa pun. Dengan niat apa pun dan dengan jalan mana pun. Dampaknya pun dapat bermacam-macam. Namun, dampak dan impak yang baik, terlebih berfaedah, tentu lebih diidamkan oleh lebih banyak kalangan.

Tidak terlalu banyak kata untuk mengapresiasi antologi puisi Bu As. Bu As adalah Bu As, dan karya beliau memiliki kekhasan tersendiri daripada karya yang lain. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa terdapat kecenderungan beliau dalam berkarya, apakah berkiblat pada sastrawan yang satu atau bahkan sastrawan yang lain.

Bisa jadi akan didapati beberapa hal di dalamnya, termasuk keselarasan diksi pada beberapa tempat. Namun, sekali lagi, itulah kekhasan Bu As. Penggunaan bahasa Indonesianya pun sudah sangat melekat pada karya beliau tersebut. Walaupun demikian, terdapat kritikus sastra yang memberi penandasan arahan agar siapa pun penyair lebih memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang ‘semestinya’. Kritik yang membangun agar siapa pun berhati-hati dalam membuat karya.

Barangkali, hal tersebut dapat dimaafkan mengingat (lagi-lagi) barangkali sang sastrawan tidak sengaja salah ketik (saltik, tipo). Kalaupun toh memang disengaja ‘salah’ berbahasa seperti adanya, ya barangkali memang sebuah kesengajaan dan penyair pun memiliki tujuan tertentu yang bukan mustahil tidak dapat ditebak oleh penikmat karyanya.

Faktanya, judul kumpulan puisi Bu As adalah Mozaik Jingga bukan Mosaik Jingga seperti yang tersemat dalam judul tulisan ini. Bagi saya, sejatinya hal ini bukanlah masalah besar, sekali lagi barangkali memang hal ini benar-benar sudah sangat disadari oleh Bu As. Namun, tiada larangan bila memang ingin mengikuti bagaimana ‘semestinya’.

Pedoman kaidah dalam berbahasa Indonesia sudah tersepakati dan diketahui secara meluas. Ups, belum tentu diketahui lantaran belum tentu para penuturnya berkenan untuk membuka atau memeriksanya melalui layanan yang tersedia, salah satunya melalui laman daring resmi KBBI dari Badan Bahasa. Jujur, saya pribadi teramat jarang, atau bahkan belum pernah, mendapati sastrawan besar yang tipo.

Sekali lagi, bagi saya pribadi, hal ini bukanlah kendala yang berarti. Siapa saja dapat melakukan kesalahan. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki dan merevisi agar tidak terlalu menyimpang dari yang ‘semestinya’. Kita tunggu karya-karya berikutnya dari Bu As atau dari sastrawan lainnya. Salam literasi!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.