Bagaimana Menyambut Ramadan

4 min read

Tidak sengaja mendapati beberapa perkataan orang di jalan. Beberapa hari terakhir seakan berat dijalani. Cuaca terik, mudah letih, seperti telah masuk dalam nuansa Ramadan. Demikian mereka membilang.

Belum beberapa ujaran yang menandaskan bahwa Ramadan justru sebagai bulan santapan. Sirup dan aneka kue kering telah dijajakan. Kurma dengan variasi harga sesuai mutunya sudah tampak berlimpah di beberapa toko, bahkan belum tentu toko tersebut sehari-harinya adalah menjual makanan. Berdalih menyediakan kebutuhan kaum muslimin pada bulan ini hingga Lebaran nanti. Seakan fokusnya adalah Ramadan sebagai aktivitas mengonsumsi aneka makanan dan minuman, bukan lebih ditekankan pada aktivitas peribadatan yang lebih utama.

Ada pula sebagian kalangan muda yang melalukan canda sebagai pertanda masuk Ramadan. Canda yang kurang pas menurut saya. Mencandai tiba-tiba sudah Ramadan. Ada juga yang menghitung bahwa Lebaran kurang beberapa hari lagi. Lagi-lagi seolah berat dirasa.

Alhamdulillah, masih banyak saudara-saudari muslim yang senantiasa mengingatkan esensi Ramadan yang sesungguhnya. Ramadan yang mesti diisi dengan pelbagai aktivitas peribadatan yang sesuai Sunnah. Ramadan yang dijadikan sebagai bulan kesempatan tarbiah masing-masing individu untuk jamak menahan diri dari perbuatan duniawi yang sia-sia, menekankan berbagi berlebih bagi sesama. Intinya menyambut Ramadan dengan biasa saja dan bersemangat atas satu bulan kesempatan yang diberikan ke depan.

Apakah Ramadan ini masih dijadikan beban, atau malah dijadikan sebagai ladang kebahagiaan. Hal ini bergantung pada tiap muslim menyikapi. Para Salaf telah mencotohkan banyak hal, betapa kita sangat jauh dari mereka. Kita tidak ada bau-nya. Namun, tiada kata terlambat untuk meneladani mereka.

Betapa para pendahulu kita amat gembira dengan Ramadan, bukan Lebarannya. Betapa mereka telah mempersiapkan banyak hal untuk menunjang peribadatan kala memasuki malam-malamnya. Bukan menyibukkan dengan mempersiapkan stok makanan, tidak disibukkan dengan perkara duniawi. Generasi pendahulu memang selalu lebih baik. Subhaanallah.

Jamak Kelalaian saat Berbuka?
Tiada resources yang menyatakan bahwa generasi pendahulu menyibukkan diri dengan menunggu waktu berbuka. Sekali lagi, bukan menunggu, melainkan mengisi. Waktu-waktu menjelang berbuka merupakan waktu yang tidak kalah banyak faedahnya. Waktu yang dapat kita isi dengan laku peribadatan, bukan dengan berkumpul dengan lainnya di tempat makan untuk buka bersama yang acap melenakan. Jadi, elok tidak seakadar menunggu waktu berputar hingga tiba saat berbuka.

Tidak ada salahnya dengan agenda berbuka bersama. Sekali lagi di sini ditekankan apa yang dilakukan pendahulu kita. Mereka tidak beberat mesti bersama-sama, tidak berberat dengan menu spesial. Tiada salah dengan menu, tetapi mensyaratkan mesti makan enak-enak demikian-demikian, tiada teladan dari mereka.

Belum tentu jamak Salaf berbuka dengan kurma, apalagi berlimpah makanan nan lezat dan nikmat. Kita bersibuk mempersiapkan menu buka, kekenyangan, hingga belum tentu dapat menunaikan salat magrib, isya, dan tarawih tanpa kendala. Sesuatu yang tidak lumrah pada zaman pendahulu kita.

Buka bersama kita acap diisi dengan obrolan-obrolan yang kurang berfaedah, nah hal ini barangkali perlu direduksi sedemikian rupa. Elok diisi dengan zikir-zikir, tilawah Quran, dan doa-doa sebagaimana teladan Salaf. Tepat adanya, salah satu waktu yang diijabah kala Ramadan adalah ketika waktu berbuka. Sayang sekali, tidak jarang kita memperkeruhnya dengan bersenda gurau ketika berbuka, terlalu asyik masyuk menyantap hidangan yang ada, sedangkan waktu magrib mulai menipis habis memasuki isya—wallahul musta’an.

Mengapa Kurang Maksimal kala Sahur?
Berbahagialah Anda yang tidak mengalokasikan televisi di dalam rumah seperti kami. Terlepas dari itu, ternyata masih banyak sebagian masyarakat terbangun kala sahur sembari menonton televisi. Gayung bersambut, pihak stasiun televisi menyajikan pelbagai acara menarik untuk ditonton. Potensi ini terbaca dengan apik oleh mereka. Terlepas dari substansi konten yang disajikan, jamak dari kita malah terlalai dengan hal ini, kita kurang dapat memanfaatkan waktu sahur dengan maksimal.

Teladan salaf benar-benar memanfaatkan waktu sepertiga malam terakhir hingga memasuki waktu sahur untuk beribadah kepada-Nya. Mereka pun tidak berberat menu makan sahur. Makan sahur pun tidak berberat hal mesti enak dan/atau makan di luar. Apalagi, mereka amat mementingkan perhatian-Nya berlebih sebab pada waktu-waktu itu adalah di antara waktu yang mustajab untuk bermunajat kepada-Nya. Plus, ketika belum memasuki waktu subuh, mereka mengakhirkan makan sahur (mepet mendekati memasuki waktu subuh dan tidak berpancang pada penanda imsak).

Jika memang perlu ditandai dengan notifikasi imsak sebagaimana jamak dilakukan masyarakat, kita masih boleh menyantap makanan hingga tuntas sebelum azan subuh dikumandangkan. Hanya saja tidak perlu membatasi diri bahwa imsak adalah pembatas santap sahur kita, tetapi sekadar notifikasi pengingat bahwa sebentar lagi subuh.

Sekali lagi, batas makan sahur kita adalah sebelum azan subuh dikumandangkan, bukan imsak. Namun, harap diperhatikan juga kebiasaan masyarakat setempat yang jamak kurang memperpanjang jeda antara azan dan iqamah subuh sehingga salat sunah fajar yang amat ditandaskan menjadi kurang maksimal bila tidak lekas mempersiapkan diri guna menyambut subuh. Berbijak diri dengan konteks lingkungan setempat, yap. Syukur bila dekat dengan pondok ahlussunnah yang jamak memahami hal ini.

Berpanjang Tidur selama Puasa?
Kebutuhan akan tidur memang adalah sebuah keniscayaan. Syariat telah datang dengan sempurna, ditekankan pula kita agar beristirahat yang cukup. Namun, lebih banyak penandasan dan teladan Salaf bahwa mereka tidak berlebih dalam beristirahat.

Waktu malam Sala dihabiskan untuk beribadah. Waktu siang mereka dimanfaatkan untuk mencari nafkah. Lalu, kapan tidur mereka? Agaknya kita memang teramat jauh dari mereka. Apabila mereka seolah memiliki spirit bahwa istirahat itu di Jannah, lain hal kita dengan pelbagai dalihnya.

Berpanjang tidur acap kali tidak sekadar pascasubuh, tetapi nyaris seharian. Inilah kekeliruan kita. Memang, sungguh memang, tidur pun dinilai ibadaha kala Ramadan. Namun, apabila menyengaja untuk menidurkan diri lantaran ingin menghemat energi yang menipis kala berpuasa, tentu hal ini bernilai lain. Justru ketika kita letih dalam lapar yang teramat sangat, di situlah nilai ibadah sedang dicurahkan kepada kita.

Isi Waktu untuk Selain BerIbadah?
Waktu yang lama ketika berpuasa, nyaris setengah hari penuh, terkadang membuat kita ingin mengisinya dengan kegiatan yang berfaedah. Namun, paradigma antarpersona berlainan perihal ini. Bermanfaat bagi orang yang satu belum memiliki esensi manfaat yang sesungguhnya bagi yang lain. Terlepas dari itu, teladan Salaf kita adalah mengisinya dengan pelbagai aktivitas ibadah.

Apabila aktivitas keduniawian diniati sebagai ibadah, tentu mempertimbangkan sudut pandang syari yang sahih. Kalau mencari maisyah, tentu syari lantaran kewajiban ini memang harus diupayakan dipenuhi oleh pria muslim selaku imam dan kepala rumah tangga. Apabila mengisinya sekadar untuk begini dan begitu, lebih pada keperluan duniawi yang berlebihan, selaik mengobrol, meramban dunia maya, bermain games, atau sekadar seperti tadi: ngabuburit (yang acap bukan diisi dengan kegiatan yang bermaslahat bagi agama diri), elok berikhtiar untuk diminimalisasikan.

Apabila ibadah pribadi telah dipenuhi, perlu ditambah dengan ibadah nan tak kalah penting lainnya, salah satunya adalah menimba ilmu agama di majelis ilmu nan tepercaya. Menuntut ilmu agama adalah diwajibkan bagi setiap muslim. Dengan belajar agama, kita tak hanya tahu ketentuan dan tata cara peribadatan, tetapi juga dapat mengamalkannya dengan baik.

Intinya, berpuasa Ramadan tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Esensinya lebih dari itu. Banyak ibrahnya, banyak saluran kesempatan untuk berbuat baik, baik untuk diri sendiri maupun lebih-lebih untuk orang lain. Siapa yang dapat memanfaatkan Ramadannya dengan maksimal, niscaya ia Diizinkan-Nya untuk bersemuka-Nya dalam keadaan baik. Bukankah Dia hanya dapat dilihat di akhirat kelak hanya bagi para mukminin (orang-orang yang beriman)? Insyaallah.

Sekali lagi, segala substansi konten pada blog ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi khalayak ramai, melainkan awal mula untuk pengingat kami (pengelola blog ini). Bagaimana dengan Ramadan Anda? Berbahagikah Anda selaik para Salaf menyambutnya? Mari berlimpahi Ramadan kita dengan pelbagai rupa ibadah kepada-Nya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.