Kala Tak Bermudah-mudah Sharing

3 min read

Sejak membina mahligai rumah tangga beberap tahun lalu, istri dan saya tidak pernah mengunggah apa pun di media sosial—insyaallah. Bisa jadi sebab atas Izin-Nya dari kebiasaan tahun-tahun sebelumnya yang nyaris tidak ada unggahan privatif di bahtera maya.

Dari kebersamaan hingga beberapa pernik lainnya, apa pun itu, saya bersyukur istri juga tidak memiliki hasrat untuk mempublikasikannya. Tiada anniversary-an, tiada unggahan acara macam-macam untuk menyambut banyak hal, tiada foto-foto aktivitas keseharian yang terpampang, sekalipun sebagai status pada layanan pesan instan WhatsApp. Kami benar-benar free dari distraksi ini.

Secara asali, ketika tidak mengunggah apa pun pada media sosial perihal rumah tangga kami, sekalipun sekadar kesah-kesah sederhana, ada banyak faedah dan impak yang luar biasa baik. Paling tidak, berikut beberapa di antaranya.

Tidak membuat yang lain baper
Salah satu fitrah (sifat dasar) manusia adalah tidak jarang mengomparasikan antara segala apa yang melekat pada diri sendiri dan apa-apa yang terdapat pada orang lain. Ujung-ujungnya jamak akan mengembalikan pada diri sendiri. Hal ini lantaran segala apa yang melekat pada diri lebih dapat dilihat dan dirasa. Oleh karena itu, tidak jarang muncul pembandingan-pembandingan egosentris. “Kok aku enggak begitu, ya?” “Kok aku begini-begini saja?” “Kok bisa sebahagia itu, ya?” Kok, kok, dan kok ini-itu lainnya.

Betapa masih banyak orang yang belum menikah, sedangkan Anda menampakkan unggahan kemesraan di media sosial? Betapa banyak orang masih mencari lowongan pekerjaan, sedangkan Anda mengunggah, “Alhamdulillah, pekerjaan hari ini berat, tapi kelar juga. Yay!”? Ada anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal (single parent) atau bahkan yatim-piatu, dan Anda mengunggah kebersamaan bercengkerama dengan ayah-ibu Anda? Think twice, please!

Kita ‘berbagi’ kabar bahagia belum tentu membahagiakan bagi orang lain. Kita ‘menginformasikan’ sesuatu pun belum tentu dibutuhkan orang lain. Bisa-bisa, sebelumnya orang tidak bebersit hal itu, malah ia kepikiran dan bisa jadi malah membuatnya pusing. “Padahal, kita tidak bermaksud demikian.” Iya, tiada niat apa pun dalam membagikan informasi ‘itu’, tetapi kita tidak pernah tahu siapa yang akan baper atas unggahan kita, bukan?

Tidak memantik serbaneka wicara
Benar dikata bila lebih banyak diam adalah lebih selamat. “Diam adalah emas,” demikian ujaran populer digaungkan. Sejatinya, hal ini pun tidak selalu berlaku demikian, sih, alias bergantung pada konteks. Ada kala berbicara teramat sangat diperlukan bila memang memungkinkan dan ketika diminta untuk berbicara. Walaupun demikian, lebih banyak diam masih sangat lebih mengamankan dan meminimalisasi mudarat yang ada.

Ketika kita diam, tentu tidak perlu ada respons. Mau merespons bagaimana bila tiada hal yang perlu direspons? Lantaran tiada hal yang penting untuk ditanggapi, kecenderungannya adalah hal ini tidak memantik serbaneka obrolan. Tiada orang yang membicarakannya, sekalipun di dalam hati tiap individu. Kita tenang dengan diam, orang lain pun lebih akan disibukkan dengan dunianya masing-masing.

Lebih fokus pada diri sendiri
Ketika tidak ada yang ‘dibagikan’, ketika tidak memancing pelbagai tanya orang, kita pun dapat menjadi lebih fokus pada apa yang melekat pada diri kita. Kita dapat lebih meluangkan waktu untuk berefleksi, menengok khilaf diri, dan memformulasikan perbaikan diri dari waktu ke waktu. Kita percaya bahwa Dia Mengetahuinya, cukup sampai hal ini yang menenangkan kita.

Terus belajar bijak bermedia
Media daring yang ada amat melenakan, ya. Tidak jarang malah menjadi bumerang. Awal mula kita ‘niat’ ingin menginspirasi atau agar orang lain termotivasi, malah menjadi pamer diri dan mengakibatkan hancur diri di kemudian hari. Awal mula ‘diniatkan’ sebagai sharing ‘kebahagiaan’, tetapi malah membuat yang lain bersedih. Awal-awalnya sekadar mengabarkan, eh ternyata kabar tersebut malah mengantarkan seseorang pada air mata.

Coba sila tengok-tengok unggahan-unggahan Anda beberapa waktu lalu, katakanlah sekitar dua tahun lalu. Apakah Anda tersenyum-senyum sendiri dan ingin menghapusnya? Hal ini adalah lumrah adanya sebab kita adalah makhluk yang ‘rutin’ Diizinkan-Nya belajar, berkembang, dan bertumbuh. Selaik proses tumbuh-kembang dari waktu ke waktu, dari masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa.

Selalu ada bunga-bunga kehidupan yang menarik untuk dijadikan pelajaran. Puing-puing masa lampau adalah hal biasa sejatinya, yang dapat dijadikan sebagai bahan refleksi kehidupan berikutnya. Yang ada sekarang adalah menatap terus ke depan sembari senantiasa memohon ampun kepada-Nya. Tiada daya dan upaya melainkan pertolongan dari-Nya yang tidak terkira.

Wise while online, think before posting!
—Slogan #InternetSehat

Betapa tidak sedikit kita masih dapati pada bulan Ramadan ini: posting-an aktivitas beriftar (berbuka puasa), tetapi tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang tinggal di luar sana dengan zona waktu yang beraneka ragam—belum memasuki waktu berbuka puasa. Barangkali mereka masih berpuasa, bahkan bisa jadi berkesulitan untuk mendapatkan menu berbuka, sedangkan mereka mendapati unggahan menu iftar Anda yang teramat lezat itu pada menit-menit yang sama?

Bahkan, Anda pamer dapat beribadah puasa atau ibadah lainnya pun bisa jadi malah menggiring saudara-saudari muslim kita di belahan bumi lain untuk bersedih. Bisa jadi! Hal ini sebab kondisi mereka yang tidak memungkinkan, tidak sama dengan kita!

Mari saling mengingatkan, saling nasihat-menasihati! Mari lebih bijak dan berhati-hati dalam memanfaatkan media daring!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.