Balada Scopus

Cling, ada notif satu pesan masuk ke pesan instan WhatsApp (WA). Pesan dari nomor tidak dikenal. Melampirkan leaflet/poster dengan tema yang sangat tidak asing—lantaran beberapa bulan terakhir acap mendapati. Garis besarnya, si pengirim pesan mempersuasi untuk memeriahkan sebuah seminar, plus “iming-iming” bagi peserta pemakalahnya: bakal peroleh ID dari pengindeks jurnal dan artikel ilmiah global yang amat masyhur. Apa lagi kalau bukan … Scopus? W-O-W!

Campur aduk rasanya. Entah-entah: antara betapa, bagaimana, dan mengapa. Menjadi sok-sedih sebab bisa jadi hal ini pertanda bahwa masih banyak orang yang sangat ingin artikelnya diindeks Scopus. Si pengirim pesan amat memahami marketshare-nya. Menjadi bold perhatian atas iming-imingnya, apakah semudah itu (peroleh ID Scopus hanya dari mengikuti seminar)?

Hal tersebut agak memantik kekhawatiran pribadi. Bisa-bisa artikel ilmiah—yang merupakan hasil penelitian, yang … telah berpayah-payah dieksekusi, muara akhirnya menjadi ‘tumbal’ (kalau tidak boleh dikata ‘tergadaikan dengan murahnya’) oleh a.n. pengindeks ternama Scopus.

Terlepas dari itu, saya bukanlah termasuk kelompok yang ‘tidak peduli’ Scopus. Fine-fine saja, sih. Angkat topi untuk Scopus, tetapi tolong tetap sewajarnya sajalah. Tidak perlu pula membenci pengindeksi lain, juga tidak perlu berlebihan menjunjung tinggi Scopus. Scopus masih memikat, banyak hati terpikat dan tertawan. Namun, sungguh elok bila bukan menjadi cita-cita terdahsyat.

Scopus perlu, perlu ada. Kredibilitasnya dalam mengindeksisasi jurnal ilmiah masih juara. Jurnal-jurnal ‘predator’ tetaplah merugikan, terutama bagi suportivitas dan perkembangan keilmuan duniawi untuk kehidupan yang lebih baik. Indeksiasi Scopus masih menjadi andalan untuk menepis kehadiran jurnal-jurnal predator tersebut, tetapi bukan berarti Scopus mesti didewakan. Kualitas tetap tidak dikesampingkan, tetapi tidak perlu berpancang pada si Scopus. Selaik produk duniawi lainnya, yang dikreasi oleh makhluk yang bernama manusia, Scopus tidaklah kekal sehingga masih dimungkinkan ada cela—yang entah seberapa besar persentase kadarnya.

Sangat lumrah, sih. Sebuah kewajaran ketika sesuatu hal memang tidak 100% sempurna baik. Paling tidak, Scopus memang masih menjadi primadona hingga kini. Si primadona ini pun bisa menjadi hal yang kurang positif, mudaratnya menjadi lebih besar, bila terlalu berlebihan untuk disikapi. Sekali lagi, biasa sajalah.

Saya tidak ingin mengkritik Scopus. Toh apa kapasitas saya untuk mengkritik atau sekadar memberi masukan? Baik Scopus maupun platform pengindeks lainnya (semacam Google Scholar atau Sinta dari Ristekdikti), baik ini maupun itu, sewajarnya sajalah disikapi. Kehadiran beberapa tersebut semestinya tidak dijadikan ‘momok’ sehingga tidak ditemukan lagi cibir-cibiran: sedikit-sedikit Scopus, sedikit-sedikit Sinta, sedikit-sedikit ini-itu. Beberapa platform tersebut sekadar wadah (namanya juga platform) atau ‘penampung’ agar hasil-hasil penelitian yang ada dapat dipertanggungjawabkan dan dinikmati secara meluas. Inilah yang mestinya menjadi tujuan inti dan utama.

Biasanya, beberapa platform tersebut menampilkan performansi author-nya. Kalaupun toh ada emblem portofolio penulis/peneliti yang disitasi orang lain, ini sekadar ‘bonus’. Kalau memang berkualitas, ya tentu bakal dirujuk pihak yang memerlukan—insyaallah. Kalau tidak, tidak perlu ‘memaksakan diri’ agar orang membaca ‘punya’ Anda. Contohlah komunitas open-source di dunia TIK, para pengembang perangkat lunak dengan senang hati berbagi kode (source-code) untuk dapat dilihat orang lain. Tidak peduli ada orang yang menggunakan perangkat lunaknya atau tidak, si pengembang tetap berproses. Bahkan, bukan hanya dapat diketahui publik, siapa pun dapat turut serta berkontribusi untuk mengembangkannya menjadi lebih baik.

Komunitas sumber-terbuka, secara tidak langsung, mengajak umat manusia untuk ‘berkontribusi gratis‘ bagi kemajuan bersama. Konsep open-source ini pun juga berjalin kelindan dengan publikasi jurnal/artikel ilmiah, lo. Selaik yang dialami oleh para pegiat jurnal di Indonesia dewasa ini, jamak artikel dalam jurnal ilmiah diterbitkan dengan memanfaatkan platform OJS—yang bersifat ‘terbuka’. Lantaran terbuka, OJS menggunakan lisensi Creative Commons (CC). Setiap penerbit jurnal yang memanfaatkan OJS wajib mencantumkan lisensi CC. Di DOAJ (bukan ScimagoJR—yang jamak menyaringkan jurnal-jurnal yang terindeks Scopus), artikel-artikel yang tersemat di dalam basis datanya mengimplementasikan lisensi CC. Hal ini dimaksudkan agar setiap konten artikel tersebut dapat tersebar meluas tanpa tedeng aling-aling.

Omong-omong, lisensi CC pun dipakai oleh Wikimedia Foundation guna menyebarluaskan pengetahuan melalui platform Wikipedia mereka. Bukankah Anda masih dengan begitu mudah (secara gratis) mengakses Wikipedia? Kesadaran berlisensi terbuka ini sejatinya bukanlah hal main-main, dalam arti jangan sampai diabaikan; dipandang sambil lalu sebagai khazanah formalitas. Jangan remehkan lisensi CC, artikel Anda di DOAJ atau yang dipublikasikan melalui platform OJS menggunakan lisensi terbuka ini. Memang bukan jaminan, tetapi artikel Anda yang dipublikasikan dengan mengikutsertakan CC bukan tidak menutup kemungkinan akan diindeksi Scopus.

Publikasi ilmiah adalah keniscayaan—ya memang harus dipublikasikan bila memang penting dan berfaedah untuk diketahui masyarakat. Tidak perlu khawatir ketika mendapati ternyata temuan dalam artikel ilmiah pribadi sebelumnya mengandung banyak kesalahan. Kesalahan dapat terjadi pada siapa saja, dalam wujud yang berlainan. Selama tidak plagiat, tidak perlu malu (atau merasa dipermalukan—oleh diri sendiri?)! Prinsip, Anda telah berikhtiar dengan maksimal. Hal ini adalah soal duniawi. Santai, yang penting, masih berkenan mengakui kesalahan yang ada dan berupaya untuk tidak mengulanginya kembali.

Entah Scopus, ResearchGate, atau lainnya, semestinya tidak perlu diambisikan, tidak juga untuk dihindari/ditakuti. Lagi-lagi toh itu-itu hanyalah platform. Selaik hal Anda menggunakan Mendeley-kah, EndNote-kah, atau Zotero-kah; diterbitkan pada jurnal terindeks Scopus atau yang lainnya-kah, ini-ini sekadar alat bantu (tools) dan ‘wadah’ (platform). Mau apa kita dengan semua ini? Cukup ikut saja plot yang ada.

Siapa yang dapat menjamin setelah kehebohan Scopus ini akan ada apa lagi?

Scopus masih jelita sekarang, belum tentu ke depan. Ianya jangan sampai menjadi sebab seseorang menjadi ‘kalap’. Siapa yang mengharuskan? Tidak ada! Terindeks Scopus memang ‘dirasa’ hebat atau setidaknya membanggakan, tetapi tetap biasa sajalah. Tiada yang salah dengan kepemilikan ID Scopus, yang masih menjadi impian banyak orang. Namun, jangan sampai sembrono pula dengan menghalalkan pelbagai cara untuk mendapatkannya. Berhati-hatilah, jangan mudah terbujuk iming-iming yang ‘melenakan’ a.n. Scopus.

Apabila, suatu ketika, artikel Anda sudah terindeks Scopus, tetap diapresiasi: selamat! Alhamdulillah. Tidak dapat dimungkiri hasil-hasil penelitian hebat, luar biasa, dan bermaslahat bagi umat, ‘terlahir’ dari indeksisasi platform yang dikelola oleh Elsevier tersebut. Namun, jangan sampai lalai dan terlena, ianya jangan dijadikan candu. Tetap fokuslah pada jalan yang lurus, tetap berjuang dengan santun dan beretika optimal baik hingga akhir.

Tulis sajalah dahulu artikel buah pikiran atau hasil penelitian Anda dengan baik. Publikasikanlah di tempat-tempat yang tepercaya. Tidak perlu beberat hati memandang wajib di-Scopus-kan—atau malah dipupuskan. Tenang saja, selama masih Diizinkan-Nya bernapas, masih ada ‘asa’.

Melengganglah dan laluilah semua itu dengan ‘pelbagai jalan yang lurus’. Sungguh proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil yang baik pula—insyaallah.

Allahu A’lam. Semangat bermanfaat bagi umat dan semesta!