Kala Duniawi Masih Berasa Indah

Sedih rasanya nyaris pada tiap kesempatan ada orang yang kepo beberapa hal berkait dengan keduniawian, materi, harta, kepemelikan beberapa hal. Baik kepada orang-orang di sebuah forum maupun secara personal bergibah ria, baik tidak sengaja menyimak spik-spik serupa maupun memang disengaja ada bahasan itu, dapat terjadi di mana pun. Saya sungguh sedih. Mengapa masih saja kita mendiskusikan hal-hal duniawi itu, sedangkan majelis ilmu masih acap kita lalaikan?

Teringat beberapa tahun lalu. Kala sebagian orang mencibir sebagian yang lain … berpenampilan sekadarnya, seadanya. Macam-macam pelabelan, yang ‘tidak pantas’-lah, ‘lusuh’-lah, dan seterusnya label negatif. Kepemilikan kendaraan pun tidak luput disorot, entah dilabeli sebagai kendaraan keluaran lama-lah, second-lah, diberkaitkan dengan status-lah, dan seterusnya. Apa salahnya bila orang-orang tampak begitu, mengapa mesti direndahkan? Mengapa hal-hal seperti ini menghampiri telinga saya?

Tidak kalah di tempat lain, sebagian mengetengahkan status, pos, atau update-an perihal yang belajar mengendarai mobil di media sosialnya (padahal milik ayahnya, belum diperincikan perihal apakah teribakan atau tidak), bergabung dengan komunitas kendaraan beroda dua dan empat (padahal anak dan istri kesepian di rumah), yang rutin sepekan sekali bersantap dengan keluarganya di restoran-restoran ternama secara acak, yang berkali-kali ke luar negeri dan tidak lupa mendokumentasikannya pada jejaring sosial berbagi foto/video, serta ‘keanehan’ (menurut saya, sih, aneh) lainnya. Hak-hak mereka, sih, tetapi saya masih dapat bersedih sempat pernah menyimak atau mendapati hal-hal ini.

Refleksi diri adalah kemestian. Dengannya, kita banyak tuai ibrahnya. Yang masih saya pegangi hingga sekarang: semua itu menghampiri saya, baik melalui telinga, mata, atau lainnya, adalah atas Izin Allah, bukan? Selesai. Saya selalu yakin bahwa itu semua Didatangkan-Nya agar kita ‘belajar’. Benar-benar belajar perihal kehidupan yang sangat-sangat nyata ditampakkannya langsung, dihadapkan di depan kita.

Selalu ada ibrah dari-Nya bila kita berkenan sesaat mem-pause diri. Menghentikan sejenak ruang batin dan raga kita dari pelbagai aktivitas duniawi sehingga menjadi rileks dan rehat sejenak sembari merenungi ibrah-ibrahnya. Rasanya beribu yakin beberapa hal di atas pernah menghampiri Anda pula, setidaknya tidak asing bagi Anda. Atau, Anda pernah melakukannya?

Membicarakan kepemilikan duniawi secara berlebihan (terlalu sering, terlalu mudah menjadi topik berlama-lama pewicaraan) adalah petaka. Mengapa hal-hal seperti itu mesti perlu disampaikan dan diketahui orang lain? Apa maslahat dari membicarakan harta orang per orang? Apa faedahnya membanggakan materi yang Anda miliki, duniawi yang barangkali bukan sepenuhnya adalah rezeki Anda sekarang? Bukankah bisa jadi ‘rezeki’ tersebut hanya mampir ‘sebentar’ untuk kemudian berganti kepemilikan kepada yang lain (sebab Anda sudah Diizinkan-Nya pulang)?

Apakah bila bisa menceritakan kelebihan harta orang lain (katakanlah teman/sahabat) membuat Anda berbangga juga? Apakah kemudian banyak orang menjadi kagum dengan apa-apa yang Anda miliki tersebut? Mengapa Anda merasa sangat perlu untuk dikagumi dan dipuji? Mengapa Anda masih haus akan pujian?

Agaknya kita terlalu sering terlupa akan nasihat untuk meletakkan dunia sekadar di tangan, sekadarnya saja. Dunia cukup di tangan dengan asa akhiratlah yang memenuhi hati, bukan sebaliknya. Tidak elok rasanya bila diri disibukkan dengan pernak-pernik keduniaan—bila kalbu terjejali duniawi. Lalu, pada muara ujungnya, begitu mudah hasad, dengki, iri, merasa lebih tinggi dari orang lain, dan sebagainya, datang menghampiri hingga tidak dapat memfilter diri atas itu semua. Sungguh beruntung orang-orang yang tidak tenggelam dan terlenan dalam kubangan duniawi nan fana.

Keterlenaan adalah bencana. Duniawi hanyalah sebentar, Kawan. Sekadarnyalah, sewajarnyalah. Kita tidak akan bertahan lama di sini. Mengharap panjang usia untuk diri sendiri pun, oleh sebagian alim, dikata sebagai berpanjang angan-angan—sesuatu yang sangat dianjurkan untuk dihindari di dalam prinsip kehidupan dari syariat kita.

Saya trenyuh dengan beberapa senior, terutama yang telah tiada, yang pernah memberikan ibrah yang tidak kalah serupa. Salah satu di antaranya pernah menasihati: apabila tidak ingin dipuji, hindarilah memuji. Dalam arti, ketika kita memuji seseorang, hal ini justru membahayakan hati orang itu. Sangat bisa jadi. Betapa ‘jahat’ kita.

Barangkali, kita tidak akan kenapa-napa, tetapi adakah yang dapat menjamin bahwa hati orang yang dipuji itu masih akan tetap bersih ketika dilayangkan pujian kepadanya? Pujian atas apa yang telah dilakukannya (amal perbuatan, ibadah yang telah dijalani) atau bahkan pujian sekadar atas duniawi yang melekat pada dirinya, sama saja, sama-sama mematikan. Selaik kita dihasung untuk merasa cukup (qana’ah) atas eksistensi hal-hal fisik duniawi, kita pun diminta untuk menyederhanakan puji kita seperlunya saja—tidak berlebih.

Dunia, oh dunia. Saya masih tidak habis pikir dengan orang-orang yang lebih mengutamakan keduniawian yang melekat pada diri tiap individu. Beberapa yang melekat pada seseorang seolah menjadi sesuatu yang diinginkan pula untuk diri sendiri. Astagfirullah.

Nyaris saja (masih ‘nyaris’) tidak jarang menjadi lalai dari mana itu semua berdatangan. Ketika mengklaim bahwa apa yang melekat pada dirinya adalah lantaran ikhtiarnya dirinya sendiri selama ini bukankah dapat dikategorikan sebagai rupa kesombongan (sebab lalai atas Kehadiran-Nya)—wallahul musta’aan. Hal ini berkecenderungan pula pada efek negatif lainnya, masih dalam taraf kesombongan, yaitu merendahkan orang lain (sekecil apa pun perendahan itu)—wallahul musta’aan.

Semua yang menjadi milik kita adalah amanah-Nya! Hal inilah yang sangat perlu kita pegang erat-erat. Sekalipun hal itu adalah anak atau orang tua, semua adalah titipan-Nya. Titipan yang dapat dimaknai sebagai kepercayaan yang mesti kita rawat guna lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Apabila Anda menyengaja dengan pelbagai kebanggaan duniawi itu, tunggulah beberapa saat pasti nilai-nilainya akan berkurang beriring waktu berlalu. Minimalnya adalah kadar perhatian Anda akan berkurang. Lalu, mengapa bangga?

Orang-orang, yang barangkali memberi tepuk tangan kepada Anda pada masa awal kesuksesan duniawi Anda, belum tentu mereka masih tetap menjadi pribadi yang sama, yang masih mendukung Anda, kala Anda menjadi berkebalikan, kala Anda berada di tubir titik balik (kehidupan) Anda. Adakah Anda dapat menjaminnya bahwa tiada orang yang berubah?

Insan individu adalah pribadi yang selalu belajar. Terpaan demi terpaan paparan kehidupan menjadikannya lebih baik atau sebaliknya. Menjadikannya melemah, atau bisa juga Dikuatkan-Nya sehingga menghadapi serbaneka ujian-Nya selalu dengan senyuman. Semua bisa terjadi, bisa terjadi membaik, bisa sesuatu yang tidak dinyana-nyana. Ujung-ujungnya, selaik yang sesekali disinggungkan, biasa-biasa sajalah atas semua duniawi ini. Tidak perlu bersitegang, santai sajalah. Tidak perlu berlebihan!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *