Fenomena Siniar

Masih seringkah Anda mendengarkan radio? Seberapa sering? Kapan terakhir Anda menyimak pelbagai siaran dari peranti lawas tersebut? Kalau zaman dahulu, radio menjadi andalan dengaran orang-orang; menjadi salah satu gerbang (gates) untuk memperoleh informasi (informasi yang amat berbatas, teramat penting dan genting). Kekinian, ada alternatifnya, yakni podcast. Omong-omong, sudah ada padanan podcast dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, lo, yaitu ‘siniar’.

Perihal putusan istilah menjadi siniar alih-alih podcast, saya setuju sejak diusulkan salah seorang wikipediawan (siapa lagi kalau bukan Pak Ivan Lanin?) di Wikipedia bahasa Indonesia. Ada jawaban bagus dari salah seorang pengguna Quora Indonesia. Kalaupun disebut sebagai ‘podsiar’ atau ‘siar via pod’ pun, juga tidak masalah.

Sempat ada perbedaan argumen perihal padanan yang pas untuk podcast. Awal mulanya, kosakata siniar digunakan untuk memadankan webcast; dipendekkan dari: ‘siaran web tan alir’. Namun, beriring waktu berlalu, podcast lebih menggejala dan menjadi populer. Hingga muara akhirnya orang lazim dan mencukupkan diri untuk mengakhiri perdebatan sehingga menggunakan istilah siniar sebagai padanan untuk podcast. Teknologi yang digunakan pun, antara webcast dan podcast, tidak jauh berbeda. Manasuka, ya, selama kita masih berkeselarasan pemaknaannya; tidak perlu berpanjang perdebatan.

Saya tidak setuju bila baru digandrungi, he he; sudah lama, kok. Penggemar simakan siniar pun sudah ada bertahun-tahun lamanya dan sangat masif. Selaik pengguna Twitter, tidak sebanyak kuantitas pengguna Facebook/Instagram, tetapi penggunanya masih ada, masih sangat solid.

Terlepas dari aspek historis dan asal-mula peristilahannya, perkembangan layanan yang mewadahi siniar cukup luar biasa. Hal tersebut begitu terasa di Indonesia pada beberapa bulan terakhir ketika Spotify menggejala di Indonesia dan Apple telah memilah layanan Podcast mereka untuk berdikari mandiri di luar Music dan Store (tidak lagi menjadi satu di dalam layanan iTunes). Tidak terlupa SoundCloud, Anchor, atau beberapa layanan serupa lainnya yang lebih dahulu lahir dan memiliki pengguna yang kuat.

Siniar menyederhanakan diri pada layanan audio yang dapat disimak secara langsung (streaming) melalui platform yang menyajikannya. Layanan yang dimaksud tidak berbatas pada web desktop via peramban, ada pula sudah berupa aplikasi native (dapat dipasang di dalam sistem ponsel terkini). Penekanan siniar dicenderungkan pada rekaman audio yang dapat dimainkan manasuka. Tidak menutup kemungkinan untuk disiarkan live, sih, tetapi dominan siniar dijadikan sebagai objek dengaran secara daring dan bersifat dinamis. Kapan pun, konten siniar dapat diulang-ulang suka-suka. Orang dapat dengan bebas memutarnya, berhenti sejenak pada detik-detik ke berapa, bahkan dapat membagikan paruh konten dari dan hingga menit berapa ke layanan lainnya, misalnya menit-menit konten siniar SoundCloud dapat di-share ke stori Instagram. Asyik, bukan?

Layanan siniar pun terus berkembang. Tidak sedikit pihak berperan serta. Barangkali, SoundCloud lebih masyhur bagi sebagian khalayak beberapa tahun sebelumnya; sebelum duopoli Podcast Apple dan podcast Spotify. Kalau Anda cukup mengenal SoundCloud, atau mungkin juga Spreaker, Google pun turut mengambil porsi ceruk serupa. Melalui Google Assistant, Anda dapat menelusur pelbagai siniar yang dapat disimak. Bahkan, Anda dapat secara langsung memutar siniar yang diinginkan, didengar langsung dari aplikasi asistan pintar karya anak perusahaan Alphabet tersebut. Mudah, bukan?

Bagaimana dengan Podcast milik Apple? Aplikasinya tersemat secara standar (default) di dalam iOS (bila sudah diperbarui versi terkini). Saya pribadi tidak meng-uninstall-nya. Hal ini lantara masih begitu mudah mendapati beberapa siniar kajian ilmiah Islam dari beberapa komunitas ahlussunnah di Barat, salah satunya adalah dari Albaseerah. Dapat ditengok beberapa kajian Islam dari asatiza, selaik: Ustaz Abu Muhammad al-Maghribi, Ustaz Abu Khadeejah, dan lain-lain, menghiasi audio-audio yang tersaji. Hati-hati, ya, jangan keliru pilih kajian Islam yang ada.

Spotify, pada dasarnya, bukanlah pendatang baru. Hanya gaungnya baru terasa di Indonesia beberapa tahun terakhir. Di dalam Spotify, Anda akan dengan mudah mendapati beberapa siniar yang tidak kalah berfaedah. Sayangnya, untuk kajian Sunnah, belum cukup banyak selaik di Podcast Apple. Paling tidak, Anda dapat menyimak beberapa siniar para qari yang membacakan surat-surat dari dalam Alquran.

Kajian Islam sahih tepercaya—insyaallah—masih jamak didapati di SoundCloud, ada pula di Spreaker. Sila tengok-tengok! Saya juga masih menggemari TemanMacet dari Pak Ronald Widha.

YouTube pun, ataupun IGTV, rupanya dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian kreator konten untuk turut menyiniarkan konten mereka. Sebagian ada yang menampilkan wajah pengisi topik, sebagian lagi tidak (ditutup dengan citra diam atau bergerak, atau sekadar visualizer)—saya suka yang kedua (tanpa menampilkan tampang para narasumbernya). Beragam topik dibicarakan. Judul video tetap mencantumkan unsur podcast (duh, padanan ‘siniar’ belum lazim, ya?), sembari tidak jarang menampilkan aktivitas para pengisi suaranya—selaik penonton melihat aktivitas penyiar radio di dalam sebuah studio. Ramai!

Hal tersebut bukan tanpa sebab. Beranjak dari … tidak selalu orang dapat menonton tayangan video pendek/panjang di Instagram atau YouTube (sudahlah, menyerah saja, kita akui dua media sosial ini seolah wajib tertanam dalam sistem ponsel cerdas kekinian, setuju?) pada peranti gawai yang tersedia. Betapa orang lebih santai menikmati audio yang diperdengarkan sembari melakukan pelbagai aktivitas lainnya. Sembari menyapu, memasak, bermain dengan putra-putri, mengendarai mobil (tanpa earphone/headphone, tidak berlaku untuk pemotor), dan serbaneka aktivitas lainnya, siniar menjadi andalan para penikmat konten wicara lisan. Pernahkah Anda begitu?

Adakah Anda telah berlangganan beberapa siniar di Podcast Apple dan/atau Spotify? Kanal siniar manakah yang Anda gemari? Boleh sharing, dong. Disilakan!