Mental Revolutif Berbisnis Mahasiswa

Saya senang dengan mata kuliah Kewirausahaan. Alhamdulillah, sempat pernah mengenyamnya ketika kuliah lebih dari satu dekade lalu. Mendapati adik-adik mahasiswa sekarang masih memperoleh mata kuliah ini adalah tidak kalah menggembirakan.

Saya berharap substansi rancangan pembelajaran semester (RPS) mata kuliah tersebut dari dekade sebelumnya ‘mestinya’ banyak berubah—lantaran menyesuaikan kebutuhan tiap generasi yang selalu berubah dan berbeda. Dalam arti, mata kuliah yang jamak diberikan pada akhir jenjang pendidikan strata satu ini sudah di-enrichment atau di-enhancement sehingga sesuai dengan kebutuhan lulusan.

Mental berwirausaha adik-adik mahasiswa memang perlu ditumbuhkan dan dipupuk dengan baik sejak di bangku kuliah. Hal ini sangat berfaedah lantaran membekali mereka guna siap menghadapi dunia kerja yang sangat berbeda dengan dunia perkuliahan mereka. Berwirausaha sejatinya bukan soal jual-belinya semata, lebih pada sikap mental dan aspek nilai filosofis yang mendasari. Terutama nilai-nilai (values), begitu banyak yang perlu ditandaskan.

Entrepreneurship esensi pokoknya adalah sebagai ruh. Dalam arti, walaupun pada prosesnya adik-adik mahasiswa tidak mesti/selalu akan menjadi pedagang atau pengusaha, setidaknya mereka adalah profesional di industri nonkepemerintahan atau pegawai swasta yang memiliki ruhnya. Hal ini dapat dicerminkan dari kebiasaan aktivitas berkeseharian mereka yang tidak kering: inisiatif dalam bertindak, inovatif dan motivatif, mengutamakan teamwork atau collaboration sehingga banyak ‘hal’ bergerak, memiliki jiwa leadership ketika bersama tim/proyek kecil, tidak bossy terhadap sesama, serta banyak hal lainnya—yang jamak melekat pada diri entrepreneur.

Selalu Ada yang Telah Memulai

Hal lain yang patut diabaikan adalah tidak sedikit mahasiswa sekarang yang sudah mulai berdagang, dari kadarnya ‘belajar’ kecil-kecilan hingga berskala besar. Dari skala kecil, sebagian mereka ada yang dapat dijumpai di car free day (CFD) pada hari Ahad, ada yang buka stand memanfaatkan lapak di sebuah event, dan lainnya.

Mereka juga merambah ranah digital. Betapa tidak sedikit dari mereka sudah berproses dalam berbisnis di dunia maya. Tidak sedikit yang memanfaatkan media sosial Instagram dan pesan instan WhatsApp. Sekalipun model bisnis mereka bukan start-up teknologi dengan pendanaan bootstrap, tetapi spirit mereka tidak kalah serupa. Alhamdulillah, banyak produk mereka yang laris-manis. Awal yang baik!

Luar biasa! Dapat dikata pula bahwa mahasiswa ‘belajar’ bisnis daring, ataupun luring/tradisional, tersebut secara otodidak, yang mereka latih/tempa mandiri. Tidak sedikit pula yang mempelajari langkah-langkah berdagang hanya bermodalkan konten-konten edukatif yang didistribusikan di jamak jejaring sosial populer. Tidak sedikit pula yang berawal dari: mulai saja dahulu.

Perlu diriset kebutuhan mahasiswa atas mata kuliah ‘perniagaan’. Kalau mereka sudah terbiasa dengan bisnis, sudah terbiasa dengan konten edukatif bisnis dan investasi dari dunia maya, tentu pembelajaran kewirausahaan di kampus perlu dioptimalkan lagi untuk mendukung proses yang sudah mereka alami/lalui. Ada nilai tambah yang ditawarkan dari mata kuliah softskill tersebut sehingga mereka akan lebih ‘tertantang’ untuk belajar berlebih.

Bekal Serbaneka Nilai

Seperti ibrah dari beberapa kerabat dan teman yang berwiraswasta, ada penandasan nilai-nilai yang tidak kalah elok senantiasa diingatkan kepada pengusaha muda/awal. Mereka tidak letih perlu diingatkan perihal nilai keikhlasan, nilai kesabaran, nilai ketekunan (di dalamnya termasuk kegigihan), dan proses yang terus-menerus (tiada kata henti)—yang sejatinya telah jamak diajarkan di dalam syariat Islam.

Banyak nilai tersebut perlu dibekalkan untuk adik-adik mahasiswa. Benam selalu nilai kesabaran bahwa proses yang dijalani tidaklah instan. Semua butuh waktu. Sembari menjalaninya, akan ada hal-hal yang menuntut keikhlasan berbuat. Banyak hal akan bermuara bahwa entrepreneurship tidak melulu soal profit.

Ada beberapa momen, dan barangkali akan acap berulang, yang mendorong adik-adik untuk lekas berinfak. Pelbagai nasihat ini mengerucut pada bahwa semua proses ini elok diniatkan ibadah kepada-Nya. Hal ini lantaran proses dan hasil yang didapat adalah bukan dari ikhtiar kita sedikit pun, melainkan dari pertolongan-Nya yang tiada henti.

Alih-alih mengedepankan profit, esensi dari berdagang justru pada pengutamaan konsep give & give. Memberi yang tidak selalu berarti pemberian dalam rupa uang, tetapi dapat pula hal lain. Dengan kata lain, ketika sudah memutuskan untuk merintis usaha, selalu diingat bahwa aktivitasnya nanti tidak jauh dari hal-hal berbau ‘sedekah’. Sekali lagi, tentu lebih elok bila diniatkan sebagai ibadah (berinfak di Jalan-Nya). Membantu berlebih, berkorban berlebih, tulus ikhtiar berbuat tanpa batas—insyaallah

Hal tersebut bukan tanpa sebab. Kita pun dapat mengembalikan pada sunatullah dalam hidup kita. Apa-apa yang terjadi adalah Izin-Nya dan atas Kuasa-Nya. Terlebih, Allah Mahaadil. Siapa pun makhluk-Nya yang berbuat baik kepada sesama, terutama membantu dalam rupa-rupa kebaikan, salah satunya adalah ‘memberi’, insyaallah Diganti-Nya. Apalagi bila hal ini diterapkan oleh seorang muslim dengan penuh keikhlasan, nilainya tidak hanya balasan duniawi, tetapi juga menjadi pertimbangan baik untuk menambah bekal di akhirat.

Ada kala orang menyisipi bisnisnya dengan kegiatan beramal. Tidak ada yang salah. Namun, rasanya berbeda bila beramal/berinfak itu memang benar-benar disembunyikan. Saya pribadi lebih mendukung, misalnya, seseorang menjual barang terlebih dahulu, baru kemudian disedekahkan tanpa memberitahukan kepada penjual di awal akad bisnis. Sebagai contoh, penjual melabelkan sesuatu dari informasi jualannya bahwa 100% dari hasil penjualan akan disumbangkan ke tempat ini dan itu—astagfirullah. Penginformasian ini yang dirasa kurang pas.

Sungguh lebih baik pedagang membuka warung makan gratis untuk siapa pun (tiada syarat harus kaya atau miskin), atau pada hari-hari yang random menggratiskan semua menunya untuk semua orang—masyaallah. Tanpa wara-wara, tanpa ‘pengumuman’ (lantaran sudah menjadi kebiasaan). Hal tersebut lantaran hati kita sangatlah lemah.

Rasa bangga dan senang dari proses sedekah (atau ibadah lainnya) pun tidak jarang menggerogoti ketulusan, tipis-tipis menyerempet riya. Memang tidak memamerkan aktivitas memberi dengan vulgar, tetapi hati senang ketika disebut-sebut/dikata-kata atas hal itu adalah sesuatu yang melemahkan. Teladan salaf kita adalah betapa mereka berupaya mati-matian untuk menyembunyikan banyak hal, tidak terkecuali untuk berinfak/bersedekah.

Betapa banyak pengusaha senior masyhur Tanah Air, pada awal karier rintisan usaha mereka, mereka justru keluar berlebih, burning money yang tidak sedikit. Hal ini lantaran mereka sadar bahwa itu semua bagian dari proses yang mesti mereka jalani. Sekali lagi, sudah terlalu banyak teladan perihal ini, terutama dari kalangan pendahulu umat.

Kalau mengikuti perkembangan masa, penanaman hal-hal fundamental memang masih perlu diberikan, tidak terkecuali hal-hal teknis dalam berbisnis, seperti bagaimana menjenamakan (branding) produk, menentukan target pasar (marketshare), teknik pemasaran (apalagi kekinian yang serbadaring), hingga mempelajari bagaimana pelanggan dapat kembali lagi sebab engagement yang kuat (entah perihal minat terhadap produk, dapat pula soal model bisnis yang dijalankan).

Hal-hal tersebut di atas, terutama yang terakhir, justru perlu dipelajari/dilatih/dibiasakan sendiri oleh mahasiswa. Bahkan, tidak menutup kemungkinan berlatih praktik secara langsung, misalnya di perusahaan swasta terdekat. Syukur mereka memperoleh kesempatan magang di perusahaan rintisan (start-up) dewasa ini; dijembatani pihak universitas.

Mengapa mesti start-up? Sebab proses belajar mahasiswa akan lebih challenging, mereka sama berproses bertumbuh bersama start-up tersebut. Banyak nilai bertumbuh, berkembang, dan bertahan (never quit) dari ruh organisasi start-up yang dapat mereka tuai—insyaallah.

Menyelaraskan Diri dengan Masa

Tidak salah lagi, mesti mengikuti perkembangan zaman! Jangan sampai adik-adik mahasiswa tidak pernah mengetahui peristilahan di dunia bisnis start-up, seperti growth-hack, scale-up, metode OKR, seed funding serials dari para pemodal ventura (venture capitals, VCs), hingga bagaimana start-up dapat dikata siap ber-IPO dan exit.

Permasalahan yang akan dikemukakan, biasanya, adalah apakah sesuai dengan kompetisi lulusan jurusan? Saya masih beribu yakin: masih berkorelasi dengan erat dan tidak memandang bidang program studi/jurusan/fakultas. Apalagi, pemerintah juga telah memberi lampu hijau agar calon putra-putri bangsa dapat mengeksplorasi diri secara cross-platform (lintas disiplin ilmu). Dalam arti, satu bidang ilmu tidak memenjarakan mahasiswa untuk berkembang; dengan mengombinasikan antarilmu yang ada.

Ilmu bisnis atau berniaga sejatinya adalah ‘ilmu umum’, salah satu keterampilan dasar berkehidupan, dari para pendahulu kita. Siapa pun dapat berniaga—insyaallah. Hanya saja, perlu ditekankan bahwa metodologi berniaga kita sekarang dengan pendahulu kita tentu berlainan dalam banyak hal.

Impak dari Disrupsi Teknologi

Mau tidak mau tren industri yang mengawinkan antara teknologi dan serbaneka hal di dalam sendi-sendi kehidupan adalah akan jamak menghiasi rona berniaga/berbisnis kita kekinian dan ke depan. Ibarat beberapa tahun terakhir sudah menggejala kanvas model bisnis seperti yang dilakukan Gojek dan kawan-kawannya maka perlu dikreasi bentuk lainnya, yang tidak kalah inovatif. Masih banyak yang belum tersentuh (dan masih dapat dibisniskan). Muara solutif dari beberapa start-up tersebut adalah jamak pada pemecahan permasalahan yang teramat sederhana di sekitar/dekat kita sehari-hari. Masalah sederhana diselesaikan sesederhana mungkin.

Anjuran untuk lebih inovatif adalah keniscayaan. Seperti halnya Ruangguru, apakah para mahasiswa kependidikan akan membuat start-up “serupa”? Tiada yang melarang, tetapi disarankan apabila sudah sangat masif dan keras pertarungan yang ada, elok tidak mengkreasi start-up serupa. Bolehlah sedikit bernilai berbeda.

Kita gali bersama permasalahan lain, yang lebih bervariatif, yang lebih spesifik, dan perlu penawaran solusi yang tidak terlalu kompleks. Kalau tetap membuat start-up sama persis Ruangguru, disilakan, tetapi ceruk pasar serupa tidak hanya sudah dipopulerkan oleh Ruangguru. Perlu diriset kembali sebab telah ada yang lain, yang tidak kalah kece dari mereka, bahkan sudah eksis terlebih dahulu seperti Zenius, yang tidak kalah masif pula seperti HarukaEdu, dan banyak lainnya.

Tidak Wajib Ber-App

Seperti halnya substansi RPS mata kuliah Kewirausahaan yang barangkali perlu ditinjau ulang, mahasiswa perlu dibekali perihal kepekaan berpikir kritis dan inovatif untuk memecahkan masalah mendasar. Teknologi kekinian adalah medium, tidak selalu pemecahan masalah sehari-hari dapat diselesaikan hanya melalui pembuatan aplikasi mobile. Biasanya memang dapat, dan tentu disilakan. Namun, perlu diingat bahwa hal-hal yang sudah terlalu umum menggejala bisa jadi sudah sangat tidak menarik lagi ke depan.

Seperti halnya perkuliahan daring dengan menggunakan peranti video conference atau perangkat lunak populer untuk mengakomodasinya (seperti Zoom, Adobe Connect, Skype, dan sebagainya), hal ini sudah menjadi kebiasaan dan sangat umum, malah bisa jadi sudah dapat dikategorikan sebagai hal yang ‘konvensional’ kekinian. Semestinya sudah dilirik hal lain, yang lebih meningkat dari sekadar pernak-pernik data-science, kekritisan mahasiswa perlu diarahkan agar lebih mendalami algoritma proses teknologinya.

Tidak mengherankan bila AR-VR sudah amat cepat terimplementasi, tentu kita mesti bersiap untuk hal ini pula. Mungkin malah menjadi hal yang tidak tabu lagi seorang anak usia sekolah dasar mendatang dapat merangkai peranti IoT secara mandiri untuk kebutuhannya sendiri. Disrupsi digital amat menggejala di mana-mana tanpa ampun.

Menjadi Sebuah ‘Sebab’: Positive Social Impacts

Mau tidak mau, hal paling pokok dari spirit kewirausahaan ini adalah menjadi sebab pelbagai bermanfaat atau bermaslahat bagi sebanyak-banyak sesama. Hal ini tentu mendorong mahasiswa untuk mengedepankan aspek kepedulian berlebih kepada semua makhluk-Nya.

Salah satu values yang harus mahasiswa pegang teguh adalah niat dan tujuan suci di awal atas usaha yang diinisiasi dengan tujuan final yang lebih mengutamakan hal-hal baik bagi semua (dibarengi dengan peminimalisasian mudarat semaksimal mungkin). Tidak mengherankan jamak founder perusahaan teknologi gemar berbagi nilai-nilai perusahaan mereka lantaran hal ini yang melekat pada diri mereka, dari awal striving hingga pada proses/progress kekinian yang terjadi.

Para pendiri tersebut tidak sungkan-sungkan berbagi hal-hal positif dan motivasi agar orang lain dapat menuai nilai-nilai baik serupa. Secara tidak langsung, justru apa yang mereka lakukan ini menjadi nilai tambah, mereka makin merekatkan engagement dengan semua orang—tidak sekadar untuk mengikat pengguna loyal. Tidak sedikit dari mereka malah menjadi motivator, dan luar biasanya mereka malah humble, tidak merasa bahwa mereka sedang sukses sekarang, tetapi sekadar melalui proses yang mesti dilewati. Top!

Coda

Ajaklah mahasiswa untuk lebih banyak mengenal dunia bisnis rintisan kekinian dan serba-serbi yang menghiasinya. Dorong mereka untuk membaca DailySocial.id, e27, Tech in Asia, Deal Street Asia, Hackernews dari Y Combinator, Techcrunch, dan lain-lainnya—yang jamak mengulas seputar perkembangan bisnis rintisan. Tidak jarang dari mereka mengetengahkan pembahasaan kiat-kiat (tips & tricks) dalam proses pengembangan start-up, terutama ranah teknologi.

Tanamkanlah kepada mereka bahwa entrepreneurial tidak berbatas ‘harus memiliki bisnis’, ‘harus memiliki modal untuk mendirikan dan mengembangkannya’. Padahal, sejatinya adalah menjaga nilai-nilainya saja sudah mencukupi. Selain yang sudah disebutkan, beberapa di antaranya adalah nilai kejujuran dan menjaga kepercayaan dengan maksimal. Dua hal ini yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi setiap orang di pelbagai bidang.

Sekalipun ketika lulus nanti, mahasiswa (atas Izin-Nya) ujung-ujungnya menjadi pegawai, sikap mental entrepreneurship ini masih perlu untuk ditempa. Hal ini dapat melalui banyak cara, salah satunya adalah perihal bagaimana mereka tidak letih membangun inisiatif diri untuk berbuat lebih banyak—guna membantu orang lain (tanpa letih, tanpa pamrih). Bercita-cita menjadi bermanfaat bagi sebanyak-banyak makhluk-Nya dan memberi nilai lebih atas pelbagai hal.

Tuntunlah mahasiswa membaca banyak referensi model-model bisnis kekinian. Jangan sampai kedigdayaan milenial kita sebatas terhenti pada beberapa start-up decacorn yang sudah ada. Estafet masih panjang!